Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam
Epson 138


__ADS_3

Keesokan harinya Gabriel terbangun dari tidurnya ia melihat sekeliling dan memijat pelipisnya, Gabriel teringat jika kini dirinya sudah menjadi seorang suami.


"Gabriel belum bangun nay?" Tanya Sintia.


"Belum bund mungkin sebentar lagi." Jawab Kanaya, wanita cantik itu membantu sang bunda menyiapkan sarapan di meja makan.


"Selamat pagi maaf saya bangun terlambat." Ucap Gabriel merasa tak enak, Sintia tersenyum melihat menantunya yang baru keluar dari kamar.


"Tidak apa-apa nak ayok duduk kita sarapan bersama." Ucap Sintia, Gabriel pun mengangguk dan duduk di sebuah kursi tepat disamping Kanaya.


"Em, ada yang yang ingin saya bicarakan dengan ayah dan bunda." Ucap Gabriel, Dani dan Sintia pun menatap Gabriel.


"Ada apa nak katakan saja," ucap Dani.


"Sebelumnya saya ingin meminta maaf terlebih dahulu kepada ayah dan bunda," Gabriel menarik nafasnya dalam.


"Saya akan mengajak Kanaya untuk tinggal bersama dengan saya apakah bunda dan ayah mengijinkan?" Tanya Gabriel, terlihat Sintia dan Dani tersenyum mendengar penuturan menantunya.


"Tentu saja Kanaya itu istri kamu nak dan kamu berhak membawanya kemanapun kamu pergi, tapi satu pesan ayah jaga Kanaya dengan baik ayah berharap kamu bisa menjaga dan membahagiakan putri ayah." Ucap Dani.


Gabriel diam ia melirik Kanaya yang sejak tadi hanya diam saja, Kanaya tidak memberikan penolakan atau berbicara apapun.


"Tentu saja saya akan menjaga Kanaya yah, dan rencananya saya akan mengajak Kanaya hari ini juga." Ucap Gabriel, membuat Kanaya menoleh menatap Gabriel.


"A-apa?" akhirnya Kanaya bersuara juga karena terkejut mendengar perkataan Gabriel.


"Bersiaplah mami dan Daddy sudah menunggu kita dirumah," ucap Gabriel tanpa peduli dengan keterkejutan Kanaya.

__ADS_1


"Tidak apa nak ayah dan bunda akan baik-baik saja, kamu harus mengikuti keputusan suami kamu." Ucap Dani, Gabriel diam mendengar penuturan ayah mertuanya.


"Hmmm," balas Kanaya.


Kanaya pun pamit lebih dulu dari ruang makan, ia tak mau berdebat dengan Gabriel di hadapan ayah dan bunda nya.


Kanaya duduk di tepi ranjang ia menatap kamar yang selama ini menjadi tempat paling nyaman untuk dirinya melepaskan penat sepulang kerja, Gabriel datang dan menatap Kanaya yang sedang termenung.


"Kenapa?" tanya Kanaya yang menyadari kehadiran Gabriel.


"Apa?" balas Gabriel.


"Kenapa harus sekarang kamu mengajakku pergi ke rumah orang tuamu? tidak bisakah kamu memberi waktu sedikit lebih lama kepadaku." Ucap Kanaya.


"Keputusan saya sudah bulat dan akan kembali hari ini," balas Gabriel membuat Kanaya tidak bersuara lagi.


"Hati-hati dijalan ya sayang kabari bunda jika ada apa-apa," ucap Sintia kepada putrinya dan hanya dijawab oleh anggukan kepala.


Selama perjalanan Kanaya hanya diam dan menatap jalanan kota begitupun dengan Gabriel, lelaki itu juga diam tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


Sampai akhirnya mereka tiba di kediaman Darren dan Freya, Kanaya tertegun melihat gerbang yang menjulang tinggi itu terbuka dan menampakkan rumah besar dan megah bagi Kanaya ini bukan seperti rumah tapi sebuah mansion.


Kanaya melihat Freya dan Adisty yang sudah berdiri di teras, ia berpikir mungkin Gabriel telah memberi tahu mertua dan adik ipar nya jika ia dan sang suami akan pulang hari ini.


"Turun," ucap Gabriel membuat Kanaya tercengang melihat sikap dingin lelaki itu.


"Sayang mami kira kamu akan lebih lama dirumah mertua kamu nak," ucap Freya kepada putranya.

__ADS_1


"Aku merasa tidak nyaman berada disana mam," jawab Gabriel membuat Freya menatap Kanaya yang sejak tadi diam.


Freya tahu jika Kanaya mungkin merasa tersinggung dengan sikap putranya, Freya menggelengkan kepala dan mendekati Kanaya.


"Jangan diambil hati sayang Gabriel memang menyebalkan," ucap Freya menenangkan menantunya.


"Tidak apa-apa mam aku mengerti kok," balas Kanaya Freya pun tersenyum dan mengajaknya untuk masuk kedalam rumah.


"Kakak seharusnya jangan bersikap seperti itu di hadapan kak Naya, bagaimanapun juga kak Naya istri kakak sekarang." Ucap Adisty kepada Gabriel.


"Apa masalahnya hmmm, aku tidak mencintai dia dan kamu tahu itu disty jadi jangan seperti mami yang memaksaku untuk bersikap baik kepadanya." Ucap Gabriel.


"Tapi tetap saja kau tidak harus bersikap seperti itu kak, bagaimana jika aku yang ada di posisi kak Naya apakah kamu akan menerima adikmu di perlakukan tidak baik." Protes Adisty.


Meskipun ia takut jika Gabriel tidak lagi menyayangi dirinya karena sudah menikah, tapi Adisty juga menyayangi Kanaya ia yakin Kanaya akan menjadi kakak ipar yang baik untuk dirinya.


"Jangan banyak bicara lagi kau tidak tahu apa yang aku rasakan," tegas Gabriel kepada adiknya.


Tanpa mereka sadari bahwa Kanaya mendengar perdebatan antara Gabriel dan Adisty, Kanaya merasa terharu karena Adisty mau membelanya.


"Hai," ucap Kanaya membuat Adisty menoleh terkejut.


"Kakak," lirih Adisty dan membuat Kanaya tersenyum kepada adik iparnya.


"Sejak kapan kakak disini?" tanya Adisty.


"Baru saja," bohong Kanaya membuat Adisty sedikit gugup.

__ADS_1


"Maafkan kakakku jika sikapnya mungkin menyakiti kakak, dia orang yang baik kok kak mungkin belum terbiasa saja dengan status nya yang sekarang sudah menjadi seorang suami." Ucap Adisty membuat Kanaya mengangguk dan tersenyum.


"Hmmm, aku harap juga begitu." Balas Kanaya, Adisty mengangguk dan tersenyum manis kepada Kanaya.


__ADS_2