
Malam hari Gabriel tak berhenti memeluk tubuh Kanaya, ia bahkan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri. Bukan apa-apa Gabriel benar-benar merasa bahagia saat Kanaya tidak marah setelah Safira mencoba untuk memprovokasi istrinya, Kanaya justru bersikap biasa-biasa saja seakan tidak ada yang terjadi.
"Kamu kenapa si manja banget tumben." Ucap Kanaya, ia mengusap tangan Gabriel dengan lembut.
"Aku takut," lirih Gabriel, Kanaya mengernyit heran mendengar perkataan Gabriel.
"Kamu takut kenapa? Bukankah selama ini tidak ada yang kamu takuti hmmm." Balas Kanaya.
"Honey aku memang tidak takut dengan apapun, diluar aku takut terhadap nya tidak ada yang aku takuti. Tapi kini aku memiliki ketakutan tersendiri." Lirihnya, Kanaya diam ia bingung sebenarnya apa yang ditakuti oleh Gabriel.
"Oke, sebenarnya apa yang kamu takuti?" Tanya Kanaya, Gabriel pun melepaskan pelukannya ia menatap Kanaya.
"Hal yang aku takuti saat ini itu aku takut kalau kamu marah dan pergi ninggalin aku, nay selama ini aku tidak pernah jatuh cinta dan merasa nyaman sampai sedalam ini." Ucap Gabriel.
"Benarkah?" Tanya Kanaya dengan mata berbinar, Gabriel mengangguk dan mengec*p kening sang istri.
"Tentu saja, hari ini kau berhasil membuat duniaku jungkir balik." Ucap Gabriel, Kanaya tertawa kecil lalu mengec*p pipi Gabriel hal itu membuat Gabriel salah tingkah.
Bukan apa-apa, pasalnya selama ini Kanaya tak pernah mengec*p Gabriel lebih dulu. Selalu Gabriel yang melakukan nya lebih dulu, sementara Kanaya hanya mengucapkan rasa terimakasih nya saja.
"Kenapa?" Tanya Kanaya saat melihat tatapan sendu sang suami.
"Aku menginginkanmu," bisik Gabriel, berhasil membuat bulu kuduk Kanaya berdiri.
Bahkan Kanaya kesulitan untuk menelan saliva nya sendiri, ia berpikir apakah ini waktu yang tepat untuk melakukan nya? Tapi Kanaya juga merasa itu sudah menjadi kewajiban dirinya, ia juga takut berdosa jika menolak Gabriel terus menerus.
"Lakukan," jawab Kanaya malu-malu.
"Really?" Tanya Gabriel, Kanaya mengangguk kini wajah wanita itu sudah merah seperti tomat.
Dengan hati-hati Gabriel memulainya tak lupa juga ia membaca doa sebelum menerjang sang istri, Gabriel melakukan dengan hati-hati ia tahu ini yang pertama kali untuk Kanaya dan dirinya.
"Aku akan melakukannya dengan lembut." Ucap Gabriel, Kanaya hanya mengangguk mengiyakan perkataan Gabriel.
"Ashhh sak-it," desis Kanaya.
"Apakah kita sudahi saja?" Tanya Gabriel, Kanaya menatap sorot mata Gabriel yang sudah di penuhi oleh kabut ga*r*h.
"Lanjutkan saja tidak apa-apa aku bisa menahannya." Ucap Kanaya, Gabriel pun mengangguk dan melanjutkan kegiatan nya.
"Suara apa tuh?" Tanya Alice yang duduk bersama Adisty dan Gio.
"Suara apaan si kak orang gak ada suara apa-apa kok." Ucap Adisty.
"G-gabriel **hh," des*h Kanaya.
Mata Gio melotot sempurna ia tahu itu suara apa begitupun dengan Alice, kedua orang itu menatap Adisty yang sedang sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
Saat ini mereka duduk di sofa depan kamar Gabriel dan Kanaya, Alice sedikit berpikir bukankah kamar Gabriel kedap suara? Lalu kenapa bisa terdengar sampai keluar, Alice pun berjalan mendekati pintu dan menganga.
"Kenapa lice?" Tanya Gio.
"Honey-**hh," Erang Gabriel, Alice semakin dibuat g*la dengan itu.
Tanpa menunggu lama Gio langsung menarik handle pintu kamar Gabriel agar tertutup rapat, karena tadi pintu kamar itu sedikit terbuka.
"Aman lice," ucap Gio, sementara Adisty terkejut melihat Alice dan Gio mematung tepat di depan pintu kamar Gabriel.
"Kalian ngapain?" Tanya Adisty.
"Ngukur tinggi badan disty," jawab Gio ngasal.
"H-hah," sahut Adisty tak percaya.
Sementara itu di dalam kamar Kanaya dan Gabriel masih saja beradu kekuatan hingga keduanya benar-benar ambruk dan tak memiliki tenaga lagi, Kanaya memejamkan matanya ia tak percaya jika Gabriel benar-benar kuat.
