
Jam pulang kantor pun tiba Kanaya merapikan meja kerja nya, begitupun dengan Laura dan Rian. Laura berjalan menghampiri Kanaya di meja kerja nya, sahabat Kanaya itu terlihat menatap Kanaya.
"Nay sorry ya gue gak bisa balik bareng lo gak apa-apa kan? Soalnya gue udah janji mau nganter mami arisan." Ucap Laura.
"Ck, ya gak apa-apa lah Ra lagian gue bisa balik sendiri kok." Balas Kanaya.
"Beneran gak apa-apa? Atau gak lo balik bareng Rian deh gue khawatir sama lo nay." Ucap Laura lagi.
"Apaan si Ra lebay banget, gue beneran gak apa-apa Laura lagian gue bisa balik sendiri." Ucap Kanaya lagi.
"Tapi gue gak apa-apa kok nay kalo lo mau balik bareng gue." Sambung Rian, Kanaya tersenyum manis ia senang memiliki sahabat sebaik Laura dan Rian.
"Gue beneran ko gak apa-apa, lagian kalian berdua itu berlebihan tau gak." Ucap Kanaya.
Saat ketiganya sedang berbincang Jessica berjalan keluar kantor dengan menatap sinis Kanaya, begitupun dengan Karin ia merasa kesal karena Gabriel mulai perhatian kepada Kanaya.
"Cih, kenapa tuh dua ulet keket sinis gitu." Cibir Laura, Kanaya tertawa kecil mendengar perkataan Laura.
"Udah ah gak usah dipikirin, mending kita pulang sekarang." Ucap Kanaya.
"Yaudah lah ayok gue juga udah ditunggu mami dirumah, tar ngamuk lagi kalo gue telat." Ucap Laura.
"Gaya lo mami Ra biasanya juga emak." Cibir Rian.
"Berisik lo nyambung aja," ucap Laura, Kanaya dan Rian pun tertawa kecil.
"Kanaya," panggil seseorang, saat Kanaya keluar dari kantor.
"Loh itu kan pacar nya tuan Gabriel yang waktu itu nyiram si Naya pake jus buah naga." Ucap Rian.
"Nah iya ngapain nenek lampir nemuin Kanaya." Ucap Laura curiga.
"Ngapain lagi kalau bukan cari gara-gara." Ucap Rian.
__ADS_1
"Ya," balas Kanaya.
"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Fira.
"Bicara, apa yang harus kita bicarakan?" Tanya Kanaya.
"Aku mohon kita bicara tapi enggak disini." Ucap Safira, Kanaya pun menatap Laura dan Rian bergantian.
"Kalian pulang aja gak apa-apa kok," Ucap Kanaya.
"Tapi nay," ucap Rian, Kanaya mengangguk dan tersenyum tipis kepada Laura dan Rian.
"Yaudah kita balik ya nay, kabarin gue kalo ada apa-apa." Ucap Laura, Kanaya pun mengangguk menatap kepergian kedua sahabatnya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Kanaya, kini keduanya sudah berada di ruangan VIP sebuah restoran.
"Ini tentang Gabriel," ucap Safira, Kanaya mengernyit heran menatap Fira yang duduk di hadapannya.
"Ada apa lagi dengan Gabriel?" Tanya Kanaya, ia jengah jika harus membahas tentang Fira dan Gabriel.
"Kamu salah bicara ini sama aku, aku gak ada hubungannya dengan itu. Harusnya kamu bisa bicara ini dengan Gabriel dan keluarganya jika itu benar-benar anak Gabriel, bukan bicara denganku!" Ucap Kanaya.
"Nay lo tahu gimana kejam nya keluar Gabriel kan, mereka tidak akan mengakui bayi ini nay demi menyelamatkan pernikahan lo." Ucap Safira, Kanaya menatap Safira dengan intens.
"Bukankah kamu sudah menjalin hubungan dengan Gabriel sebelum dia menikahi aku." Ucap Kanaya, Safira pun mengangguk membenarkan perkataan Kanaya.
"Ya, hubungan kami sangat bahagia sebelum lo hadir di tengah-tengah nya, kami saling mencintai sampai lo mengh*ncurkan semuanya." Ucap Safira.
