
Suatu hari di sebuah ruang VVIP restoran terlihat dua orang yang duduk berhadapan, seorang wanita menatap lelaki yang beberapa hari lalu ia tugaskan untuk mencari tahu tentang wanita yang ia inginkan.
"Bagaimana apakah kamu sudah mendapatkan informasi yang saya inginkan?" Tanya nya.
"Tentu saja sudah nyonya, anda tidak perlu khawatir tentang itu saya sudah mendapatkan informasi yang akan membuat anda puas." Ujarnya.
"Bagus, katakan sekarang." Ucap wanita itu.
"Dia bernama Jeselyn Kanaya nyonya, dia juga anak satu-satunya, Jeselyn terpaksa untuk tidak melanjutkan pendidikan nya sampai kuliah karena kedua orangtuanya terlilit hutang yang begitu besar. Dan kini ayah dari Jeselyn sedang sakit hal itu yang membuat Jeselyn harus bekerja meskipun sang ayah melarang nya, semenjak keluarga nya bangkrut kehidupannya berubah 180 derajat." Ucap lelaki itu.
"Jeselyn Kanaya." Gumam si wanita.
"Dia merupakan wanita yang baik nyonya, Jeselyn belum pernah terikat hubungan dengan pria manapun." Ujar nya lagi, wanita itu mengangguk dan terlihat sedang berpikir.
"Lalu bagaimana dengan wanita yang lainnya? Bukankah saya meminta kamu mencari tahu tentang dua wanita." Ucap nya lagi.
"Benar, Savira Divanka dia seorang wanita yang kehidupannya berbanding terbalik dengan Jeselyn. Safira berasal dari keluarga kaya dan kini tengah menjalin hubungan dengan seorang pria, selain dari keluarganya Safira juga mendapatkan banyak hal dari kekasihnya." Ucap lelaki itu.
"Kau yakin dia hanya menjalin hubungan dengan seorang pria?" Tanya nya.
"Saya yakin nyonya, hanya saja dia terkesan memanfaatkan kekayaan kekasihnya." Ujar si lelaki, wanita itu pun mengangguk dan memberikan sebuah amplop yang berisi uang.
"Ini bayaran kamu." Ucap nya langsung pergi begitu saja.
...
Di kediaman Darren terlihat Adisty yang berjalan menghampiri Freya yang kini duduk di ruang keluarga, Adisty menatap mami nya yang masih terlihat sangat cantik.
"Mami sepertinya akhir-akhir ini sangat sibuk." Ucap Adisty.
"CK, iya sayang ada beberapa hal yang harus mami kerjakan." Balas Freya.
__ADS_1
"Hmmm, aku bosan mi dan Minggu depan aku akan pergi berlibur." Ucap Adisty.
"Kamu akan memulai pekerjaan kamu?" Tanya Freya.
"Mungkin." Jawab gadis cantik itu.
Adisty memang suka sekali traveling dan berkuliner di luar sana, jangan lupa Adisty ini cukup dikenal di sosial media nya followers nya juga sudah sampai puluhan juta.
"CK, kamu ijin sama Daddy dan kakak kamu sana mami tidak mau disalahkan nanti." Ucap Freya.
"Ish, mam bantuin ijin lah." Bujuk Adisty.
"Gak bisa dis kakak sama Daddy kamu itu horor kalau soal kamu yang ingin pergi-pergi." Ucap Freya.
"Mami lupa meskipun mereka terkesan horor tapi yang ditakuti di rumah ini itu kan mami." Ucap Adisty.
"Tidak, karena mami juga tidak mau kamu pergi." Balas Freya, membuat Adisty mencebikan bibirnya kesal.
"Lagian kamu ngapain si pergi-pergi biasanya juga ngurung di kamar." Ucap Adisty.
"Kali ini gak bisa mam aku juga sudah ada janji dengan teman-teman aku." Rengek nya.
"Cih, baiklah kalau mau pergi tidak apa-apa nanti mami yang akan bicara dengan Daddy dan kakak kamu." Ucap Freya, Adisty pun tersenyum senang lalu memeluk sang mami.
"Euuummm, terimakasih mami emang yang terbaik." Ucap Adisty, Freya hanya tersenyum manis mendapat pelukan dari Adisty.
Di tempat lain terlihat Kanaya yang termenung di depan rumah nya, Sintia sebagai seorang ibu yang melihat putrinya termenung pun duduk disamping sang putri.
"Kamu kenapa nay? Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Sintia.
"Bunda, aku gak apa-apa kok Bund." Balas Kanaya.
__ADS_1
"Kamu jangan berbohong Jeselyne Kanya, bunda tahu ada yang mengganggu pikiran kamu." Ucap Sintia lagi menyebut nama lengkap putrinya.
"Bund aku tidak apa-apa." Balas Kanaya tersenyum menatap ibunya.
"Kamu pasti memikirkan biaya pengobatan ayah kamu ya, selain itu bunda dan ayah juga memberikan banyak beban kepada kamu. Maafkan kami yang tidak bisa membahagiakan kamu, harusnya sebagai orang tua kami tidak membuat kamu kesulitan." Ucap Sintia.
"Bunda ngomong apa si Kanaya gak apa-apa Bund sungguh." Balas Kanaya.
"Nay bunda selalu berdoa kepada Tuhan saat kamu berjuang untuk kedua orang tua kamu, semoga tuhan juga memberikan kebahagiaan untuk kamu nanti." Ucap Sintia.
"Bunda aku sudah bahagia bersama dengan ayah dan bunda, soal apa yang menimpa kita itu bukan hal yang membuat aku terbebani." Ucap Kanaya, meskipun terkadang ia merasa bingung bagaimana melunasi hutang kedua orangtuanya.
"Maafkan ayah dan bunda sayang." Lirih Sintia memeluk Kanaya dengan lembut.
"Bunda tidak perlu meminta maaf kepada Kanaya Bund." Ucap Kanaya, Sintia menitihkan air matanya.
Sintia berpikir harusnya saat ini Kanaya sedang bermain dan bersenang-senang dengan teman seusianya seperti anak gadis pada umumnya, namun kini putrinya malah menjadi tulang punggung keluarga yang harus membayar hutang kedua orang tua dan biaya pengobatan sang ayah.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading π€π jangan lupa like komen dan vote nya πβΊοΈ