
"Bagaimana keadaan Kanaya?" Tanya Gio yang sejak tadi menunggu di mobil.
"Keadaan nya sudah sedikit membaik, kita kembali ke kantor sekarang." Ucap Gabriel.
"Kenapa?" Tanya Gio lagi, namun ia tetap menjalankan mobilnya meninggalkan area rumah sakit.
Gabriel menceritakan semua yang dikatakan oleh Kanaya, bukan hanya Gabriel Gio pun ikut terheran-heran dengan itu.
"Bukankah itu aneh? Jika lantai licin sejak awal harusnya Kanaya sudah terjatuh sebelum dia ke toilet, tapi ini dia terjatuh setelah selesai dari toilet." Ucap Gabriel.
"Itu sangat janggal Riel, sudah jelas ada yang sengaja ingin mencelakai Kanaya." Ucap Gio.
"Benar, aku merasa orang ini ingin bermain-main dengan ku. Karena kejadian ini hampir saja aku dan kanaya kehilangan calon anak kita." Geram Gabriel.
"Orang seperti ini tidak bisa dibiarkan lagi Riel, di kantor saja dia berani menyakiti Kanaya bagaimana jika di luaran." Ucap Gio, Gabriel menatap Gio dengan sinis.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Gio heran.
"Kenapa kau begitu perhatian terhadap Kanaya? Jangan bilang-" Ucap Gabriel.
"Jangan g*la aku sudah menganggap Kanaya seperti adikku, jika dia kenapa-kenapa tentu saja aku khawatir. Ada keponakan ku yang sedang tinggal dengan nyaman dalam perutnya, jadi jangan berpikir macem-macem." Ucap Gio.
"Awas saja kalau sampai kau tertarik kepada istriku." Sengit Gabriel.
"Aku masih menyayangi hidupku dan rekening ku, selain kau akan memotong gaji dan bonus milikku, aku juga yakin kamu akan mengh*b*siku." Ucap Gio, Gabriel mengangguk ia senang jika Gio paham.
"Laura suruh semua karyawan berkumpul di ruangan biasa!" Ucap Gabriel berbicara namun tak menghentikan langkahnya sama sekali.
"Ba-baik tuan," ucap Laura.
"Ada apa dengan Kanaya apakah dia baik-baik saya, semoga Kanaya dan bayinya tidak apa-apa ya tuhan." Batin Laura.
Semua karyawan sudah berkumpul di ruangan yang biasa Gabriel gunakan untuk mengumpulkan para karyawan nya, beberapa karyawan terlihat bingung kenapa mereka di kumpulkan.
"Ini kenapa tuan Gabriel minta kita kumpul," ucap seorang karyawan.
"Gak tahu ya, tadi sih memang ramai gosip kalau tuan Gabriel membantu Kanaya karyawan yang terkenal cantik dan cerdas itu. Tapi masa iya ini ada sangkut pautnya sama dia." Ucap yang lainnya.
__ADS_1
"Kalian tahu kenapa saya mengumpulkan kalian semua disini?" Tanya Gabriel.
"Tidak tuan," jawab mereka serempak.
"Saya disini ingin mencari tahu tentang kejadian yang beberapa saat lalu terjadi, sebelumnya saya mau memanggil bagian kebersihan di kantor ini." Ucap Gabriel.
Beberapa orang berbaris menunduk di hadapan Gabriel, Gabriel menatap orang-orang itu dengan tatapan dingin.
"Apakah diantara kalian ada yang merasa jika pekerjaan kalian tidak benar?" Tanya nya.
"Tidak tuan, kami sudah menjalankan tugas dengan baik." Jawabnya.
"Jika benar lalu bagaimana bisa ada insiden terpeleset di toilet beberapa saat lalu?" Tanya Gabriel.
"Ternyata benar ini soal Kanaya, memang dia terjatuh beberapa saat lalu si dan gosipnya dibantu oleh tuan Gabriel." Ujar karyawan A.
"Jatuh?" Beo seorang wanita yang bekerja di bagian kebersihan.
"Ya, lantai toilet yang basah dan licin menyebabkan istri saya jatuh terpeleset!" Ucap Gabriel, membuat semua karyawan terkejut bukan main.
"Diam semuanya, saya tidak ingin melihat keterkejutan kalian semua. Kanaya memang istri saya dan saat ini dia sedang mengandung anak saya, kalian tahu karena kejadian ini saya dan Kanaya hampir kehilangan calon anak kami." Tegas Gabriel, kembali membuat karyawan terkejut.
