
Keesokan harinya Fira memutuskan untuk menemui Gabriel, ia tak terima dengan apa yang dikatakan oleh Freya kemarin. Jujur saja saat ini Fira sudah begitu mencintai Gabriel, gadis itu membuka ruang kerja kekasihnya dan langsung berdiri di samping Gabriel dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Fira kamu kenapa?" Tanya Gabriel bingung, lelaki itu berdiri dari tempat duduknya.
"Gabriel jangan tinggalin aku sayang aku benar-benar mencintai kamu." Lirih nya.
"Apa maksud kamu?" Tanya Gabriel bingung.
"Kemarin_" Fira pun menceritakan tentang pertemuan nya dengan Freya, bahkan Fira juga mengatakan jika Freya meminta Fira untuk meninggalkan Gabriel.
Fira berharap dengan dia menceritakan semua itu kepada Gabriel akan membuat Gabriel sadar, jika mami nya tidak sebaik apa yang Gabriel pikirkan selama ini. Nyatanya mami Gabriel begitu jahat karena ingin memisahkan dirinya dengan Gabriel, dan hal itu membuat Gabriel diam tanpa menjawab aduan Fira.
"Mami kamu jahat Gabriel dia ingin memisahkan kita, hiks." Lirih Fira.
"Mami gak jahat fir." Ucap Gabriel.
"No Gabriel, mami kamu jahat nyatanya dia meminta aku untuk meninggalkan kamu padahal kamu putranya." Ucap Fira lagi.
"Mami gak jahat Fira itu semua atas permintaan aku." Ucap Gabriel dengan suara yang sedikit tinggi, membuat Fira tersentak mendengar nya.
Gabriel sengaja melakukan itu untuk melindungi nama sang mami, bagi Gabriel Freya adalah mami terbaik meskipun kini mami nya itu sedang bersikap egois.
"T-tapi Gabriel." Lirih Fira.
"Apa yang dikatakan oleh mami itu benar sebaiknya kita akhiri hubungan ini sekarang fir." Ucap Gabriel.
"Apa?!" Pekik Fira.
"Ya, maaf aku sudah tidak bisa melanjutkan ini bersama kamu. Terserah kamu mau menganggap aku jahat atau apa aku tidak peduli, kamu tahu bagiku mami segalanya untuk aku." Ucap Gabriel.
"Sayang aku gak mau kehilangan kamu." Lirih Fira.
"Tapi kita harus mengakhiri ini Fira." Ucap Gabriel.
"Kenapa kamu gak perjuangin aku Gabriel, kenapa kamu mengikuti keegoisan mami kamu?" Teriak Fira.
"Pergi dari sini fir aku tidak ingin kamu ganggu!" Tegas Gabriel, lelaki itu kembali duduk dan fokus lagi dengan pekerjaannya.
"Kamu jahat Gabriel, hiks." Lirih Fira, wanita itu berjalan keluar dari ruangan Gabriel.
...
Dan di sebuah rumah yang tidak terlalu besar dan tidak juga terlalu mewah Sintia menghampiri Kanaya, namun sebelum itu ia mengetuk pintu kamar Kanaya lebih dulu.
Tok...Tok....Tok....
"Nay ini bunda, apakah kamu sedang sibuk sayang?" Ucap Sintia diluar kamar putrinya.
Pintu pun terbuka memperlihatkan wajah cantik Kanaya, gadis cantik itu tersenyum lembut kepada sang bunda.
"Ada apa bund?" Tanya Kanaya.
__ADS_1
"Bunda dan ayah ingin bicara dengan kamu nak." Ucap Sintia.
"Baiklah aku kita ke ruang keluarga sekarang." Balas Kanaya, meskipun rumah nya tidak terlalu besar namun terlihat begitu nyaman karena memiliki ruang tamu dan ruang keluarga meskipun tidak begitu besar.
"Kanaya duduk nak." Ucap Dani sebagai ayah Kanaya.
"Iya ayah, bagaimana keadaan ayah apakah sudah membaik?" Ucap Kanaya, ia begitu khawatir dengan kondisi sang ayah.
"Kanaya ayah baik-baik saja kamu tidak perlu terlalu khawatir." Ucap Dani.
"Bagaimana aku tidak khawatir jika ayah bisa anfal kapan saja, ayah aku mohon semoga ayah akan selalu kuat dan selalu ada disamping aku dan bunda." Batin Kanaya menatap ayahnya dengan tersenyum.
"CK, baiklah sekarang ayahku baik-baik saja." Ujar nya.
"Tentu saja ayah akan sehat untuk kamu dan bunda nak." Ucap ayah.