"Thank you honey," ucap Gabriel mengecup kening Kanaya dengan lembut.
"Eumm," balas Kanaya, ia langsung memejamkan matanya dan tak butuh waktu lama untuk dirinya masuk ke alam mimpi.
...
Pagi hari Kanaya masih bergelut dengan selimut nya begitupun dengan Gabriel, sampai alarm membuat Kanaya terpaksa membuka matanya.
"Pelan-pelan nay ayo kamu bisa," lirihnya menyemangati diri sendiri.
Setelah setengah jam membersihkan tubuhnya Kanaya pun keluar dari kamar mandi, ia langsung melaksanakan kewajiban nya setelah itu memakai pakaian kerja nya.
"Gabriel bangun," ucap Kanaya mengelus pipi Gabriel.
"Emmmhh, lima menit lagi honey." Lenguh Gabriel.
"Gak bisa nanti keburu habis waktunya Gabriel bangun gak," ucap Kanaya, akhirnya Gabriel pun membuka matanya dan tersenyum manis.
"Morning honey bunny sweetie," ucap nya, Kanaya terkekeh mendengar perkataan Gabriel.
"Gak usah lebay deh geli tau, buruan mandi." Ucap Kanaya.
"Ck, iya-iya suaminya romantis kok geli." Cibir Gabriel.
"Kamu gak cocok kaya gitu buruan bangun terus mandi." Ucap Kanaya, Gabriel pun duduk bersandar sampai matanya menangkap sesuatu yang membuatnya kembali tersenyum.
Saat Gabriel menarik selimut untuk menutupi bagian tubuhnya ia melihat bercak d*r*h di seprai bahkan mengenai selimut yang ia kenakan, ia menatap Kanaya yang sedang memoles wajah nya.
Gabriel buru-buru turun dan mengecup pipi Kanaya dengan gemas, namun sebelum sang istri berteriak ia sudah menghilang dibalik pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Ah ya ampun untuk suamiku," ucap Kanaya mengelus dadanya.
Kanaya bangkit dan langsung berjalan menuju ruang ganti pakaian untuk menyiapkan perlengkapan sang suami, setelah itu Kanaya berniat merapikan tempat tidur namun ia tercengang melihat apa yang tadi dilihat oleh Gabriel.
"Ternyata kamu yang mendapatkan nya," gumam Kanaya dengan tersenyum malu, ia buru-buru mengganti seprai dan merapikan tempat tidur nya kembali.
"Selamat pagi semuanya," sapa Gabriel dengan wajah yang terlihat bahagia.
"Cerah banget tu wajah mengalahkan cerah nya lampu phil*ps." Ucap Adisty.
"Ih jomblo sirik aja si," ucap Gabriel.
"Dih apaan si siapa yang sirik, gak ya aku gak sirik sama sekali." Ucap Adisty.
"Iya deh, oiya dek udah kakak transfer ya." Ucap Gabriel, wajah Adisty pun langsung sumringah.
"Aku kan belum minta," ucap Adisty.
"Gak usah nunggu minta lah, biasanya juga kalo kakak ngasi apa-apa kan tanpa kamu minta." Ucap Gabriel, Adisty tersenyum dan menatap Kanaya yang juga tersenyum.
"Kak," Panggil Adisty kepada Kanaya.
"Hmmm," sahut Kanaya.
"Kakak gak marah?" Tanya Adisty.
"Marah kenapa?" Tanya Kanaya bingung.
"Ya gak apa-apa si takutnya kakak gak suka kalau-" ucapan Adisty langsung terhenti saat Kanaya bersuara.
"Kakak gak ada hak untuk marah, kamu juga adik kakak dan kita udah sering bahas ini." Ucap Kanaya, Adisty mengangguk dan tersenyum manis.
"Makasih kak," ucap Adisty, Kanaya tersenyum tipis.
Sebelum pergi ke kantor Gabriel menarik tangan Kanaya dan menatap nya, Kanaya yang ditatap seperti itupun merasa heran.
"Ini," ucap Gabriel memberikan beberapa kartu kepada Kanaya.
"Ini apa?" Tanya nya.
"Ini untuk kamu honey," balas Gabriel, Kanaya menatap kartu-kartu itu bahkan matanya terbelalak saat melihat sebuah black card disalah satu kartu-kartu itu.
"T-tapi bagaimana dengan kamu?" Tanya Kanaya.
"Aku juga memiliki nya itu milik kamu pribadi," ucap Gabriel, tak hanya itu ia juga menunjukkan kartu-kartu miliknya.
Kanaya tersenyum dan memeluk Gabriel, ahhh senangnya menjadi istri seorang Gabriel Dirgantara. Pantas saja Fira melakukan berbagai cara untuk mendapatkan Gabriel, ternyata ini yang membuat Safira panas dingin ditinggal oleh Gabriel, hahahaa.
__ADS_1