"Jadi Kanaya dan tuan Gabriel sudah menikah." Lirih Jessica yang begitu terkejut, bahkan Karin tidak kalah terkejutnya dengan Jessica.
"Saya tidak akan tinggal diam dengan kejadian ini, dan saya akan tetap mencari tahu siapa orang yang sudah berusaha untuk mencelakai istri saya." Tegas Gabriel.
"Si*l kenapa jadi kaya gini si, niatnya kan cuma mau ngerjain Kanaya." Kesal Karin.
....
Tiga hari berlalu hari ini Gabriel duduk di kursi kebesaran menatap seorang wanita yang beberapa waktu lalu selalu menempel dengan nya, Gabriel tidak percaya jika Karin akan melakukan sesuatu yang membuat nya marah.
"Kenapa kau melakukan itu?" Tanya Gabriel, matanya menatap nyalang Karin.
"Gabriel aku-" ucapan Karin terhenti karena Gabriel menggebrak meja.
"Jaga sikapmu aku ini bos mu!" Tegas Gabriel.
__ADS_1
"Tu-tuan maafkan saya, sungguh saya tidak berniat untuk mencelakai Kanaya. Saya hanya-" lirih Karin.
"Hanya apa? Hanya ingin mengerjai Kanaya begitu?" Ucap Gabriel, Karin menunduk dalam ia benar-benar takut kepada sosok Gabriel.
"Ti-tidak tuan," lirih Karin.
"Kau tahu aku sangat tidak suka kepada orang yang suka bermain-main sepertimu, aku bisa saja mel*ny*pkanmu sekarang juga tapi aku teringat dengan istriku yang sedang mengandung." Ucap Gabriel.
"Maafkan saya tuan," lirih Karin.
"Maaf katamu? Tidak ada maaf untuk orang sepertimu Karin, pergi dari sini dan jangan pernah menunjukkan batang hidungmu lagi di hadapanku. Jika kau masih berani melakukannya maka aku tidak akan segan-segan membuatmu menyesal." Ucap Gabriel, Karin mendongak menatap Gabriel.
"Sebesar itukan cintamu kepada gadis m*s*in itu?" Ucap Karin mulai berani, Gabriel bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Karin.
"Siapa yang kau sebut gadis m*s*in? Dia itu istriku ibu dari anakku beraninya kau mer*nd*hkan dia di hadapanku?" Ucap Gabriel, tatapan nyalang dengan rahang yang mengeras.
"G-gabriel aku mencintaimu apakah kamu tidak melihatnya?" Ucap Karin.
"Aku tidak melihat itu karena yang aku lihat hanya istriku, dan aku tidak peduli dengan apa yang kau rasakan!" Ucap Gabriel.
"Kau jahat," teriak Karin.
"Aku memang jahat apalagi yang kau lakukan ini menyangkut istri dan anakku, Gio bawa wanita ini pergi dan pastikan dia tidak bisa kembali ke kota ini!" Ucap Gabriel, Karin terbelalak mendengar perkataan Gabriel.
"Kau ingin mengasingkan aku?" Ucap Karin takut, Gabriel tersenyum smirk membuat nyali Karin menciut.
"Kau sudah tahu siapapun yang berurusan denganku tidak akan bisa menikmati indahnya dunia ini Karin, kau terlalu melebihi batasanmu." Ucap Gabriel, Karin menggelengkan kepalanya.
"Enggak aku gak mau, Gabriel tolong jangan lakukan ini." Teriaknya memohon.
"Bawa dia Gio," ucap Gabriel, Gio pun mengangguk dan menyeret Karin pergi dari sana.
"Gabriel, hiks aku gak mau tolong jangan lakukan ini kepadaku." Teriak Karin.
Namun Gio dan Gabriel seakan tul* tidak mau mendengar suara parau dari tangisan Karin, bukankah seharusnya Karin tahu seperti apa Gabriel? Kenapa dia lebih berani untuk menantang Gabriel, sepertinya Karin tidak tahu jika sampai saat ini saja Safira masih mencari posisi aman agar tidak membuat Gabriel murka.
Jika Safira melakukan hal ceroboh seperti Karin sudah dapat dipastikan ia dan keluarganya tidak akan bahagia seperti saat ini, meskipun sekarang Safira masih bersikeras menganggap Gabriel ayah dari anaknya.
__ADS_1