"Harus dong ayah, oiya ngomong-ngomong apa yang ingin ayah dan bunda bicarakan?" Tanya Kanaya.
"Kanaya maaf sebelumnya jika ini akan mengejutkan kamu." Ucap Sintia.
"Ada apa bunda?" Tanya Kanaya.
"Kanaya ayah ingin menikahkan kamu dengan seseorang nak." Ucap Dani.
"Apa menikah?" Pekik Kanaya.
"Iya sayang, orang itu bersedia melunasi semua hutang-hutang ayah dan bunda dia juga bahkan bersedia menanggung biaya pengobatan ayah nak." Ucap Sintia.
"Tapi bund aku tidak mengenal siapa yang akan kalian nikahkan denganku." Ucap Kanaya.
"Bund kenapa harus menikah? Kanaya masih sanggup untuk membayar biaya pengobatan ayah dan mencicil hutang ayah dan bunda." Lirih Kanaya, kini air matanya mengalir deras.
"Kanaya kami yang tak sampai hati melihat kamu bekerja banting tulang hanya untuk membiayai kami, kami juga ingin melihat kamu bahagia dan menikmati hasil kerja kamu seperti anak-anak lainnya nak." Ucap Sintia.
"Tapi bagaimana bisa ayah dan bunda ingin menikahkan Kanaya dengan lelaki yang bahkan tidak Kanaya kenal, kenapa kalian bisa mengambil keputusan itu." Lirihnya.
"Kanaya apa yang kami lakukan untuk kebaikan dan kebahagiaan kamu nak." Ucap Dani.
"Bahagia Kanaya itu bersama ayah dan bunda." Ucap Kanaya.
"Sssstt, sayang kami akan selalu bersama kamu nak meskipun nanti kamu sudah menikah, pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk putri cantik nya bunda." Ucap Sintia, kini wanita itu memeluk Kanaya.
Selama ini Kanaya tidak pernah menangis ia selalu terlihat baik-baik saja di hadapan kedua orang tuanya, tapi kini Dani dan Sintia dapat melihat kekecewaan yang dirasakan oleh putri tunggalnya yang harus berjuang seorang diri demi Sintia dan Dani.
Keesokan harinya di kantor Kanaya berjalan di belakang Gabriel sambil melamun, tiba-tiba saja Gabriel dan Gio menghentikan langkah kakinya membuat Kanaya yang melamun menabrak punggung Gabriel.
Bruukkk....
"Asshh." Desis Kanaya mengelus kening nya, sementara Gabriel menoleh dan menatap tajam Kanaya.
"Kamu ini kalau jalan pakai mata tidak?" Ucap Gabriel.
__ADS_1
"Loh tadi aku jalan pakai mata kok tuan, tapi bagaimana bisa anda tiba-tiba ada di hadapan saya." Ucap Kanaya.
"CK, itu artinya kau tidak menggunakan matamu saat berjalan." Ucap Gabriel.
"Kenapa anda selalu mengatakan jalan itu pakai mata, apakah anda tidak menggunakan kedua kaki anda untuk berjalan." Kesal Kanaya, pagi-pagi seperti ini mood nya sudah dirusak oleh Gabriel.
"Kau." Kesal Gabriel, Kanaya yang melihat Gabriel akan marah pun langsung berlari menuju meja kerja nya.
"Haha, kenapa lagi lo sama si bos arogan itu." Ucap Laura.
"Heran apes mulu gue kalau ada dia." Keluh Kanaya.
"Hati-hati jodoh nay." Goda Laura.
"Amit-amit tujuh turunan Ra." Ucap Kanaya, kembali mengundang tawa Laura dan beberapa rekan kerja nya.
"Kanaya." Panggil Jessica.
"Iya bu." Sahut Kanaya.
"Sudah berapa kali saya bilang kepada kamu jangan pernah dekati tuan Gabriel." Ucap Jessica sinis.
"Saya tidak mendekati tuan Gabriel kok bu, tadi hanya tidak sengaja saja." Ucap Kanaya.
"Awas kamu ya kalau sampai saya melihat kamu cari perhatian lagi di hadapan tuan Gabriel." Ancam Jessica, Kanaya hanya diam saja tanpa menjawab perkataan Jessica.
"Dia kenapa lagi si selalu melabel semua lelaki tampan di kantor ini." Kesal Laura.
"Melabel?" Beo Kanaya.
"Iya seakan semua lelaki tampan disini adalah miliknya, cih." Cibir Laura, Kanaya hanya mengangkat bahu nya acuh tak acuh.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading π€π jangan lupa like komen dan vote nya πβΊοΈ