Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam
Epson 174


__ADS_3

Meisya berjalan keluar dari kantor dengan ponsel di tangan nya sampai tiba-tiba langkahnya terhenti karena di hadang oleh seseorang, Meisya menatap datar orang yang kini berdiri di hadapannya yang saat ini tengah menatap Meisya dengan tatapan sendu.


"Mei," lirih Leo.


Leo sengaja menemui Meisya dan berharap jika lelaki itu mau memaafkan dirinya dan mencabut tuntutan terhadap Cindy, namun ternyata Meisya malah bersikap dingin dan mencari jalan lain untuk menghindari Leo.


"Mei tunggu sayang aku ingin bicara," panggil Leo menarik tangan Meisya.


"Kamu apa-apaan sih, ngapain kamu kesini?" Ucap Meisya dingin.


"Aku minta maaf sayang tolong jangan seperti ini, Mei aku gak mau kita pisah." Ucap Leo membuat Meisya tertawa sinis.


"Kamu telat mas, aku sudah mengajukan berkas perceraian kita ke pengadilan! Seharusnya jika kamu tidak mau berpisah denganku kamu tidak mengakiti aku secara berulang-ulang." Ucap Meisya.


"Sya aku menyesal, tolong kasih aku kesmpatan lagi sya." Ucap Leo.


"Rasa menyesal kamu sudah tidak ada artinya lagi mas, semuanya sudah terlambat dan aku harap cukup untuk mengganggu hidupku lagi." Ucap Meisya berlalu meninggalkan Leo yang ,mematung.


"Sya aku salah, aku saar jika tidak ada wanita yang sebaik dan se sabar kamu. Jika yang aku nikahi wanita lain mungkin wanita itu tidak akan sudi untuk menerima dan merawat Cindy, tapi kamu sya, kamu dengan bangga nya mengatakan jika Cindy adalah putri kita sampai akhirnya kamu dikecewakan oleh kami." Lirih Leo.


"Penyesalan memang selalu datang paling akhir, mangkanya anda sebelum melakukan sesuatu yang mungkin akan merugikan diri anda itu dipikir dulu. Anda dengan lantang mengatakan jika anda tidak akan jatuh cinta kepada Meisya yang hanya anak angkat, apakah anda tahu jika Alex Gustove dan Meira Gustove tidak pernah membeda-bedakan Freya dan Meisya begitupun dengan Alice sekarang." Ucap Darren yang berdiri di belakang Leo.


"Darren," gumam Leo dengan wajah penuh kebenc*an.


"Ya ini saya, apakah saya membuat kamu terkejut?" Tanya Darren santai.


"Bed*b*h! Semua ini tidak akan terjadi jika kamu tidak mengungkap fakta kematian ayah Kanaya." Ucap Leo, Darren tersenyum miring mendengar perkataann mantan kakak iparnya itu.


"Anda fikir saya akan diam saja saat ada orang yang berniat untuk menghancurkan anak dan menantu saya? Putrimu yang bo*oh tidak berpikir panjang sebelum bertindak Leo, lihat sekarang karena ambisi malah membuat kacau semuanya bukan." Ucap Darren.


"Berhenti menyudutkan Cindy kepar*t," umpat Leo.


"Nikmati saja  hidupmu bro," balas Darren menepuk pundak Leo dan pergi dari sana.


Leo mengepalkan tangan nya mendengar perkataan Darren, ia iri dengan kebahagiaan Darren tentu saja Leo ingin membuat Darren hancur namun sulit jika harus menghancurkan Darren. Jika begitu maka Leo akan menggunakan cara lain untuk membuat Darren terpuruk.

__ADS_1


...


"Kamu sudah pulang sayang?" Tanya Kanaya saat melihat suaminya berjalan masuk kedalam rumah.


"Iya sayang aku kangen sama kamu," balas Gabriel memeluk Kanaya dan mengecup b*b*r sang istri sekilas.


"CK, manja sekali kamu ini." Ucap Kanaya tertawa kecil.


"Cih, aku hanya akan bermanja kepada istriku." Ucap Gabriel, Kanaya pun tersenyum dan menatap Gabriel dengan sendu.


"Kenapa sayang apa ada yang kamu pikirkan?" Tanya Gabriel.


"Jika nanti aku dan bayi kita tidak ada apakah kamu akan tetap mencari dan merindukan aku?" Tanya Kanaya tiba-tiba.


"Kanaya oh my God, apa yang kamu katakan? Kamu tidak akan kemana-mana nay kamu akan tetap disini bersama dengan aku dan anak kita." Ucap Gabriel, Kanaya tertawa menatap wajah kesal sang suami.


"CK, baiklah kalau begitu maka aku akan selalu disini." Ucap Kanaya.


Keesokan harinya Kanaya meminta Alice dan Adisty untuk menemani dirinya ke pusat perbelanjaan, tentu saja Adisty dan Alice dengan senang hati menemani ibu hamil yang cukup menguras kesabaran ini.


"Kita mau belanja dulu atau makan dulu kak?" Tanya Adisty.


"Boleh deh kasihan juga baby nya pasti lapar juga kan." Ucap Adisty.


"Nah iya itu, yasudah kita makan dulu berarti ya." Ucap Kanaya.


Setelah selesai makan mereka pergi ke segala toko barang branded, namun tiba-tiba langkah Kanaya terhenti saat melihat Safira mantan kekasih sang suami yang menghadang langkah nya.


"Wow, ada nona Dirgantara disini." Ucap Safira.


"Ngapain lo," ucap Alice.


"Gue gak bicara sama lo ya jadi sebaiknya lo diem deh Lice, lo gak usah sok jadi pahlawan kesiangan." Ucap Safira.


"Apaan sih ni orang gak jelas banget," ucap Adisty.

__ADS_1


"Gue gak nyangka ya lo berdua Alice dan Adisty kalian lebih membela dia orang baru, dibandingkan dengan Cindy saudara kalian." Ucap Safira.


"Lo gak tau apa-apa mendingan lo diem deh Ra, ini semua juga gara-gara lo! Andai lo gak kenalin Cindy ke sepupu lo ke siapa lah itu dia gak mungkin hamil tanpa suami Ra, sebenernya bukan kita yang hancurin Cindy tapi elo!" Ucap Alice.


"Heh lo nyadar kalau bukan karena tante Freya maksa Gabriel nikah sama dia, gue dan Cindy gak akan kaya gini." Teriak Safira.


"CK, terus maksudnya lo berdua mau jadi istri Gabriel gitu? Lo rela berbagi hah? Gak mungkin, lagian Gabriel gak akan mau sama cewek model kalian!" Ucap Alice pedas.


"Pantes Cindy benci sama lo Lice, lo itu tidak mencerminkan bahwa lo itu seorang saudara!" Ucap Safira.


"Ya lo bener karena sejatinya gue dan Cindy memang bukan saudara, puas lo!" Ucap Alice.


"Maksud lo?" Tanya Safira.


"Kak kamu hanya orang luar jadi gak usah selalu ingin tau soal keluargaku!" Telak Adisty membuat Safira tercengang mendengar nya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2