Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam
Epson 72


__ADS_3

Keesokan paginya Freya terbangun lebih dulu ia merasa perih di area sensitifnya, ia mengingat kejadian tadi malam yang membuat wajah nya kembali merona.


"Assh." Desis Freya, dengan pelan-pelan ia melepaskan pelukan Darren hingga membuat lelaki itu ikut terbangun.


"Sayang mau kemana?" Tanya Darren.


"Aku mau mandi Darren." Balas Freya.


"Apa masih sakit?" Tanya Darren, ia tahu Freya merasa sakit.


"Sedikit." Balas Freya, Darren pun langsung mengusap wajah nya lalu kembali mengambil pakaian dan memakainya.


"Biar aku bantu." Ucap Darren, dengan cepat Freya menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Aku sudah tahu semuanya sayang tidak perlu di tutup-tutupi lagi." Goda Darren, membuat Freya mencebikan bibirnya.


Darren menggendong tubuh mungil Freya kedalam kamar mandi, ia menurunkan istrinya dengan hati-hati.


"Kita mandi bersama." Bala Darren, membuat Freya membelalakkan matanya.


"Tidak." Balas Freya.


"Kenapa?" Tanya Darren.


"Tidak apa-apa aku_" Ucapan Freya terhenti karena Darren memotong pembicaraan nya.


"Tidak perlu malu sayang kita sudah saling terbuka tadi malam." Ucap Darren, Freya hanya bisa menunduk pasrah.


Setelah selesai membersihkan diri sambil berolahraga pagi Freya dan Darren pun keluar dari kamar mandi, Darren melepas sprei dan menggantinya dengan yang baru.


Freya hanya memperhatikan Darren yang begitu cekatan dalam merapikan tempat tidur, setelah selesai Darren menatap Freya yang mematung di belakangnya.


"Kenapa?" Tanya Darren.


"Darren apa yang harus aku pakai hari ini jika pakaianku sudah kembali ke Jakarta bersama dengan David." Ucap Freya memelas.


"Ck, tidak perlu khawatir sayang kita bisa membeli yang baru." Ucap Darren, Freya menggelengkan kepalanya bagaimana ia bisa pergi membeli pakaian baru jika saat ini saja tubuhnya hanya di lilit oleh handuk.


"Bagaimana aku bisa pergi jika keadaan ku seperti ini." Ucap Freya, ia duduk di samping tempat tidur.

__ADS_1


"Untuk sementara kamu pakai bajuku dulu, dan aku akan pergi membeli pakaian baru untuk kamu." Balas Darren, Freya tercengang baru kali ini ada laki-laki yang rela membelikan pakaian untuk wanita nya.


"Kamu yakin, tapi kamu tahu kan bukan hanya baju yang aku butuhkan." Ucap Freya, Darren tertawa kecil dan menangkup wajah cantik Freya.


"Aku tahu kamu tidak perlu khawatir." Ucap Darren berbicara dengan menempelkan hidung mungil Freya dengan hidung mancung milik nya, Freya mengerjapkan matanya jantung nya mulai beredar kencang seperti habis lari maraton.


"I-iya." Balas Freya, Darren pun tersenyum lalu mengelus lembut pipi Freya sebelum ia pergi.


"Ini beneran Darren kan, Darren Dirgantara lelaki yang aku nikahi beberapa bulan yang lalu." Gumam Freya, ia merasa tidak percaya dengan sikap manis Darren yang begitu lembut kepada nya.


Sementara itu Darren keluar dari parkiran hotel menuju pusat perbelanjaan terdekat, ia takut Freya kedinginan jika dirinya pergi terlalu lama.


Darren pergi memakai celana jeans hitam dan kaos hitam lengan pendek, tak lupa kacamata hitam yang selalu menambah ketampanan nya.


"Selamat datang tuan ada yang bisa kami bantu?" Tanya seorang karyawan toko pakaian, pertama-tama ia masuk kedalam toko pakaian.


Darren membeli banyak celana, baju, rok, bahkan mini dress untuk istrinya. Karena selama ini Freya memang suka berganti-ganti gaya tergantung mood nya.


"Saya beli ini semua." Ucap Darren, membuat karyawan toko itu sedikit terkejut.


"Ba-baik tuan akan saya kemas dulu." Ujar nya, dengan cepat Darren memberikan sebuah black card yang membuat para pelayan toko itu semakin tercengang.


"Kira-kira ini untuk siapa nya ya istrinya atau kekasih nya." Ucap yang lain.


"Tidak tahu juga, tapi bagaimana jika ini untuk simpanan nya." Para karyawan itu pun terpesona dengan ketampanan dan kekayaan Darren, Darren menyadari jika saat ini dirinya jadi bahan perbincangan para karyawan toko.


"Ini tuan dan ini total nya." Ucap seorang karyawan wanita.


"Oke terimakasih, dan satu lagi ini untuk istri saya." Ucap Darren, ia mengambil barang belanjaan nya dan setelah itu Darren pergi ke toko sebelah untuk membeli kacamata pelindung dan segitiga pengaman.


"Selamat datang tuan ada yang bisa saya bantu." Ucap seorang karyawan wanita, membuat beberapa pengunjung disana mencuri-curi pandang kepada Darren.


"Saya mau beli ini dan ini." Ucap Darren menunjukan ukuran yang Freya pakai, darimana Darren tahu? Tentu saja karena semalam tangan nya begitu aktif bermain di gunung terlarang milik Freya.


"I-ini tuan?" Tanya karyawan toko begitu terkejut.


"Ya saya membeli semua ukuran ini." Balas Darren, para pengunjung toko pun terlihat begitu terkejut.


"Waaah, suami siapa tuh keren banget mau beliin pelindung istrinya." Ucap seorang ibu-ibu.

__ADS_1


"Benar sekali, tapi ngomong-ngomong itu untuk istrinya atau kekasihnya ya. Tahu sendiri lelaki jaman sekarang masih pacaran saja sudah berani adu kekuatan." Ucap yang lainnya.


"Benar tuh." Ucap yang lain nya lagi.


Lagi-lagi Darren menjadi pusat perhatian para wanita disana, namun ia tak peduli dengan mereka yang sedang bergosip. Yang Darren pikirkan saat ini hanya Freya, ia takut jika saat ini istrinya merasa kedinginan.


"Ini tuan dan ini total nya." Ucap seorang karyawan toko ini.


"Ini." Ucap Darren memberikan sebuah black card.


"Widih tajir say." Ucap ibu-ibu.


"Wajahnya agak familiar ya." Balas yang lainnya.


"Benar sekali seperti pernah melihat tapi dimana ya." Sahut ibu-ibu yang lainnya, setelah selesai dengan urusan bayar membayar Darren pun memutuskan untuk segera kembali ke hotel tempat ia dan Freya menginap.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading πŸ€—πŸ˜‰ jangan lupa like komen dan vote nya πŸ™β˜ΊοΈ


__ADS_2