Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam
Epson 158


__ADS_3

Satu Minggu Berlalu....


Hari ini Kanaya sudah kembali ke kantor, dalam perjalanan menuju kantor seperti biasa wanita cantik yang tengah berbadan dua itu selalu minta turun di depan pertigaan komplek.


Gabriel sudah menolak keras permintaan sang istri namun Kanaya juga tak kalah keras menolak keinginan sang suami, jujur saja Kanaya masih belum siap jika teman-teman kantor nya tahu mengenai hubungan Kanaya dengan Gabriel.


"Oke, aku akan biarin kamu pergi ke kantor menggunakan taksi. Tapi aku tidak akan pergi lebih dulu, aku akan menemani kamu sampai mendapatkan taksi." Ucap Gabriel.


Kanaya mengangguk dan tersenyum manis, tidak masalah jika Gabriel ingin menemani dirinya.


Tidak lama kemudian taksi pun datang Kanaya buru-buru pergi dari sana, sementara Gabriel hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Apa yang kamu takutkan honey, aku akan selalu melindungi kamu nay kenapa kamu masih merasa takut jika banyak orang yang tahu tentang kita." Batin Gabriel, ia pun kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Taksi yang ditumpangi oleh Kanaya berhenti di lampu merah, Kanaya melihat dua anak kecil yang berjualan bunga mawar merah.


"Dek sini," panggil Kanaya membuka kaca mobil.


"Iya kak, kakak mau beli mawar nya?" Tanya dua anak kecil itu.


"Eumm, satunya berapa?" Tanya Naya.


"Satunya lima belas ribu kak," jawabannya membuat Kanaya mengangguk.


"Kalau begitu kakak beli semuanya ya, ada berapa tangkai?" Tanya Kanaya.


"Semuanya ada 15 tangkai kak, kakak yakin mau beli semuanya?" Tanya nya lagi.


"Iya kakak mau beli semuanya," jawab Kanaya ia membuka tas nya untuk mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya.


"Semuanya jadi 225.000 kak," ucapnya.


"Eumm, ini kamu ambil aja sisa nya ya." Ucap Kanaya memberikan tujuh lembar uang berwarna merah.


"Kak ini banyak sekali," ucap dua anak itu.


Kanaya tersenyum manis menatap dua anak perempuan yang berdiri di samping nya saat ini, ia merasa mereka pantas mendapatkan itu.


"Gak apa-apa, ini kakak ambil bunga nya tiga aja ya sisanya buat kamu." Ucap Kanaya, anak itupun mengangguk haru.


"Terimakasih banyak ya kak, semoga tuhan membalas kebaikan kakak dan akan selalu melindungi kakak." Ujarnya.


"Sama-sama," balas Kanaya, tak berselang lama lampu merah pun berubah menjadi hijau.


Dibelakang taksi yang ditumpangi oleh Kanaya Gabriel menyaksikan kelakuan Kanaya, bibirnya tertarik membentuk senyuman manis.

__ADS_1


"Menggemaskan," gumam Gabriel.


"Kanaya, Kanaya hallo." Ucap Laura heboh.


"Apaan si Ra heboh banget jadi orang." Ucap Kanaya.


"Eh bunga siapa nih pagi-pagi udah bawa-bawa bunga." Ucap Laura, ia mengedarkan pandangannya lalu berbisik kepada Kanaya.


"Dari pak bos ya?" Ucap Laura.


"Hihh ngarang ini gue beli sendiri, tadi waktu di lampu merah gue liat dua anak kecil jualan bunga yaudah gue beli aja." Ucap Kanaya, ia memajang bunga yang dibelinya di meja kerja.


"Uhhh baik nya ibu hamil yang satu ini." Ucap Laura keceplosan.


"Eh, heh mulutnya mau gue sumpel." Panik Kanaya.


"Aduh so-sorry mulut gue keceplosan saking happy nya." Ucap Laura memukul bibirnya sendiri.


"Apa Kanaya hamil?" Ucap Karin.


"Dih kuping lo bud*k ya, gak ada yang bilang hamil." Ucap Laura santai.


"Gak usah bohong gue denger sendiri kok kalau Kanaya hamil." Ucap Karin, kini ada Jessica juga disana.


"Gak ada yang hamil Karin lo hallu ya." Ucap Laura.


