
Dipantai Kanaya menatap Daddy dan mami yang duduk beralaskan tikar dibawah pohon, sementara Adisty dan Alice sibuk berfoto untuk mereka posting di sosial media milik mereka. Tak jarang mereka juga membuat video berjoget-joget untuk di posting di aplikasi t*k*o*.
"Kenapa melamun?" Tanya Gabriel, ia memberikan sebuah kelapa lengkap dengan sedotan nya.
"Terimakasih," balas Kanaya.
"Kamu belum menjawab pertanyaan ku." Ucap Gabriel.
"Yang mana?" Tanya Kanaya tetap menatap lurus kedepan.
"Kenapa melamun," ucap Gabriel.
"Aku tidak melamun, aku hanya sedang melihat Adisty dan Alice yang terlihat begitu dekat." Ucap Kanaya.
"Hmmm, Alice dan Adisty memang sangat dekat. Jika dibandingkan dengan Cindy Adisty lebih memilih dekat dengan Alice." Ucap Gabriel.
"Benarkah, kenapa begitu?" Tanya Kanaya heran.
"Adisty merasa jika Cindy terlalu berusaha mencari perhatianku, dan terkesan ikut campur dalam urusan pribadi ku. Maka dari itu dia sangat tak menyukai Cindy." Ucap Gabriel, ia juga menatap lurus dimana Adisty dan Alice berada.
"Apakah kamu juga merasa seperti itu?" Tanya Kanaya, ia menatap Gabriel yang duduk disampingnya.
"Hmmm, aku merasa Cindy terlalu ikut campur dalam urusanku dan aku tidak suka itu." Ucap Gabriel tersenyum, Kanaya terkesima melihat ketampanan sang suami.
"Apakah jika aku yang ikut campur dalam urusan pribadi mu, kamu juga tidak akan menyukainya?" Tanya Kanaya tiba-tiba.
"CK, kau ini bicara apa. Tentu saja tidak Kanaya untuk apa aku marah atau tidak nyaman jika kamu mencampuri urusan ku." Ucap Gabriel.
"Tapi nyatanya kau tak nyaman saat Cindy ikut mencampuri urusan mu." Ucap Kanaya, ia mencari kebenaran dari tatapan Gabriel yang saat ini menatapnya.
"Kamu dan Cindy itu berbeda Kanaya, Cindy hanya kakak sepupuku yang tidak berhak untuk ikut campur apapun yang terjadi dalam hidup ku, berbeda dengan kamu. Kamu istriku tentu saja kamu berhak untuk mencampuri nya, kamu berhak mengatur kehidupan ku selagi itu untuk kebaikan." Ucap Gabriel, Kanaya diam mulutnya sedikit terbuka karena tidak menyangka dengan apa yang dikatakan oleh Gabriel.
__ADS_1
"Khem, begitukah?" Ucap Kanaya, mencoba untuk menyembunyikan kegugupan nya.
"Hmmm, meskipun aku menikahimu karena terpaksa. Dan pernikahan kita berawal dari keterpaksaan itu bukan masalah utukku, dan aku tidak akan mengakhiri pernikahan ini aku menerima kamu sebagai istriku dan aku harap kau juga bisa menerimaku sebagai suamimu." Ucap Gabriel, Kanaya menolehkan wajahnya ia kembali menatap Adisty dan Alice di depan sana.
"Bagaimana aku bisa menerima seseorang yang bahkan tidak mencintaiku?" Lirih Kanaya, Gabriel menoleh menatap Kanaya dengan sendu.
"Apakah sikapku selama ini belum cukup untuk membuktikan bahwa aku mencintaimu?" Ucap Gabriel, Kanaya terkejut ia refleks menoleh menatap Gabriel.
"Ma-maksud nya?" Tanya Kanaya.
"Aku bukan laki-laki romantis yang akan banyak bicara tentang cinta nay, aku hanya memperlihatkan cintaku dengan tindakanku. Aku pikir selama ini aku bersikap baik, bersikap lembut sudah membuat kamu sadar bahwa aku mulai jatuh hati kepadamu." Ucap Gabriel, Kanaya menatap Gabriel berusaha mencari kebohongan dari tatapannya.
Namun nihil yang Kanaya lihat hanyalah ketulusan dan gemuruh cinta yang besar, tanpa sadar air mata Kanaya menetes.
