
Pagi yang cerah di sebuah perusahaan dikejutkan dengan kehadiran karyawan baru, Karin berjalan di temani Gio untuk menyapa beberapa karyawan dan hal itu tentu saja menarik perhatian para karyawan kantor.
"Loh itu kan Karin kok dia bisa sama pak Gio?" Ucap Laura.
"Mungkin Karin mengenal pak Gio kali udah ah gak usah ribet." Ucap Kanaya.
"Gue heran sama pola pikir lo yang lempeng tanpa ada belokan nay, apa lo gak ada mikir yang lain gitu atau berpikir negatif? Pikiran Lo tuh positif terus nay." Ucap Laura tak habis pikir.
"Loh terus gue harus ngapain curiga sama kedekatan Karin dan pak Gio?" Ucap Kanaya.
"Ya gak gitu juga lah nay." Kesal Laura, Kanaya hanya mengangkat bahu nya saja.
"Hai nay, hai Ra." Sapa Karin.
"Hai Rin," balas Kanaya.
"Gue gak nyangka kita bisa satu tempat kerja, padahal dulu kalian selalu ada dibawah gue." Ucap Karin.
"Oh inget Rin dunia itu berputar." Ucap Laura pergi meninggalkan Karin menuju meja kerja nya.
"Laura kenapa si sensi amat." Protes Karin.
"Gak tau lagi datang bulan kali." Ucap Kanaya yang ikut meninggalkan Karin.
Karin menatap kesal Kanaya dan Laura yang kini sedang fokus dengan pekerjaan nya, dan saat jam istirahat Karin berjalan menuju ruang kerja Gabriel membuat para karyawan berbisik-bisik.
"Itu karyawan baru kan?" Tanya nya.
"Iya yang tadi sama pak Gio gak si." Balas yang lainnya.
"Waaahh hati-hati tuh main ekspres." Ujar yang lainnya.
Di ruangan Gabriel Karin melihat lelaki yang ia kagumi selama ini sedang berkutat dengan pekerjaannya, dan itu membuat dirinya tersenyum tipis.
"Sibuk banget kaya nya sampai gak sadar aku disini." Ucap Karin, Gabriel mendongak dan tersenyum kepada Karin.
"Mau makan siang?" Tanya Gabriel.
"Tentu saja, jangan sampai aku kelaparan dan malah kamu yang aku makan." Ucap Karin dengan suara yang dibuat manja.
"CK, baiklah ayo." Ajak Gabriel.
Saat keluar dari ruang kerja nya dan berjalan menuju lobby Gabriel berpapasan dengan Kanaya, Laura dan Jessica wanita yang selalu melabel para lelaki tampan.
"Wow gak salah liat gue nay?" Ucap Laura yang selalu heboh.
"Gak usah diliatin Ra takut lo jantungan." Ucap Kanaya sedikit menyinggung Jessica.
"Siapa sih tu cewek berani banget deketin tuan Gabriel." Kesal Jessica.
"Ibu mau tanya itu siapa Bu?" Ucap Laura, yang membuat Jessica menoleh.
__ADS_1
"Kamu tahu dia siapa?" Tanya Jessica.
"Tentu saja tahu." Ucap Laura sombong.
"Tumben si Laura akur sama mak lampir." Ucap Rian kepada Kanaya.
"Gak tau aja lo kalau dia mau jual sebuah informasi." Ucap Kanaya, Rian menganga mendengar perkataan Kanaya.
"Informasi apa?" Tanya Rian.
"Lo dengerin aja si males gue jelasinnya." Ucap Kanaya.
"CK, pelit lo." Ucap Rian, namun Kanaya hanya diam saja tak bergeming.
"Siapa?" Tanya Jessica.
"Dia itu Karin karyawan baru di kantor bu dan ibu tau dia di perlakukan layaknya tuan putri oleh pak Gio." Ucap Laura memanas-manasi Jessica.
"Apa?" Pekik Laura.
"Iya bu kalau ibu tidak percaya tanya saja kepada yang lainnya, tadi saja dia di antar untuk menyapa kami semua oleh pak Gio." Ucap Laura lagi.
"Si*l berani-beraninya dia bertingkah padahal masih jadi karyawan baru." Geram Jessica.
"Kasi pelajaran aja si bu gak apa-apa saya mah ikhlas bu, (lagian bukan gue atau Kanaya yang nanti kena amukan bu Jessica jadi aman lah ya, rasain lo Karin siapa suruh sombong. batin Laura)" Laura begitu menikmati wajah kesal Jesika.
"Benar di perusahaan ini tidak ada yang berani bersaing dengan saya, dan dia tiba-tiba muncul dengan enteng nya menggandeng tangan tuan Gabriel." Ucap Jessica penuh emosi.
"Heh kamu mau kemana?" Ucap Jessica.
