Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam
Epson 168


__ADS_3

Usia kandungan Kanaya sudah menginjak Minggu ke 16 yakni 4 bulan, dan hari ini Kanaya memutuskan untuk menginap di rumah orang tuanya.


Karena beberapa hari lalu ayah dan bundanya yang datang ke kediaman Darren untuk mengadakan syukuran 4 bulanan untuk janin yang dikandung oleh Kanaya, dan hari ini gantian Kanaya yang menginap dirumah sang bunda.


"Nay kamu sudah bangun nak," ucap Sintia.


"Bunda Naya selalu bangun pagi bund, lupa ya kalau menantunya harus pergi ke kantor pagi-pagi." Ucap Kanaya.


"Haha iya loh, oiya nay kenapa kemarin sikap nya Gabriel ke nak Cindy kok kaya dingin gitu ya." Ucap Sintia.


"Entahlah bund Kanaya sendiri bingung, tapi biarkan saja Kanaya gak mau ambil pusing dengan hal itu." Ucap Kanaya.


"Ih kamu ini jangan begitu nay, nak Gabriel dengan nak Cindy kau bersaudara ya gak baik jika seperti itu." Ucap Sintia.


"Cih, semua itu baik dan wajar-wajar saja bund." Ucap Kanaya kesal, apalagi jika ia mengingat bagaimana Cindy mengungkapkan perasaan di hadapan semua keluarga beberapa waktu lalu.


Sintia diam ia merasa heran melihat Kanaya yang mendadak terlihat kesal, Sintia yang semula sedang menyiram tanaman pun menghentikan aktivitas nya dan duduk disamping Kanaya.


"Kamu kenapa nay ada masalah? Kamu juga kenapa kaya kesel gitu sama nak Cindy?" Ucap Sintia.


"Kanaya akan kesal kesetiap orang yang menyukai suami Kanaya bund, apalagi berani mengungkapkan perasaan nya di hadapan semua keluarga." Ucap Kanaya mencebikan bibirnya.


"Tunggu-tunggu, maksud kamu nak Cindy menyukai Gabriel nay?" Tanya Sintia.


"Hmmm, dan aku gak terima itu bund. Dia selalu menyalahkan aku saat Gabriel memanjakan aku dan calon anak nya, padahal wajar kan bund aku ini istrinya Gabriel bahkan sekarang aku sedang mengandung anak Gabriel." Ucap Kanaya.


"Ya ampun, ya kalau begitu wajar lah nay jangan biarkan bibit pelak*r ada di antara kalian. Apa-apaan bukankah nak Cindy itu kakak sepupu nya suami kamu nay." Ucap Sintia tak habis pikir.


"Hmmm, entahlah bund Naya juga heran. Lagian kenapa harus Gabriel kaya gak ada laki-laki lain aja," kesal Kanaya.


"Hush jangan lupa amit-amit jabang bayi nay kamu harus banyak amit-amit." Ucap Sintia membuat Kanaya tertawa.


"Bunda ini apaan sih pake acara amit-amit segala." Ujar nya.


"Lah iya nay katanya begitu," ucap Sintia.


"Loh Kanaya ada di rumah bu sin." Ucap seorang tetangga yang kebetulan lewat di depan rumah Kanaya.


"Iya bu kebetulan lagi nginep kangen sama bunda." Jawab Kanaya.


"Wajah kandungan nya sudah berapa bulan neng?" Tanya nya lagi.


"Sudah empat bulan lebih bu," ucap Kanaya tersenyum tipis.


"Alhamdulillah sehat-sehat ya neng, suaminya mana neng gak ikut?" Tanya ibu tersebut.

__ADS_1


"Ada di dalam bu suami saya sedang mengerjakan pekerjaan nya di dalam." Jawab Kanaya ramah.


"Beruntung nya neng Kanaya mendapatkan suami baik dan bertanggung jawab." Ucap ibu tersebut.


"Iya bu Alhamdulillah saya selalu bersyukur," balas Kanaya.


"Loh Naya ada di rumah nay." Ucap tetangga yang lainnya.


"Iya lagi pulang mbak kangen sama bunda," balas Kanaya, orang-orang di komplek tempat tinggal orang tua Kanaya memang cukup ramah-tamah.


"Oh iya nay kalau kangen bunda pulang aja, suami kamu mana?" Ujar mbak Novi.


"Di dalam mbak lagi ngerjain pekerjaan nya." Ucap Kanaya.


"Mumpung ada Kanaya kita ngerujak rame-rame yuk enak kali panas-panas seperti ini." Ucap mbak Novi.


"Haha, emang buah nya ada mbak?" Tanya Kanaya.