Tiga bulan memasang dinding yang tinggi dan kokoh di antara keduanya ternyata lambat lain runtuh juga, Kanaya yang membangun dan Gabriel yang meruntuhkannya.
"Aku pikir aku harus terus memasang dinding di antara kita." Lirih Kanaya, Gabriel menggelengkan kepalanya tersenyum manis.
"Enggak nay, aku kalah hati ini terlalu berat untuk berpaling dari kamu." Ucap Gabriel, Kanaya tersenyum tipis ia teringat dengan kedua orang tuanya.
"Kita sama-sama kalah Gabriel," ucap Kanaya.
"Nay aku mencintai kamu, maukah kamu menjalankan pernikahan ini dengan sungguh-sungguh? Maukah kamu menjadi istri dan ibu dari anak-anakku kelak?" Ucap Gabriel, dengan wajah merona Kanaya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Melihat respon Kanaya tentu saja Gabriel merasa senang, bahkan melebihi dari rasa senang saat mendapatkan tender besar dalam bisnis nya.
Gabriel mendekatkan wajahnya ke wajah Kanaya dan, ya keduanya berc*m*u sampai Alice dan Adisty yang sibuk di depan sana terkejut dengan kejadian dihadapan nya.
"Apakah ini yang dinamakan drama Korea real life." Ucap Adisty.
"Ini melebihi dari drama yang sering kita tonton Adisty." Ucap Alice.
__ADS_1
"Benar, ini lebih membahagiakan dari apapun." Ucap Adisty.
Freya dan Darren yang merasa heran karena Adisty dan Alice terdiam dan seperti sedang menatap sesuatu pun ikut menoleh, Freya dan Darren terbelalak melihat putri bungsunya sedang menyaksikan keromantisan ala-ala drama Korea.
"Ya salam sayang anak kamu tuh, mau mesra-mesraan kok gak lihat tempat." Ucap Darren.
"Anak kamu juga itumah dad, kebiasaan kebiasaan yang jelek-jelek nya selalu dibilang anakku, jelas-jelas kelakuan nya kaya kamu main sosor aja." Ucap Freya mencebikan bibirnya.
"Tapi nyatanya Gabriel itu anak kamu sayang," Ledek Darren, padahal hatinya senang karena melihat itu.
Artinya Gabriel sudah mulai mencintai sang menantu, dan itu akan membuat Darren juga Freya segera memiliki cucu yang selama ini mereka idam-idamkan.
Freya dan Darren pun bangun untuk menghampiri anak juga menantu nya, kini mereka sudah berada di dekat Gabriel dan Kanaya namun keduanya tidak menyadari kehadiran Freya dan Darren.
"Apakah kita perlu menyewa kamar?" Ucap Darren, membuat Gabriel dan Kanaya terkejut menjauhkan diri masing-masing.
"Haha, gak usah kaget gitu dong sayang. Lagian kamu juga boy main sosor saja, hotel disini banyak jangan bikin malu lah." Ucap Darren, Gabriel diam ia menggaruk ujung alisnya.
"Yaaaah, mami dan Daddy ganggu aja sih. Kita kan lagi liat drama in real life." Teriak Adisty yang duduk di depan sana, membuat Kanaya membulatkan matanya.
"Tau nih kak Freya dan kak Darren, bersambung dah belum juga happy ending." Balas Alice.
"Heh, haish kalian ini dipikir ini beneran drama apa." Ucap Freya.
"Iyalah tadi kaya drama in real life mam, kak Gabriel bilang gini Kanaya maukah kamu menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku. Setelah itu langsung dah blushhh." Ucap Adisty memperagakan menggunakan kedua tangan nya.
"Ya ampun, anak kamu tuh dad gak ada yang bener." Ucap Freya menepuk dahinya sendiri.
"Mana ada hanya anakku, mereka kan hasil kerja keras kita kamu jangan lupa ya." Ucap Darren dan Freya berdebat.
Gabriel, Kanaya, Adisty dan Alice menganga menyaksikan perdebatan Freya dan Darren.
__ADS_1
"Haish, kenapa kalian yang berdebat. Harusnya aku yang berdebat karena mami merusak suasana hari ini aku menikmati drama." Ucap Adisty, gadis itu bangun dari duduknya begitupun dengan Alice yang ikut bangun.
"Kalian ini mau mami getok." Ucap Freya mengangkat tangannya, Adisty dan Alice pun hanya tertawa kecil mendengar perkataan Freya, sementara Kanaya masih bungkam karena merasa malu.