Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam
Epson 139


__ADS_3

Malam hari Cindy datang kerumah Freya untuk menemui Gabriel dan itu dilihat oleh Kanaya, Cindy berpapasan dengan Adisty dan keduanya memasang wajah datar.


"Mau ngapain dia kesini Gio?" Tanya Adisty kepada Gio.


"Aku gak tau dist kenapa gak kamu aja yang nanya kenapa dia kesini," jawab Gio acuh tak acuh.


"Cih, menyebalkan." Kesal Adisty dan Gio hanya cuek saja menanggapi kekesalan adik dari sahabatnya itu.


"Sepertinya Adisty dan Cindy tidak dekat itu sangat terlihat dari cara Adisty memandang Cindy dengan sinis, tapi kenapa bukankah mereka berdua itu saudara." Batin Kanaya.


"Mau apa kamu kesini?" Tanya Gabriel yang kini menatap Cindy.


"Tentu saja aku mau mengajak kamu untuk bersenang-senang, kau tahu Fira begitu terpukul saat mendengar kabar jika kamu akan menikah. Tapi kamu tenang saja karena Fira belum tahu jika kamu benar-benar sudah menikah," ucap Cindy, membuat Gabriel menatap Cindy dengan memicingkan matanya.


"Kenapa kamu begitu ingin aku kembali dengan Safira Cindy? Bukankah kamu tahu jika kedua orangtuaku tidak ada yang menyukai Safira." Ucap Gabriel.


"Aku tahu kamu tidak menyukai gadis itu, ayolah Gabriel gadis itu bukan level kamu kalian sangat berbeda jauh. Kamu terlalu sempurna untuk dia yang bukan siapa-siapa Gabriel," ucap Cindy, Gabriel diam ia menatap Cindy dengan aneh.


"Oke ayok," ucap Gabriel, ia berjalan lebih dulu diikuti oleh Cindy di belakang nya.


"Kamu mau kemana Gabriel?" Tanya Freya melihat putranya yang berpenampilan casual.


"Aku ada urusan sebentar mam," jawab nya, Freya mengernyit heran melihat Cindy yang mengekori Gabriel.


"Loh kalian mau kemana?" Kini Alice yang bertanya karena mereka tidak sengaja berpapasan.


"Kita ada urusan penting," jawab Cindy, Alice diam ia tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Cindy.


"Urusan penting malam-malam begini?" Tanya Alice, sementara Gabriel sudah pergi meninggalkan Cindy karena memang wanita itu membawa mobil sendiri.


"Hmmm, aku duluan." Ucap Cindy, Alice pun hanya diam saja menanggapi perkataan Cindy.


...


Satu minggu sudah Kanaya menjadi istri seorang Gabriel Dirgantara dan selama satu minggu itu tidak ada yang spesial dalam pernikahan mereka, bahkan sering kali Gabriel tidur di sofa jika Kanaya tidur di tempat tidur miliknya.


Dan hari ini Kanaya sudah akan kembali ke kantor begitupun dengan Gabriel, ia akan kembali bekerja seperti biasanya.

__ADS_1


"Apakah kamu tidak ingin berhenti bekerja saja sayang?" Tanya Freya kepada Kanaya.


"Kanaya belum ingin berhenti mam lagian dirumah juga kan Kanaya gak ada kegiatan," jawab nya.


"Baiklah kalau begitu sayang," balas Freya.


Setelah selesai sarapan Kanaya pergi bekerja bersama dengan Gabriel, namun saat sampai di pertigaan komplek Kanaya meminta Gabriel untuk menghentikan mobilnya.


"Berhenti di depan," ucap Kanaya, Gabriel mengerutkan keningnya namun ia tetap menuruti keinginan Kanaya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Gabriel, Kanaya menoleh dan menatap Gabriel dengan intens.


"Aku akan pergi menggunakan taksi online kamu bisa pergi lebih dulu," jawab Kanaya dingin, ia merasa pengap jika terus berdekatan dengan Gabriel.


"Apa maksud mu?" Tanya Gabriel tak terima, namun Kanaya hanya melambaikan tangan nya saja.


"Kau, akan ku balas perbuatan kamu hari ini kucing kecil." Kesal Gabriel.


Sesampainya di kantor Kanaya langsung menuju meja kerja nya, ada Laura dan Rian disana yang menatap Kanaya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Lo kenapa pagi-pagi udah cemberut aja?" Tanya Laura.


