
Suatu malam semua orang sedang berkumpul di ruang keluarga lantai dua, ada Freya, Darren, Kanaya, Gabriel, Adisty dan Alice yang selalu bersama dengan Adisty.
"Permisi tuan,nyonya di bawah ada tamu yang ingin bertemu dengan tuan dan nyonya." Ucap mbak, membuat semua orang menoleh menatapnya.
"Bertemu dengan saya?" Tanya Freya.
"Benar nyonya dia bilang ingin bertemu dengan nyonya dan tuan," ucap mbak lagi.
"Kamu ada janji dengan orang dad?" Tanya Freya kepada Darren.
"Gak ada sayang aku gak buat janji dengan siapapun." Balas Darren.
"Anu nyonya itu non Fira bersama kedua orang tuanya." Ucap mbak, membuat Darren dan Freya menatap Gabriel.
"Kenapa kalian menatapku?" Tanya Gabriel bingung.
"Kamu yang meminta mereka datang kemari Gabriel?" Tanya Freya.
"No mam, aku sudah memiliki istri untuk apa aku meminta Safira datang kemari. Itu sama saja aku bunuh diri." Ucap Gabriel, Alice menatap Gabriel ia yakin Gabriel tidak tahu tentang tujuan Safira dan kedua orangtuanya.
"Kak sebaiknya kakak temui dulu mereka." Ucap Alice, Freya dan Darren pun menatap Alice lalu mengangguk.
"Jika kamu berbuat sesuatu diluar sana jangan harap ada kesempatan terbaik untukmu boy!" Tegas Darren, Gabriel memicingkan matanya menatap Darren.
Setelah kepergian Freya dan Darren lelaki itu beralih menatap Kanaya yang duduk di sampingnya, kebetulan Kanaya juga sedang menatapnya penuh curiga.
"Kau juga tidak percaya kepada suamimu?" Ucap Gabriel.
"Tidak, aku bahkan tidak peduli dengan apa yang kamu lakukan diluar sana." Ucap Kanaya, Gabriel tercengang dengan penuturan Kanaya.
"Kamu itu istriku tapi kau berani berkata begitu." Ujarnya lagi.
"Memangnya aku harus apa?" Ucap Kanaya.
"Kanaya sungguh setelah kita menikah aku tidak ada hubungan apapun lagi dengan Safira, kau tanya Alice jika tidak percaya padaku." Ucap Gabriel.
"Kami tidak percaya karena terkadang kau pergi dengan kak Cindy, sementara kami tahu kalau kak Cindy dekat dengan kak Fira." Ucap Adisty, adiknya itu selalu berada di kubu Kanaya.
"Benar." Ucap Kanaya, membuat Gabriel semakin tercengang tak percaya.
"Safira," panggil Freya, Fira pun tersenyum dan berdiri dari duduknya.
"Tante apa kabar?" Tanya nya basa-basi.
"Kabar baik, emmm tapi ada apa kamu mengajak orangtuamu kesini?" Ucap Freya.
"Begini tuan dan nyonya Dirgantara, kedatangan kami kesini ingin meminta kejelasan tentang hubungan Gabriel dan Safira." Ucap papi Fira yang bernama Baskoro
"Kejelasan hubungan, hubungan apa yang anda maksud tuan Baskoro?" Ucap Freya.
"Ah, nyonya ini bagaimana kami ingin Gabriel segera menikahi Safira nyonya." Kali ini Diana yang bersuara yang tak lain adalah mami Safira.
__ADS_1
"Tunggu-tunggu, hubungan Safira dan Gabriel sudah lama berakhir. Bahkan sekarang Gabriel sudah menikah dan memiliki istri, jadi tidak mungkin saya menikahkan Safira dan Gabriel." Ucap Freya, membuat kedua orang tua Safira terkejut.
"Apa? Tidak bisa begitu lah nyonya Fira ini sudah sering di ajak keluar oleh Gabriel, bukankah akan menjadi perbincangan umum jika Safira tidak dinikahi oleh Gabriel." Ucap Diana.
