
Kanaya baru saja pulang dari kantor dan melenggang masuk kedalam rumah, ia melihat Freya yang sedang berbincang dengan kepala pelayan di rumah itu.
"Mam," panggil Kanaya, Freya pun menoleh dan tersenyum kepada sang menantu yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri.
"Sayang kamu sudah pulang hmmm, dimana Gabriel kenapa kamu pulang sendiri?" Ucap Freya, Kanaya tersenyum bingung harus menjawab apa.
"Itu mam-" belum sempat Kanaya menjawab, suara seorang gadis memecah obrolan keduanya.
"Kak Naya," panggil Adisty.
"Iya Adisty kenapa," balas Kanaya.
"Loh ada mami, hehe maaf ya mam aku pinjam kakakku sebentar." Ucap Adisty.
"Hmmm, mentang-mentang sudah memiliki kakak perempuan maminya di lupain nih." Goda Freya pura-pura merajuk.
"Eh, gak gitu mam tapi kali ini aku benar-benar membutuhkan bantuan kak Naya boleh kan." Ucap Adisty mengedipkan matanya dengan lucu.
"Haha, yasudah tidak apa-apa bawa saja kakak perempuan kamu ini sayang." Ucap Freya, Adisty pun tersenyum senang.
"Eummm, makasih banyak mami." Ujarnya, tak lupa juga ia mengecup lembut pipi sang mami.
"Sama-sama baby girl," balas Freya.
"Ayok kak aku butuh sekali bantuan kakak." Ujarnya.
"Hmmm, kamu ini kenapa si dek apa yang kamu butuhkan dari kakakmu ini haha." Ucap Kanaya seraya tertawa.
"Banyak sekali yang aku butuhkan kak, eum aku akan pergi ke pesta ulang tahun temanku dan aku ingin kakak membantu aku memilih gaun dan berdandan." Ujarnya, Kanaya tersenyum manis kepada Adisty.
"CK, baiklah let's go." Ucap Kanaya, keduanya berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamar Adisty.
"Non Kanaya baik ya nyonya, bahkan nona muda yang sulit sekali akrab dengan orang lain saja bisa begitu dekat dengan non Kanaya." Ucap kepala pelayan, yang menyaksikan kedekatan Adisty dengan Kanaya.
"Benar mbak, saya bahkan tidak menyangka jika keduanya akan dekat. Setelah Gabriel resmi menikah dengan Kanaya Cindy selalu menyudutkan saya, gadis cantik itu selalu mengatakan jika saya egois karena memaksa Gabriel untuk menikah dengan Kanaya." Ucap Freya.
"Ah nyonya non Cindy mungkin iri, orang non Kanaya baik gitu kok buktinya selama menikah dengan tuan muda saya belum pernah mendengar non Kanaya dan tuan Gabriel bertengkar. Kalau tuan Gabriel tidak nyaman mungkin akan sering bertengkar, ini gak ada sama sekali nyonya." Ucap mbak, Freya tersenyum dan mengangguk lalu menatap mbak.
__ADS_1
"Itu artinya saya gak salah kan mbak menikahkan mereka berdua." Tanya Freya.
"Ya tentu tidak lah nyonya, apa yang nyonya lakukan itu sudah benar. Jaman sekarang sulit nyonya mencari pasangan ataupun menantu yang baik, tapi nyonya berhasil mendapatkan itu untuk tuan Gabriel. Selain menjadi pasangan yang baik non Kanaya juga sudah menjadi ipar yang baik untuk nona muda, bahkan setelah non Kanaya tinggal disini saya jarang melihat nona muda keluar dari rumah." Ucap mbak.
"Kamu benar mbak, nyatanya mama dan Daddy saja begitu menyayangi Kanaya." Ucap Freya.
"Lah gimana gak sayang nyonya orang menantunya nyonya wanita yang baik, gak neko-neko kok. Jangankan nyonya besar dan tuan besar kami para pekerja saja menyukai non Kanaya." Ucap mbak lagi.
"Doakan Kanaya dan Gabriel ya mbak agar mereka bisa saling mencintai dan segera memberi saya cucu, rasanya saya tidak sabar untuk menggendong bayi mungil." Ucap Freya.
