
Satu Bulan Berlalu...
Hari ini Kanaya terlihat sedang mengerjakan pekerjaan nya namun tiba-tiba saja Kanaya merasa perutnya mual seperti di aduk-aduk, tanpa menunggu lama Kanaya berlari ke toilet untuk memuntahkan isi perutnya.
"Nay lo kemana heh nay," pekik Laura wanita itu mengejar Kanaya.
"Hoeek-hoeek," Kanaya terus saja berusaha mengeluarkan isi perutnya, namun yang keluar hanya caira bening.
"Nay lo gak apa-apa?" Tanya Laura.
"Gak kok gue gak apa-apa Ra paling cuma masuk angin doang." Ucap Kanaya.
"Lo yakin nay, kalo lo gak fit gak apa-apa kok lo pulang aja nanti gue ijinin ke pak Gio." Ucap Laura.
"Gak gue gak apa-apa Ra," ucap Kanaya, ia pun membersihkan bibirnya dan merapikan kembali penampilan nya.
Saat jam makan siang di kantin riuh para karyawan membicarakan Kanaya, Kanaya sendiri hanya bisa diam karena tubuhnya yang terasa lemas bahkan rasa mual kembali ia rasakan ketika melihat makanan yang terhidang di hadapan nya.
"Liat tuh gue yakin si dia ada something," ucap Karin memprovokasi para karyawan.
"Tapi apa iya Kanaya seperti itu, yang kita tahu dia itu orang yang baik dan tidak neko-neko anaknya." Ucap yang lainnya.
"Halah semua itu bisa berubah apalagi dia lagi butuh duit kan kata Bu jess ayahnya Kanaya sakit-sakitan, udah pasti dia akan melakukan apa saja untuk pengobatan ayah nya." Ucap Karin, membuat beberapa orang percaya dengan perkataan Karin.
"Nay lo nangis?" Tanya Laura panik, Kanaya menggelengkan kepalanya.
Jujur saja menahan rasa mual membuat air matanya mengalir tanpa dikomando, Kanaya mengusap air matanya lagi.
"Ra kayaknya gue balik aja kali ya beneran gue gak tahan Ra." Ucap Kanaya, ia menutup hidung nya.
"Iya yaudah yuk kita balik ke kantor aja gimana?" Ucap Laura, Kanaya pun mengangguk dan berjalan dengan digandeng oleh Laura.
"Kenapa nih si udik jangan-jangan yang dibilang sama Karin bener lagi." Ucap Jessica.
"Ibu apa-apaan si bu suka banget cari gara-gara sama Kanaya, hati-hati bu nanti nyesel!" Ucap Laura.
"Cih ngapain nyesel, gak ada nyesel-nyesel karena si udik ini." Ucap Jessica dengan sombongnya.
"Kanaya kenapa?" Tanya Gio yang tak sengaja berpapasan dengan Laura dan Kanaya.
__ADS_1
"Kanaya sakit pak dia ijin pulang lebih dulu ya pak, saya gak tega dari tadi Naya muntah-muntah." Ucap Laura.
"Alah alasan itu pak palingan juga mau kerja sampingan." Ucap Jessica.
"Kerja sampingan? Maksud kamu apa Jessica?" Tanya Gio.
"Apalagi kalau bukan open b*." Celetuk Jessica, membuat rahang Gio mengeras mendengar nya.
Bukan apa-apa Kanaya sudah seperti adik untuk Gio, apalagi saat ini Gio tahu bagaimana kecintaan nya Gabriel kepada Kanaya.
"Jaga bicaramu Jessica jangan sampai kamu menyesal dilain waktu." Ucap Gio, Jessica terbelalak mendengar perkataan Gio.
"Kanaya kamu pulang saja dan Laura kamu antar Kanaya sampai kerumahnya." Ucap Gio, lagi-lagi membuat Jessica tercengang.
"Pak apa-apaan sih, kenapa bapak sampai minta Laura untuk mengantarkan Kanaya?" Ucap Jessica.
"Apa urusannya sama kamu? Apakah itu merugikan kamu?" Ucap Gio.
"Ya, ya enggak si pak tapi sikap bapak ini terkesan tidak adil." Ucap Jessica.