"Yang istri saya katakan itu benar nyonya, ini suatu pengh*naan untuk kami." Ucap Baskoro.
"Maaf tuan saya rasa tidak ada penghinaan dan merugikan salah satu pihak, toh selama Safira menjalin hubungan dengan Gabriel dia sudah mendapatkan uang bahkan banyak lagi yang ia dapatkan dari putra saya." Ucap Freya.
"Itu hal yang wajar karena Gabriel seorang lelaki, wajar jika dia memberikan sesuatu kepada Fira." Ucap Diana tak mau kalah.
"Begini saja bagaimana jika kita panggil Gabriel nya." Ucap Darren menengahi, Freya pun mengangguk dan meminta mbak untuk memanggil anak-anaknya.
"Mam," panggil Gabriel, ia berjalan diikuti oleh Adisty, Alice dan Kanaya di belakangnya.
"Sayang kemari dan duduk nak." Ucap Freya, Gabriel pun mengangguk dan duduk sementara ketiga wanita yang mengikutinya hanya diam dan berdiri disana.
"Gabriel," panggil Safira, namun Gabriel terlihat acuh tak acuh.
"Ada apa kau kemari Safira? Bukankah hubungan kita sudah berakhir?" Ucap Gabriel, Safira tercengang mendengar perkataan yang diucapkan oleh Gabriel.
"Gabriel aku tidak pernah menyetujui itu." Ucap Safira.
"Gabriel kamu harus menikahi Safira, hubungan kalian sudah terlalu jauh Gabriel." Ucap Diana.
"Hubungan apa yang tante maksud, aku bahkan sudah mengakhiri hubungan kami empat bulan yang lalu." Ucap Gabriel.
Ya, satu bulan sebelum menikah dengan Kanaya Gabriel memang memutuskan hubungan nya dengan Fira, dan kini usia pernikahan Gabriel dengan Kanaya sudah tiga bulan lamanya.
"Apa katamu empat bulan, kau bohong Gabriel bahkan saat ini putriku sedang mengandung dan usia kandungan nya menginjak usia 2 bulan." Ucap Diana, Gabriel dan yang lainpun tersentak mendengar pernyataan Diana.
"Hamil? Kau sedang hamil Safira?" Ucap Gabriel.
"Gabriel aku bisa menjelaskan ini Gabriel," ucap Safira.
"Bagaimana kau bisa hamil sementara aku saja tidak pernah menyentuhmu, itu bukan anakku dad mam. Aku sudah tidak berhubungan dengan nya selama empat bulan lebih, kami memang pernah sesekali bertemu itupun aku bersama dengan Cindy dan tidak berdekatan dengan nya." Ucap Gabriel menjelaskan.
"Gabriel kamu lupa malam itu, malam dimana aku sedang mab*k?" Ucap Safira.
"Ya aku ingat dan tidak akan pernah lupa, tapi itu hanya kau yang mab*k sementara aku tidak aku sadar sepenuhnya. Karena aku tahu jika aku mab*k kau akan memanfaatkan keadaan itu, sementara ada perasaan seseorang yang harus aku jaga." Ucap Gabriel, Adisty menggenggam tangan Kanaya ia tahu maksud dari perkataan sang kakak.
"Gabriel aku mencintaimu," lirih Safira air matanya luruh.
"Tapi aku tidak pernah mencintaimu Safira, jelas saat ini aku mencintai wanita lain." Ucap Gabriel, membuat semua orang menatapnya.
"Si-siapa wanita yang berhasil membuat kamu jatuh cinta?" Tanya Safira.
"Tentu itu istriku sendiri memangnya siapa lagi, jadi aku minta cukup Safira. Jangan pernah berusaha untuk mengacaukan pernikahan ku, aku sudah berusaha keras untuk mendapatkan nya dan aku tidak mau hanya karena ini semuanya berantakan dan aku kembali sulit untuk mendapatkan nya." Ucap Gabriel tegas.
Kanaya yang mendengar itu diam, jantungnya berdegup kencang, ia tak percaya Gabriel akan mengatakan hal itu di hadapan semua orang.
