Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam
Epson 165


__ADS_3

Satu minggu berlalu di kediaman Meisya terlihat seorang pelayan wanita berlari menghampiri tuan dan nyonya nya dengan tergopoh-gopoh, Meisya dan Leo yang melihat itu pun merasa keheranan.


"Mbak ada apa kenapa kamu terlihat panik begitu?" Tanya Meisya.


"Anu nyonya ini sa-saya menemukan ini di kamar non Cindy saat saya sedang merapikan kamar nya." Ucap mbak, menyerahkan benda kecil berbentuk stik tersebut.


Dengan wajah bingung Meisya pun menerima nya, dan sepersekian detik iapun terbelalak melihat apa yang diberikan oleh pelayan di rumah nya adalah sebuah tes pack.


"Apa-apaan ini, dimana kamu menemukan ini mbak?" Tanya Meisya.


"Anu nyonya di kamar mandi non Cindy." Jawab nya jujur.


"Ada apa si mam, apa yang kamu lihat?" Tanya Leo.


Dengan wajah penuh emosi Meisya memberikan benda kecil itu kepada suaminya, tentu saja Leo sama terkejutnya dengan sang istri.


"Kita jangan terbawa emosi dulu mam, kita tanyakan dulu siapa tahu ini milik temannya Cindy." Ucap Leo masih mencoba tenang.


"Jika memang itu milik temannya lalu kenapa ada di kamar mandi milik Cindy pi?" Ucap Meisya.


"Ya mungkin saja saat teman Cindy menginap disini dan ini tertinggal, atau sengaja ditinggalkan." Ucap Leo.


"Gak mungkin, Cindy tidak pernah membawa temannya menginap di rumah berbeda dengan Alice dan Adisty." Kesal Meisya.


"Mbak dimana Cindy?" Tanya Leo.


"Non Cindy belum pulang sejak kemarin tuan." Jawab nya, Meisya pun semakin emosi dengan kelakuan putrinya.


"Apa? Pi apakah kamu tidak pernah menegur putrimu?" Ucap Meisya kesal.


"Mam Cindy itu tanggung jawab kamu, harusnya kamu sebagai ibunya yang memperhatikan dia." Ucap Leo tak terima di salahkan.


"Apa kamu bilang? Asal kamu tahu ya pi anak kamu itu tidak pernah mendengar perkataan ku, karena apa? Karena kamu selalu membelanya saat aku memberikan pelajaran atas perbuatannya, dan sekarang kamu mau menyalahkan aku?" Ucap Meisya.


"Tidak begitu, aku tidak membelanya mam aku hanya tidak tega jika kamu terus memarahinya." Ucap Leo.


"Benarkah? Lalu jika tes pack itu benar milik Cindy apa yang akan kamu lakukan? Memeluk nya, menenangkan nya, atau mengatakan semua akan baik-baik saja begitu?" Ucap Meisya.


"Aku tidak tahu apa yang aku lakukan kepadanya." Lirih Leo, ia merasa takut jika itu memang milik putrinya.

__ADS_1


"Bagus kamu sendiri bahkan tidak tahu apa yang akan kamu lakukan, tapi kamu selalu membela putrimu. Apa yang akan kamu katakan kepada Daddy dan mamaku? Bagaimana kamu menjelaskan semuanya kepada mami dan papi mu Leo Nathan." Ucap Meisya, Leo bungkam dia sendiri bingung bagaimana menghadapi para orang tua nanti.


"Tidak bisakah kamu diam, sebaiknya kamu hubungi Cindy dan para keluar!" Ucap Leo.


"Kamu saja yang menghubungi mereka, aku bahkan sudah tidak memiliki muka untuk menghubungi mereka akibat kelakuan putrimu yang selalu merendahkan Kanaya." Ucap Meisya.


Leo diam, memang benar Leo dan Darren bahkan tak sedekat dulu semenjak Kanaya dan Gabriel menikah tentu saja karena Cindy yang selalu menyudutkan Freya.


Leo tahu Darren menjaga jarak dengan nya karena takut jika dirinya akan lepas kendali dan malah memarahi Cindy karena terus menyalahkan istri tercinta nya, padahal Gabriel sendiri sudah mulai jatuh cinta kepada Kanaya bahkan Gabriel begitu bahagia berhasil membuat Kanaya hamil mengandung anak nya.