"Ada lah gampang kita minta sama pak Samsul nay." Ucap mbak Novi.


"Naya ikut ya mbak, sebentar Naya ijin sama suami Naya dulu." Ujarnya.


"Heh jangan nay nanti kamu capek, kamu nunggu di rumah saja." Ucap bu beti.


"Gak apa-apa bu Naya juga pengen jalan-jalan di komplek." Ucap Naya.


"Haha tinggal bawa kipas bu." Ucap Kanaya.


"Honey," panggil Gabriel.


"Nah tuh pangeran nya sudah keluar, sudah kamu nunggu di rumah saja ya neng gelis." Ucap mbak Nia.


"Sayang aku mau ikut ibu-ibu nyari buah buat ngerujak boleh ya." Ucap Kanaya.


"Kemana?" Tanya Gabriel menatap Kanaya.


"Ke rumah pak Samsul." Ucap Kanaya.


"Pak Samsul yang rumah nya dimana bund?" Kali ini Gabriel bertanya kepada Sintia.


"Yang ada di pertigaan depan itu loh nak, udah di larang sama ibu-ibu tapi anaknya ngeyel." Ucap Sintia.


"Boleh tapi harus sama Laura, bentar aku telpon Laura dulu ya biar kamu ada yang jaga honey." Ucap Gabriel.


"Lama dong," protes Kanaya.

__ADS_1


"Ya gimana daripada aku yang jaga kan gak mungkin aku ikut sama ibu-ibu rempong." Ucap Gabriel, membuat Sintia tertawa.


Kanaya pun pasrah begitupun dengan ibu-ibu tetangga Kanaya, mereka begitu sabar menunggu kedatangan Laura.


Beruntung Laura ditemani oleh Gio jadi bisa sampai hanya dengan waktu 1 jam, karena jalanan cukup lenggang dan tidak macet. Yang seharusnya menempuh waktu hampir tiga jam, tapi karena Gio sedang cosplay jadi pembalap hanya dengan satu jam mereka sudah berada di depan rumah Kanaya.


"Ra lo kenapa?" Tanya Kanaya.


"Gila si pak Gio kalau mau ngejoki sendiri aja lain kali jangan ngajak-ngajak saya belum nikah pak." Heboh Laura, membuat para ibu-ibu disana tertawa.


"Ya gimana gak ngejoki si Ra lupa siapa yang nyuruh kita kesini, noh orang yang bilang jangan lebih dari satu jam." Ucap Gio menunjuk Gabriel.


"Tuan lain kali jangan seperti itu, saya belum menikah tuan." Ucap Laura.


"Lagian kan kantor kesini gan terlalu jauh waktu satu jam harus nya cukup." Ucap Gabriel enteng.


"Masalahnya kita lagi gak di kantor tuan, kita sedang menemui klien." Ucap Laura.


"Ya mana saya tahu," jawab Gabriel.


"Enak ya nay punya suami bos pengen apa aja langsung tring ada deh." Ucap mbak Novi, Kanaya hanya tersenyum saja menanggapi itu.


"Jadi tuan ada apa minta saya untuk kemari?" Tanya Laura.


"Temani Kanaya pergi dengan ibu-ibu itu keliling komplek nyari buah katanya." Ucap Gabriel.


"H-hah?" Ucap Laura tak percaya.


"Kenapa?" Tanya Gabriel.


"Tuan lama-lama saya resign dari kantor dan ngelamar Hadi asisten Kanaya tuan jika seperti ini." Ucap Laura, kembali membuat semua orang tertawa.


"Gak bisa gitu kantor membutuhkan kamu, tapi Kanaya lebih membutuhkan kamu." Ucap Gabriel, Laura frustasi mendengar perkataan bos nya.


"Andai saja saya bisa membelah diri sudah sejak lama saya belah diri tuan." Ucap Laura kesal.


"Laura gaji kamu akan berbeda dengan karyawan lain," ucap Gabriel membuat Laura sontak menatap tuan nya.


"Benarkah?" Tanya Laura.


"Hmmm, asal kamu selalu ada saat saya meminta kamu untuk menemani istri saya." Ucap Gabriel.


"Ah gampang itumah tuan dua kali lipat bisa kali." Canda Laura.


"Saya bisa memberikan lebih dari itu," ucap Gabriel sontak membuat Laura menjerit dan melompat kegirangan.

__ADS_1


"Waaaaaa, ayo akan ku jaga kamu dengan sangat baik." Ucap Laura menggandeng tangan Kanaya.


Semuanya kembali tertawa melihat tingkah konyol Laura, begitupun Gio ia tak habis pikir dengan wanita yang beberapa waktu ini selalu berada di dekatnya.


__ADS_2