Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam
Epson 169


__ADS_3

Keesokan harinya Meisya menemui Cindy di kamarnya, ia menatap Cindy yang beberapa hari ini mengurung diri.


"Kapan kamu akan meminta kekasihmu bertanggung jawab Cindy? Kamu tahu semakin lama perutmu akan semakin membesar!" Ucap Meisya.


"Kenapa mami hanya bisa menekan ku tanpa mau membantu aku meminta pertanggungjawaban mam." Ucap Cindy, ia benci keadaan nya saat ini.


Semua keluarga terlihat jelas menjauh dan mengasingkan dirinya tidak ada satupun diantara mereka yang mendukung Cindy, tidak ada yang memberi support kepadanya.


"Itu perbuatan kamu seharusnya kamu bisa menangani semuanya sendiri, itu pilihanmu maka kamu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan." Ucap Meisya.


"Mam kenapa mami tidak meminta om Darren untuk membantu aku, bukankah dia memiliki kekuasaan yang besar." Ucap Cindy.


"Tutup mulutmu Cindy, kau tahu jika om kamu itu sedang marah dan kecewa kepadamu. Semua itu terjadi juga karena kamu yang selalu menyalahkan Freya, Kanaya dan anak-anak nya." Ucap Meisya.


"Tapi mam apa yang aku katakan itu benar." Kekeh Cindy.


"Mami tidak mau tahu kamu harus membuat dia mau menikahi kamu Cindy." Kesal Meisya.


....


Dua bulan berlalu kini kehamilan Kanaya menginjak usia 6 bulan, Kanaya terlihat bermain di taman kota bersama ayah dan bundanya.


Sebelum kembali berkunjung ke kediaman ayah dan bundanya, Kanaya sempat meminta izin kepada Gabriel dan Freya.


Tawa Kanaya terlihat begitu bahagia hingga membuat orang yang sedang memperhatikan dirinya di kejauhan merasa kesal, kenapa Kanaya bisa mendapatkan semua yang seharusnya menjadi milik dirinya.


"Kamu tidak boleh bahagia diatas penderitaan aku dan anakku Kanaya, jika aku menderita maka kamupun harus lebih menderita." Gumam nya penuh kebencian.

__ADS_1


Dengan yakin wanita itu menginjak pedal gas hingga mobil yang ia kendarai melaju dengan kecepatan tinggi, Dani yang saat itu melihat sebuah mobil melaju dengan kencang menuju putrinya yang berdiri di tengah jalan pun terkejut.


"Nak Kanaya awas nak," teriak Dani.


Ayah Kanaya itupun berlari dan mencoba untuk mendorong Kanaya, Sintia yang melihat sang suami mendorong tubuh putrinya yang sedang hamil pun bersiap untuk menangkap tubuh Kanaya dan berhasil namun.


Brukkkkk, mobil itu menabrak Dani hingga terpental beberapa meter.


"Ayaaahhhh," teriak Kanaya dan Sintia histeris.


Mobil merah yang baru saja menabrak Dani berhenti dan kesal karena ia tak berhasil melukai Kanaya, tanpa menunggu lama mobil itupun pergi dari sana sebelum ada yang mencurigai.


"Ayah," raung Kanaya berlari dan memeluk sang ayah.


"Ayah siapa orang jahat itu yah," lirih Sintia.


Di rumah sakit Kanaya terus menangis dengan memeluk sang bunda hingga Gabriel dan kedua orangtuanya sampai, bahkan Alex dan Ellen juga Alice ada disana.


"Honey," panggil Gabriel.


Kanaya mendongak dan berjalan memeluk sang suami, Kanaya ingin mencurahkan kesedihan nya dalam pelukan Gabriel.


"Gabriel ayah Riel, ayah akan baik-baik saja kan." Lirih Kanaya.


"Honey tenanglah ayah pasti akan baik-baik saja." Ucap Gabriel.


"Mbak Sintia," panggil Freya memeluk Sintia yang juga sedang menangis.

__ADS_1


Saat mereka sedang saling menguatkan seorang dokter datang menghampiri mereka, Kanaya dan Sintia menghampiri sang dokter yang menangani Dani.


"Dok bagaimana keadaan suami saya dok?" Tanya Sintia.


"Mohon maaf sebelumnya nyonya kami dan anggota medis yang lain sudah berusaha semaksimal mungkin, namun Tuhan berkehendak lain. Karena benturan yang sangat keras hingga membuat pembuluh darah tuan Dani pecah, hingga akhirnya tak tertolong lagi." Ucap dokter itu.


"Ayah, gak dok gak mungkin ayah saya meninggal enggak." Teriak Kanaya hingga akhirnya tak sadarkan diri.


"Sayang, Gabriel Kanaya Riel." Ucap Freya.


"Honey," panggil Gabriel yang langsung menggendong tubuh istrinya dan membawa Kanaya ke sebuah kamar rawat.


"Ayah," lirih Sintia tubuhnya lirih di lantai yang dingin.


Bahu Sintia bergetar ya wanita itu menangis tersedu-sedu, Ellen menghampiri Sintia dan memeluk nya dengan erat.


"Kuat Sintia kamu harus kuat." Ucap Ellen.


"Bersama siapa aku akan hidup setelah ini mbak, kepada siapa aku mengeluhkan semua yang aku rasakan jika mas Dani pergi untuk selamanya." Ucap Sintia di sela-sela tangisnya.


"Mbak kamu tidak sendirian ada kami disini, kami akan selalu bersama kamu mbak." Ucap Freya.


"Kanaya perjuangan nya sia-sia bukan mbak, dia mengorbankan hidup dan dirinya hanya untuk kesembuhan mas Dani. Tapi setelah ayahnya mulai membaik ia justru harus kehilangan mas Dani dengan cara seperti ini, bagaimana saya bisa tenang mbak." Lirih Sintia, Ellen menggelengkan kepalanya ia terus menenangkan Sintia.


"Mbak setidaknya Kanaya berada dalam pelukan yang tepat, Kanaya bersama Gabriel yang saat ini begitu mencintainya." Ucap Ellen.


Darren dan Alex menghubungi orang-orang mereka untuk mengurus pemakaman Dani, mereka menatap para wanita yang sedang berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2