Dan karena itu juga Cindy semakin menjadi menyudutkan Kanaya dan Freya, bahkan tak jarang juga Cindy berusaha membuat Kanaya terluka namun Freya dan keluarga nya masih membiarkan hal itu selagi Kanaya dan anak yang di kandung nya baik-baik saja.


Padahal Gabriel sendiri sudah merasa geram dengan kelakuan Cindy tak hanya Gabriel, Adisty, Alice, Laura dan Ellen juga merasa kelakuan Cindy sudah melewati batas.


...


"Ada apa mam siapa yang menelpon?" Tanya Alice kepada Ellen yang baru saja selesai berbicara dengan seorang di telpon.


"Kak Leo sayang yang menelpon," jawab Ellen.


"Ada apa tumben kakak ipar menelpon, biasanya juga kak Mei yang menghubungi mami." Jawab Alice.


"Apakah Cindy membuat ulah lagi sampai Leo menghubungi kamu sayang?" Kali ini bukan Alice yang berbicara, melainkan Alex.


"Entahlah honey, cucu mu yang satu itu memang sulit sekali di tebak." Ucap Ellen.


"Bukan sulit di tebak mam, tapi cucu mami dan daddy yang satu itu suka sekali membuat huru-hara." Ceplos Alice yang sudah begitu muak dengan tingkah Cindy.


"Ssstt, sayang kamu tidak boleh begitu nak. Bagaimanapun juga Cindy itu keponakan kamu Alice, kamu jangan seperti itu kamu harus adil kepada para keponakan kamu." Ucap Ellen.


"Apa yang dikatakan oleh Alice benar sayang, Leo juga terlalu memanjakan Cindy mangkanya dia selalu bertingkah sesuka hatinya." Ucap Alex.


Dan di kediaman Freya terlihat Kanaya berjalan mendekati ibu mertuanya, Kanaya duduk di samping Freya.


"Mami kenapa kok melamun?" Tanya Kanaya, tak hanya Kanaya Adisty pun sama ikut duduk di samping sang mami.


"Tante Meisya meminta kita semua untuk pergi ke rumah nya sayang." Jawab Freya.


"Lalu kenapa mami malah melamun? Apakah ada yang menggangu pikiran mami?" Tanya Kanaya.

__ADS_1


"Dia meminta kamu dan Gabriel juga untuk kesana, tapi mami takut jika nanti Cindy akan melakukan sesuatu lagi kepada kamu." Ucap Freya, Kanaya tersenyum mendengar kekhawatiran Freya.


"Mami jangan khawatir Cindy tidak akan bisa melukai aku." Ucap Kanaya, Freya menatap Kanaya dengan lembut dan penuh sayang.


"Nay_" ucapan Freya terhenti saat Kanaya menggenggam kedua tangan nya.


"Cindy tidak akan bisa melukai aku karena ada mami, Daddy, Gabriel, Adisty, Alice, buna dan ayah yang akan selalu melindungi aku dan bayi ini bukan." Ucap Kanaya mengelus perutnya.


Freya tersenyum manis kepada Kanaya dan mengusap lembut wajah cantik menantunya, ia tak habis pikir dengan Kanaya yang polos dan baik hati.


"Tentu saja mami tidak akan membiarkan siapapun menyentuh kamu." Ucap Freya.


"Aku percaya mami akan melakukan apapun untukku, buktinya saat aku meminta untuk membeli jagung bakar di puncak Bogor mami tidak marah dan membiarkan mereka menemani aku untuk memenuhi keinginan ku." Ucap Kanaya, Freya dan Adisty tertawa mengingat kekonyolan Kanaya pada saat itu


"Apapun untuk kamu kak, tapi untuk Cindy tetap saja kami khawatir." Ucap Adisty.


"Kan ada kamu yang selalu menjadi garda terdepan untuk aku dist." Ucap Kanaya.


"Haha benar juga, yasudah kita pergi sekarang mami sudah menghubungi kakak dan daddy?" Ucap Adisty.


"Emmm, mereka sudah dalam perjalanan menuju kerumah aunty Mei sayang." Ucap Freya.


"Baiklah kalau begitu kita bersiap dan menyusul kesana saja." Ucap Adisty, Freya dan Kanaya pun mengangguk setuju.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2