"Sembarangan lo kalo ngomong," kesal Kanaya, dan tak lama kemudian Gabriel tiba di kantor diikuti oleh Karin di belakangnya.


"Itu si ulet keket ngapain nempel terus sama tuan Gabriel si," ucap Laura, namun Kanaya tak mempedulikan hal itu.


Bukan tidak tahu bagaimana kelakuan suaminya Kanaya sendiri tahu namun ia tak mau berdebat dengan Gabriel, Kanaya takut jika nanti Gabriel akan berpikir jika ia menyukai lelaki itu.


"Udah ah apaan sih ngurusin hal gak penting," ucap Kanaya.


"Gabriel katakan kalau kamu tidak kembali dengan Fira," desak Karin.


"Apa urusanmu Karin, lagi pula aku tidak mungkin mau kembali dengan orang yang sudah aku tinggalkan." Ucap Gabriel.


"Apakah aku bisa memegang perkataan kamu?" Tanya Karin.


"Hmmm," balas Gabriel datar.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu aku kembali bekerja dulu," ucap Karin hal itu membuat Gabriel bernafas lega.


"Kenapa Kanaya malah terkesan cuek, dia tidak memperlihatkan sedikitpun rasa tertariknya kepadaku." Lirih Gabriel, ia bingung dengan keadaan pernikahan nya.


"Kanaya tidak akan menunjukkan ketertarikan nya jika kamu masih suka bertemu dengan Fira, apalagi sekarang kau dekat dengan Karin yang dulunya teman Kanaya." Ucap Gio.


"Jangan sok tahu kamu," kesal Gabriel.


"CK, lihat saja nanti dan yang harus kau tahu Gabriel Kanaya itu bukan Safira ataupun Karin." Ucap Gio, Gabriel diam apa yang dikatakan oleh Gio ada benarnya.


Tanpa menunggu lama Gabriel keluar dari ruang kerja nya dan menemui Kanaya yang saat ini serak berkutat dengan pekerjaannya, Gabriel berdiri di samping meja kerja Kanaya tanpa si empunya sadari.


"Argghh, tuan kau mengejutkan ku." Ucap Kanaya terkejut dan memegangi dada nya.


"Siapa suruh kau terlalu fokus," ucap Gabriel, Kanaya menatap sekeliling melihat beberapa karyawan menatap heran kepadanya dan Gabriel.


"Khem-khem, apakah ada yang anda butuhkan tuan?" Tanya Kanaya, Gabriel menatap kesal kepada wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu.


"Apa kau tidak merasa memiliki salah kepadaku? Apakah kau tidak berniat untuk meminta maaf Jeselyne Kanaya Dir-" ucapan Gabriel terhenti saat tiba-tiba saja Kanaya terbatuk-batuk.


Uhuuk-uhuuk


"A-apa salah saya tuan?" Tanya nya, ia sengaja pura-pura batuk agar Gabriel tidak menyebutkan marga keluarganya di belakang nama Kanaya.


"Apa kau benar-benar tidak ingin meminta maaf?" Kali ini Gabriel meradang, sementara Kanaya masih berpura-pura polos.


"Saya tidak melakukan apapun jadi kenapa saya harus meminta maaf," ucap Kanaya, Gabriel menarik nafas dalam-dalam untuk meredam emosi nya.


"Kanaya kau sudah," lagi-lagi ucapan Gabriel terhenti.


"Maaf tuan maaf sekali tapi ijinkan saya untuk pergi ke toilet lebih dulu, permisi tuan." Ucap Kanaya membuat Gabriel tercengang, sementara Gio hanya diam menahan tawa nya saja.


"Apakah dia benar-benar seorang wanita? Kenapa dia tidak malu berkata seperti itu." Kesal Gabriel, membuat Gio yang sedari tadi diam pun bersuara.


"Kau berbicara di waktu yang tidak tepat tuan Gabriel Dirgantara." Ucap Gio, Gabriel menatap beberapa karyawan yang keheranan melihat sikapnya.


Sementara itu Kanaya bersembunyi di toilet dengan memegang dadanya yang berdegup kencang, ia menyumpah serapahi tindakan Gabriel yang menurutnya sangat ceroboh.

__ADS_1


"Apa yang dilakukan lelaki kaku itu ya tuhan hampir saja semua orang tahu tentang kami, Gabriel benar-benar ingin membuatku mati berdiri." Grutu nya.


__ADS_2