"Gabriel jika kamu tidak mau menikahi Safira saya akan membuat kamu dan keluargamu malu!" Ancam Diana.
__ADS_1
"Lakukan apapun yang ingin anda lakukan nyonya, tapi jangan lupa jika reputasi putrimu juga bisa saya hanc*rkan dalam sekejap." Ucap Darren dengan tatapan nyalang nya, Diana diam dan berusaha untuk menelan saliva nya.
"K-kau mengancam kami?" Tanya Diana terbata.
"Kami tidak ada mengancam nyonya, tapi anda mendengar sendiri bagaimana penjelasan putra saya bukan." Ucap Darren.
"Tapi saya yakin ini anak Gabriel." Ucap Diana masih kekeh.
"Kenapa anda bisa begitu yakin? Banyak wanita seperti putri anda menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau, atau tidak kita bisa melakukan tes DNA." Ucap Darren, mata Fira dan Diana pun membulat sempurna.
"Kalian benar-benar keterlaluan." Ucap Baskoro, Darren hanya mengangkat sebelah alisnya.
"Putri anda yang sangat keterlaluan." Timpal Adisty, Safira menoleh ia terkejut melihat kehadiran Kanaya di tengah-tengah Adisty dan Alice.
"Kau," ucap Safira, wanita itu bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri Kanaya.
Plaaaakkk, secara tiba-tiba Safira men*mp*r pipi Kanaya, hal itu membuat Adisty, Alice, Gabriel dan semua orang terkejut.
"Kau g*la apa yang kau lakukan," bentak Gabriel menarik kasar tangan Safira, lelaki itu berdiri membelakangi Safira dan menatap Kanaya.
"Apa ini sakit?" Tanya Gabriel, Kanaya diam ia menatap Gabriel menandakan bahwa itu sangat sakit.
"Gabriel, jangan bilang dia-" ucapan Safira terhenti.
"Ya, Kanaya istriku dan aku tidak akan tinggal diam jika ada orang lain yang mencoba untuk menyakitinya meski hanya seujung kuku." Ucap Gabriel dengan suara yang sangat dingin dan tatapan tajamnya.
"Gabriel are you kiding me?" Ucap Safira tak percaya.
"No, Safira cukup berhenti untuk mengejar ku." Ucap Gabriel.
"Gak, dia pelak*r dia udah rebut kamu dari aku." Teriak Safira mencoba meraih Kanaya, namun Gabriel memeluk Kanaya berusaha melindungi nya dari jangkauan Safira.
Sementara Adisty dan Alice juga berusaha untuk melindungi Kanaya, tanpa sengaja Alice mendorong tubuh Safira hingga terjatuh.
"Akkhhh," pekik Safira.
"Cukup Safira Gabriel udah nikah lo gak usah ganggu Gabriel lagi." Teriak Alice.
"Pe-perutku," lirihnya, membuat Alice dan Adisty terbelalak melihat darah yang mengalir di kaki Safira.
"Safira sayang," pekik Diana, ia sengaja berteriak agar Gabriel menoleh menatap Safira.
Namun nihil Gabriel malah membawa Kanaya pergi dari sana dengan masih memeluk wanita itu, tanpa sadar Kanaya meneteskan air matanya melihat pembelaan Gabriel terhadap dirinya.
Kanaya tahu setelah ini pasti Gabriel akan mendapatkan masalah, karena tanpa sengaja Alice malah melukai Safira.
"Hei kenapa menangis?" Tanya Gabriel panis.
"Safira terluka kan," tanya Kanaya.
"Tidak apa-apa itu resikonya karena berani membuat keributan di hadapan Alice." Ucap Gabriel.
__ADS_1
"Tapi dia sedang mengandung bagaimana jika terjadi sesuatu kepada janin nya?" Ucap Kanaya, sebagai seorang wanita tentu ia merasa tak tega.
"Aku akan melihat nya nanti, sekarang kamu disini saja aku akan meminta Adisty untuk menemani kamu." Ucap Gabriel, Kanaya diam ia menatap kepergian Gabriel yang keluar dari kamar nya.