"Tidak adil untuk siapa?" Ucap Gio, Jessica pun diam ia tak mungkin menjawab lagi bisa-bisa ia dipecat nanti.
"Ra lo bisa anter Kanaya sendiri apa perlu gue bantu?" Tanya Rian.
"Gak usah Ian gue bisa sendiri kok, lo tolong handle kerjaan nya Kanaya ya." Ucap Laura, Rian pun mengangguk dan membantu mengantarkan Kanaya ke mobil Laura.
"Riel," panggil Gio.
"Hmmm," sahut Gabriel datar.
"Kanaya sakit," ucap Gio berhasil membuat Gabriel mendongak panik.
"Kanaya sakit? Terus dia dimana sekarang?" Tanya Gabriel khawatir.
"Dia dibawa pulang sama Laura, tapi kamu gak bisa pulang sekarang karena sebentar lagi ada meeting." Ucap Gio, Gabriel menghela nafasnya ia tidak bisa pergi begitu saja karena bagaimanapun Gabriel terkenal sangat profesional dalam pekerjaannya.
"Oke," ucap Gabriel hatinya gundah memikirkan Kanaya.
"Ra bisa berhenti dulu gak Ra isi perut gue kayak mau keluar semua." Ucap Kanaya, Laura mengangguk dan menepikan mobilnya di pinggir jalan ia juga keluar membantu Kanaya.
__ADS_1
"Hoeek-hoeek, hoeek-hoeek." Kanaya berjongkok lemah, sementara Laura merasa begitu tidak tega.
"Nay kita ke dokter aja gimana? Gue gak bisa liat lo kaya gini nay." Ucap Laura.
"Gue gak apa-apa Ra ini masuk angin si kaya nya, lo bisa bantu gue bangun gak Ra." Ucap Kanaya.
"Ayok nay hati-hati," ucap Laura.
Selama perjalanan menuju kediaman Darren Kanaya beberapa kali minta berhenti kepada Laura, bahkan belum jauh dari kantor Kanaya sudah 10 kali minta berhenti hanya untuk memuntahkan isi perutnya yang hanya keluar cairan bening.
Di ruang meeting Gabriel terlihat gusar dan tidak fokus, Gio yang melihat itu merasa ikut gelisah Gio tahu saat ini perasaan Gabriel sedang tidak karuan.
"Gio saya gak bisa diam seperti ini, saya pulang kamu tolong handle semuanya." Ucap Gabriel, membuat semua yang berada di ruang meeting terheran-heran.
Ia berlari menuju lobby namun sebelum itu Gabriel sudah menelpon seseorang untuk menyiapkan mobilnya, para karyawan yang melihat itu juga ikut terheran-heran.
"Tuan Gabriel kenapa kok kaya panik gitu?" Gumam Jessica.
"Palingan juga dia lagi berantem sama pacarnya yang model itu." Ucap yang lainnya.
"Loh bukannya tuan Gabriel sudah gak sama wanita itu, lagian dia tidak sekonyol itu meninggalkan meeting demi kekasih nya." Ucap yang lainnya.
"Nay udah lo udah berapa kali muntah nay, kita ke dokter ya?" Ucap Laura.
"Enggak Ra kita pulang aja and sorry gue udah ngerepotin lo." Ucap Kanaya.
"Apaan si nay lo gak ngerepotin gue." Ucap Laura, karena kasihan Laura pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Nay kita udah samp-" ucapan Laura terhenti karena seseorang mengetuk kaca mobilnya.
"Nay, Kanaya! Ra buka pintu mobilnya," ucap Gabriel, jelas saja Laura begitu terkejut karena tiba-tiba Gabriel muncul.
"I-iya tuan," balas Laura iapun membuka pintu mobil yang sebelumnya terkunci.
"Honey," panggil Gabriel.
Deg
Jantung Laura ber-disko ria mendengar Gabriel memanggil sahabatnya dengan sebutan honey, bahkan jika saat ini Kanaya sadar mungkin sudah Laura ledek habis-habisan.
__ADS_1
Kenapa Kanaya tidak pernah cerita jika hubungannya dengan Gabriel sudah jauh lebih baik, bahkan terlihat sangat romantis dan Laura yakin tidak akan ada yang percaya jika keduanya menikah karena terpaksa.