"Oiya? Bukankah harusnya kamu lebih mengenal Gabriel dan keluarganya dibanding aku." Ucap Kanaya lagi.
"Maksud lo?" Tanya Safira.
Kanaya tersenyum tipis dan menyandarkan tubuhnya di sofa dengan tangan yang melipat di dada, Kanaya menatap Safira dengan tatapan yang sulit di artikan.
__ADS_1
"Tindakan kamu hari ini sangat membuktikan jika kamu tidak mengenal siapa Gabriel dan keluarganya Fira, harusnya kamu tahu jika Gabriel lelaki yang tegas dan bertanggung jawab.
Jika bayi yang berada di kandungan kamu benar-benar anaknya, dan kalian sungguh sudah melakukan itu sudah pasti Gabriel akan bertanggung jawab tanpa harus kamu yang memintanya." Ucap Kanaya.
"Dia gak mau bertanggung jawab karena Daddy dan mami nya memaksa Gabriel buat nikahi lo nay." Ucap Safira kekeh.
"Tapi jika kamu sungguh mengandung anaknya Gabriel akan berjuang untuk menolak pernikahan kami Safira, tidak peduli jika itu akan mengecewakan mami dan Daddy nya dia akan tetap bersama kamu.
Harusnya kamu tahu bagaimana Gabriel melebihi aku tahu bagaimana dia, dia tidak akan bertanggung jawab atas apa yang tidak dia lakukan sekalipun kamu memohon kepadanya." Ucap Kanaya.
"Harusnya lo bisa tinggalin dia nay, dia milik gue lo udah rebut dia dari gue." Ucap Fira yang mulai terpancing emosi.
"Dengan alasan apa aku bisa meninggalkan dia? Aku wanita yang dia nikahi bukankah aku satu-satunya wanita yang beruntung, dari banyaknya wanita yang memohon kepada Gabriel justru akulah yang dia nikahi." Ucap Kanaya, ia sengaja menyombong di hadapan Fira agar wanita itu sadar.
"Gabriel gak cinta sama lo nay, dia nikah sama lo karena om Darren dan tante Freya mengancam akan menghapus Gabriel dari ahli waris utama. Lihat kelakuan mertua kesayangan lo yang begitu kejam kepada putranya, bahkan rela merusak kisah asmara Gabriel." Ucap Fira.
Deg...
Jantung Kanaya berdegup kencang apakah itu benar? Apakah Gabriel menikahi Kanaya hanya karena harta kedua orang tuanya.
Lalu Kanaya menatap Fira, ia teringat kata-kata Gabriel yang mengatakan jika pernikahan mereka terjadi memang karena terpaksa.
Namun dibalik itu hati Gabriel saat ini benar-benar hanya untuk Kanaya, wanita itupun tersenyum ia memiliki alat untuk membalas Fira.
"Ya, awalnya memang kami sama-sama terpaksa Fira. Bukan hanya Gabriel aku juga sama terpaksa menerima semua ini, tapi dengan berjalannya waktu kau tahu apa yang terjadi?" Ucap Kanaya.
"A-apa?" Tanya Fira sedikit gugup.
"Gabriel mulai mencintai ku, aku beruntung karena tuhan meluluhkan hatinya untukku. Dan aku minta jangan pernah mengganggu suamiku lagi, berhenti untuk terus mencoba mendapatkan Gabriel karena itu tidak akan pernah terjadi." Ucap Kanaya membuat Fira naik pitam.
"Kanaya lo," kesal Safira.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi Safira Divanka, sekarang Gabriel memiliki istri jadi jangan pernah rend*hkan diri kamu untuk mengejar suami orang lain." Ucap Kanaya, ia tersenyum lalu pergi meninggalkan Safira.
__ADS_1
"Arrrggghhh, si*l aku kira dia akan mudah di provokasi ternyata tidak. Niat ingin membuat dia marah malah aku yang kesal, Kanaya si*lan!" Teriak Fira di dalam ruangan itu.
"Rasain kamu pikir aku akan mudah kamu hasut, oh tidak bisa Safira aku tahu sebaik apa mertua, ipar dan suamiku. Tidak akan aku berikan kamu kesempatan untuk merusak semua nya, hahaha." Gumam Kanaya penuh kemenangan.