"Mau ke kantin lah bu saya lapar." Ucap Laura.
"Cih, yasudah sana." Usir Jessica.
....
"Daddy dan mami sudah tidak bisa menunggu lagi Gabriel, sepertinya juga kesabaran kami sudah habis untuk menunggu keputusan dari kamu." Ucap Darren tegas dengan tatapan mata yang nyalang.
"Maksud Daddy?" Tanya Gabriel.
"Satu minggu lagi tiba dan saat itu kamu sudah tidak bisa bermain-main lagi dengan Daddy dan mami, satu lagi jangan macem-macem atau kamu akan menyesal nantinya!" Ucap Darren.
"Gak bisa gitu dong dad yang menjalankan nanti itu aku bukan Daddy ataupun mami, kenapa kalian mengambil keputusan ini begitu cepat." Ucap Gabriel.
"Kamu sudah cukup sabar menunggu keputusan dari kamu, tapi apa yang kamu berikan? Kamu seakan mengejek Daddy dengan kelakuan kamu!" Ucap Darren, membuat Gabriel terdiam.
"Mam." Lirih Gabriel.
"Jujur mami kecewa nak, tapi apa yang bisa kami lakukan? Kamu itu putra kami dan tentunya kami ingin yang terbaik untuk kamu." Jelas Freya.
"Oke, jika itu keinginan Daddy dan mami oke aku akan mengikutinya. Tapi bagaimana dengan grandpa dan bunda apakah mereka setuju dengan keputusan kalian?" Tanya Gabriel, menggunakan Ellen, Alex, Jeff (papa Darren), dan Jasmin (mama Darren), sebagai ancaman terakhir untuk kedua orang tuanya.
__ADS_1
"CK, kau tenang saja kedua grandpa dan buna kamu sudah setuju dengan keputusan mami dan Daddy." Ucap Darren, membuat Gabriel menganga.
"Really?" Tanya Gabriel tak percaya.
"Haha, kau pikir mereka mau memiliki anggota keluarga seperti Fira?" Ucap Darren.
"Waaaah daebak, Daddy dan mami sudah bertindak sejauh ini?" Ucap Gabriel.
"Ya tentu saja kami akan selalu maju satu langkah dari kamu." Ucap Darren meledek wajah kesal Gabriel.
"Kalian semua mengkhianati aku." Ucap Gabriel pasrah, lelaki itu menyandarkan tubuhnya di sofa.
Freya tersenyum melihat wajah merajuk dari sang putra, sungguh Freya sangat merindukan Gabriel kecil yang suka merajuk.
"Apa kau sedang merajuk sekarang?" Ledek Darren.
"Cih, tidak ada gunanya aku merajuk toh Daddy dan mami akan tetap teguh pada keputusan kalian." Ucap Gabriel.
"Syukurlah jika kamu mengerti." Balas Darren, wahh sungguh saat ini Gabriel ingin sekali marah namun ia tak bisa karena Darren dan Freya adalah orang yang sangat disayangi dan di hormati oleh dirinya.
"Daddy terlihat begitu bahagia saat putranya merasa menderita." Ucap Gabriel.
"Benarkah kau menderita?" Tanya Darren, Freya hanya bisa memperhatikan perdebatan Gabriel dan Darren.
"Ya." Balas Gabriel.
"Orang menderita seperti apa yang tinggal di rumah mewah, memiliki apartemen mewah, memiliki perusahaan besar, koleksi mobil dan motor sport, tak lupa juga suka berfoya-foya dan membelikan hadiah-hadiah mahal pada kekasihnya bahkan terkesan diluar nalar orang waras?" Ucap Darren, yang berhasil membuat putranya menganga.
"Ya ampun dad." Lirih Gabriel tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Daddy nya.
"Apa?" Tanya Darren.
"Aku kalah dan aku mengalah, terserah kalian saja semuanya atur sesuka hati kalian." Ucap Gabriel, bangkit dan pergi dari hadapan kedua orang tuanya ia menyerah berdebat dengan sang Daddy yang tak pernah kalah.
Sementara itu Darren dan Freya tertawa kecil melihat kepergian putra mereka, sungguh Darren tidak peduli berapa banyak uang yang dihabiskan oleh putranya untuk berfoya-foya dengan wanita.
Namun dibalik itu Darren tetaplah Darren, dia seorang Daddy yang harus melindungi putra putrinya dari orang-orang licik yang ingin memanfaatkan kebaikan anak-anaknya. Jujur saja Darren merasa sedih saat Gabriel yang baik hati kepada Fira justru malah di manfaatkan, andai Fira tidak licik dan memanfaatkan Gabriel mungkin Darren dan Freya bisa berpikir ulang untuk menerima wanita itu.
.
.
.
.
.
.
Happy reading 🤗😉 kasi like komen dan vote ya biar othor semangat terus update nya 😉
__ADS_1