"Ibu salah denger kali gak ada yang hamil." Ucap Kanaya, dalam hati ia meminta maaf kepada jabang bayi nya.


"Masa iya saya salah dengar, Karin ko yang bilang kamu hamil barusan." Ucap Jessica.


"Berarti Karin yang salah dengar, lagian dia lagi gak fokus kali bu mangkanya kaya gitu." Ucap Kanaya.


"Kanaya," panggil Gio.


"Iya pak," sahut Kanaya.


"Kamu dipanggil tuan Gabriel ke ruang kerja nya sekarang." Ucap Gio, Kanaya diam ia merasa tidak enak kepada yang lain.


"Tapi ada apa ya pak tuan Gabriel manggil saya?" Tanya Kanaya.


"Ya mana saya tahu kamu temui dulu saja tuan Gabriel." Ucap Gio, Kanaya menghela nafasnya dan mengangguk.


"Baik pak," ucap Kanaya.


Diam-diam Karin menatap kepergian Kanaya saat melihat Gio pergi ke ruang kerja nya, Karin mengikuti Kanaya secara diam-diam.

__ADS_1


"Ngapain Gabriel manggil Kanaya," gumam Karin.


"Tuan manggil saya?" Tanya Kanaya, Gabriel langsung mendekati Kanaya dan memeluk nya.


"Kamu baik-baik saja hmmm?" Tanya Gabriel.


"Ya aku baik-baik saja kamu kenapa?" Tanya Kanaya.


"Aku hanya khawatir dengan kamu dan anak kita, apakah kamu tidak ingin berhenti saja honey? Kamu bisa diam dirumah bersama Adisty dan mami." Ucap Gabriel.


"CK, aku baiklah saja kamu tidak perlu khawatir." Ucap Kanaya.


"I-itu Gabriel kok peluk-peluk Kanaya." Gumam Karin terkejut.


"Khem," dehem Gio membuat Karin tersentak.


"P-pak Gio," lirih nya.


"Ngapain kamu disini? Sudah saya bilang jaga sikap kamu Karin, jangan sampai sikap kamu membuat Gabriel memecat kamu." Ucap Gio.


"I-iya pak saya minta maaf, tapi ada hubungan apa tuan Gabriel dengan Kanaya pak kenapa tuan Gabriel memeluk Kanaya seperti itu?" Tanya Karin, jujur saja saat ini hatinya merasa sakit.


"Itu bukan urusan kamu, dan sebaiknya kamu kembali ke tempat kerja kamu!" Ucap Gio, ia merapatkan pintu ruang kerja Gabriel.


"Ba-baik pak saya permisi," ucap Karin.


"Gak salah lagi si Kanaya sudah menggoda tuan Gabriel, gue gak boleh tinggal diam. Tadi juga gue yakin kok kalau Laura bilang Kanaya ibu hamil, dan gue gak mungkin salah dengar telinga gue masih sehat." Batin Karin.


"Tuan Gabriel bilang apa sama lo nay? Kenapa dia manggil lo?" Tanya Laura.


"Gak apa-apa, dia hanya khawatir dengan keadaan anaknya yang ada disini." Bisik Kanaya menunjuk perutnya.


"Euumm sweet sekali Daddy jabang bayi yang satu ini." Kekeh Laura, Kanaya juga ikut tertawa namun tak lama ia langsung melanjutkan pekerjaannya.


"Nay tolong dong lo print file ini," ucap Karin.


"Heh ngapain lo nyuruh-nyuruh Kanaya, kerjain aja sendiri kita punya tugas masing-masing." Ucap Laura.


"Lo kenapa si gue kan cuma minta tolong." Ucap Karin.


"Lo punya tangan punya kaki gak usah manja deh Rin, lo mau gue laporin pak Gio kalo kerja lo enak-enakan." Ucap Laura, Karin pun menghentakkan kakinya lalu pergi begitu saja.


"Ra lo berlebihan," ucap Kanaya.


"Gue gak berlebihan, lagian dia ngadi-ngadi masa nyuruh istri bos." Kesal Laura.

__ADS_1


"Dia gak tau gue istri Gabriel!" Ucap Kanaya.


"Bodo amat pokonya dia gak berhak kaya gitu ke siapapun, kita disini dikasi tugas dan tanggung jawab masing-masing!" Balas Laura, Kanaya hanya menggelengkan kepalanya.


__ADS_2