"Nyonya tenang saja saya akan selalu mendoakan yang terbaik untuk keluarga dan keturunan nyonya, anda orang yang baik nyonya. Saya bekerja dengan anda sejak saya masih gadis sampai sekarang saya menjadi janda, haha." Ucap mbak, Freya tersenyum menatap mbak.
"Mbak yang terbaik " Ucap Freya mengusap pundak mbak.
"Terimakasih nyonya." Ujarnya.
Ya mbak memang ikut dengan Freya saat wanita itu bahkan belum menikah dengan Darren dan mbak sendiri masih gadis, usia mbak dan Freya terpaut 10 tahun tapi meskipun begitu keduanya terlihat dekat.
...
"Adisty kamu ngapain disini," bukannya menjawab Alice malah balik bertanya.
"Aku mau ke rumah belakang mau manggil mbak." Jawab Adisty.
"Kamu sudah pulang dari pesta?" Tanya Gio.
"Hmmm, aku baru pulang sekitar beberapa menit yang lalu." Jawab Adisty.
"Ssttt, sini-sini kita itu sedang menjalankan misi." Ucap Alice.
"Misi, misi apa?" Tanya Adisty bingung.
Sementara itu di kamar Gabriel sedang menatap Kanaya yang mematung di depan pintu kamar mandi, Kanaya pikir Gabriel belum pulang mangkanya ia keluar dari dalam kamar mandi hanya mengenakan handuk nya saja.
"K-kau sudah pulang," ucap Kanaya terkejut.
"Hmmm," balas Gabriel, jujur saja saat ini jiwa lelaki nya sudah meronta-ronta.
__ADS_1
"Aku, aku-" ucapan Kanaya terhenti karena tiba-tiba saja lampu kamarnya mati.
"Gabriel, Gabriel kau dimana aku takut." Ucap Kanaya panik.
"G-gabriel tolong, Gabriel." Teriaknya.
"Nay tenang hey ini aku jalan ke arah kamu." Ucap Gabriel, Kanaya yang panik terburu-buru berjalan mendekati Gabriel dan-
Bruukkk, Kanaya tersandung dan menabrak tubuh Gabriel hingga keduanya terjatuh. Posisi Kanaya saat berada tepat di atas Gabriel.
"Hiks, ak-aku takut." Lirihnya menangis.
"Hey, jangan menangis ada aku disini Kanaya." Ucap Gabriel, ia memeluk Kanaya berusaha menenangkan wanitanya itu.
Dengan masih memeluk Kanaya yang berada di atas tubuh nya, Gabriel juga berusaha untuk bangun dan membawa Kanaya untuk duduk di kasur.
"Nay kita pindah ke kasur ya." Ucap Gabriel, ia menyentuh tangan Kanaya.
Glekkk, tanpa sengaja tangan Gabriel menyentuh sesuatu yang keny*l tentu saja ia tahu apa yang baru saja ia sentuh secara tak sengaja.
"Arrggghhh, si*l tangan gue kenapa pake meleset segala si." Batin Gabriel, sementara Kanaya masih terus memeluk Gabriel dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Gabriel.
"Na-nay," panggil Gabriel dengan suara beratnya.
"Gabriel," lirih Kanaya, keduanya bertatapan dalam kegelapan dan_
Dan tentu kita tahu apa yang mereka lakukan, Gabriel menjelajahi wajah cantik Kanaya tak lupa juga ia meninggalkan beberapa tanda kepemilikan nya di dada dan leher Kanaya.
Gabriel belum melakukan hal lebih jauh karena ia tak mau mengambil keuntungan dari rasa ketakutan Kanaya, ia ingin melakukan penyatuan jika Kanaya juga menginginkannya.
Untuk sekarang sudah cukup ia menenangkan Kanaya yang ketakutan jingga istrinya itu terlelap, saat Kanaya terlelap Gabriel buru-buru keluar dari kamar dengan penampilan yang berantakan.
Namun saat membuka pintu kamar ia terkejut bukan main melihat beberapa ruangan yang menyala, Gabriel mengerutkan keningnya.
"Bukankah mati lampu kenapa beberapa ruangan menyala." Pikirnya, tak hanya itu ia juga menyalakan lampu di lorong depan kamarnya.
Saat Gabriel merasa ada yang tidak beres tiba-tiba saja lampu di kamarnya kembali menyala, tentu saja lelaki itu bingung bukan kepalang.
__ADS_1