
Keesokan harinya disinilah Gabriel duduk dengan melipat tangan nya di dada, dan punggung yang bersandar santai di kursi. Gabriel menatap wanita yang duduk di hadapannya dengan dingin, sementara Safira ya wanita itu adalah Safira yang memohon untuk bertemu dengan Gabriel merasa terintimidasi.
"Katakan!" Ucap Gabriel.
"H-hah?" Sahut Safira yang tiba-tiba gugup.
"Katakan apa yang ini kamu bicarakan, saya tidak memiliki banyak waktu untuk berbincang dengan orang seperti kamu." Ucap Gabriel.
"Gabriel santai, kita bisa bicara pelan-pelan tidak perlu seperti musuh begini." Ucap Safira.
"Apakah kita berteman atau rekan bisnis sampai harus bicara baik-baik," ucap Gabriel.
"Gabriel," lirih Safira wanita itu merasa Gabriel sangat berubah dan hal itu membuat hati mungil Safira terluka.
"Jika kamu tidak ingin bicara_" ucapan Gabriel berhenti saat Safira menarik tangan Gabriel dan menggenggam nya.
"Gabriel tidak bisakah kamu mencabut tuntutan terhadap Cindy?" Ucap Safira.
"Kenapa kamu ingin saya mencabut tuntutan itu?" Tanya Gabriel.
"Gabriel Cindy itu saudara kamu Riel, kamu lupa kalau Cindy juga sedang mengandung itu akan membuat dia stress Riel dan tentu mempengaruhi kandungan nya." Ucap Safira.
"Kenapa kamu mengatakan ini kepada saya? Apakah temanmu itu juga memikirkan istri saya yang juga sedang mengandung, apa dia memikirkan bagaimana terpukul nya Kanaya karena harus kehilangan ayah nya secara mendadak!" Ucap Gabriel menarik tangannya dari genggaman Safira.
"Gabriel kamu tega? Cindy saudara kamu sementara Kanaya itu orang lain Gabriel!" Ucap Safira terpancing emosi.
"Kamu bilang Kanaya orang lain? Apa jika yang menjadi istri saya itu kamu Safira, kamu juga akan menganggap diri kamu orang lain?" Terang Gabriel menyeringai.
"Aku-aku," gugup Safira.
"Jawabannya adalah tidak, dan harus kamu tahu Kanaya itu istri saya bukan orang lain karena yang orang lain dalam keluarga saya itu Cindy!" Tegas Gabriel membuat Safira menganga.
"Gabriel kenapa kamu jahat sekali," lirih Safira.
"Saya memang jahat, kamu saja yang baru sadar sekarang fir!" Ucap Gabriel sinis.
"Kamu tahu jika Cindy tidak bebas mungkin om Leo akan menghancurkan keluarga kamu Riel." Ucap Fira.
"Haha, kamu yakin itu akan terjadi?" Ucap Gabriel, sementara Safira merasa merinding mendengar tawa Gabriel.
"Y-ya aku yakin, karena om Leo sangat menyayangi Cindy!" Ucap Safira.
"Oke aku tunggu masa itu tiba!" Ucap Gabriel, lelaki tampan itu bangkit dari duduknya dan berlalu pergi meninggalkan Safira.
"Kenapa Gabriel malah menunggu keluarganya di hancurkan." Gumam Cindy.
__ADS_1
...
Di kamarnya Kanaya menangis menatap layar ponselnya, ia merasa terluka dengan apa yang ia lihat.
"Kanaya kamu menangis?" Tanya Freya, mendapatkan pertanyaan seperti itu dari mertuanya Kanaya pun langsung mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
"Mommy," lirih Kanaya.
"Kamu kenapa sayang? Kamu bertengkar dengan Gabriel?" Tanya Freya yang kini duduk di samping menantu nya.
"Enggak mom," jawab nya lagi.
"Jangan bohong Kanaya katakan saja kepada mommy, ada apa sebenarnya kenapa kamu menangis?" Ucap Freya lagi.
"Kak nay kenapa nangis?" Tanya Adisty yang ikut masuk ke kamar Kanaya.
"Aku gak apa-apa," lirih Kanaya namun air matanya terus mengalir.
"Kanaya lihat mommy," ucap Freya menangkup wajah cantik Kanaya.
"Kamu percaya sama mommy kan nay? Mommy akan selalu berada di pihak kamu nay, katakan sekarang ada apa?" Tanya Freya lagi menatap menantunya penuh sayang.
" Gabriel bertemu dengan Safira mom, bahkan mereka berpegangan tangan." Ucap Kanaya tergugu.
"Apa?" Pekik Adisty.
"Ada seseorang yang mengirimnya kepadaku mom, hiks. Apa karena aku sedang mengandung dan tubuhku membengkak sehingga membuat Gabriel kembali kepada Safira, tapi bukankah Safira juga sedang mengandung." Lirih Kanaya menunduk dalam.
"Nay kamu jangan percaya dulu sayang, sebaiknya kita tanyakan kepada Gabriel sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa dia menemui Safira," ucap Freya.
"Gak bisa mom, mommy lihat kan mereka berpegangan tangan dan hati mungilku terluka akan hal itu." Ucap Kanaya membuat Adisty tercengang.
Memang semenjak hamil Kanaya selalu bersikap manja dan random, hal itu tidak membuat keluarga Gabriel kaget lagi karena mereka berpikir bahwa itu hormon kehamilan atau bawaan bayi yang dikandung oleh Kanaya.
"Kasihan sekali anak mommy, sini mommy peluk nak agar hati mungil kamu sedikit membaik." Ucap Freya yang selalu memanjakan Kanaya.
"Mom kenapa Gabriel jahat mom," ucap Kanaya.
"Ya, kak Gabriel memang jahat pulang nanti dia harus mendapatkan hukuman dari daddy dan ayah." Ucap Adisty.
"Itu terlalu berlebihan Adisty!" Protes Kanaya membuat Adisty kembali tercengang.
"Kak nay, bukankah kak Gabriel jahat sudah membuat kakak ku tersayang ini menangis. Maka biarkan ayah dan daddy menghukum nya, bagus-bagus jika daddy menyuruh kak Gabriel membersihkan toilet." Ucap Adisty, berusaha menahan tawa nya.
"Huaaaa, pasti bau sekali. Mom hiks, aku sakit hati oleh Gabriel mom. Kenapa dia harus bertemu dengan wanita yang tidak aku sukai, apakah Gabriel kembali mencintai Safira." Raung Kanaya.
__ADS_1
"Frey, loh Kanaya kenapa?" Tanya Ellen yang tiba-tiba muncul.
"Dinangisin sama cucu kesayangan mama lah ma," ucap Freya.
"Gabriel? Kenapa dengan Gabriel?" Tanya Ellen ikut duduk mengusap punggung cucu menantunya.
"Gabriel bertemu dengan Safira dan berpegangan tangan," ucap freya pelan.
"Waduh, anak itu selalu saja cari petaka sendiri heran mama. Sudah tahu istrinya lagi hamil, marah kah Kanaya?" Ucap Ellen.
"Hati mungil nya terluka katanya Buna," ucap Adisty membuat Ellen menganga, sementara Freya menutup mulutnya rapat-rapat menahan tawa.
Mereka kesal melihat foto Gabriel, namun juga lucu dengan tingkah Kanaya yang selalu random.
"Hati mungil kamu terluka nak?" Tanya Ellen dan membuat Kanaya yang masih berada dalam pelukan Freya mengangguk.
"Iya Buna sakit sekali Bun," lirih Kanaya.
"Sabar sayang nanti Buna marahi Gabriel, bisa-bisanya dia membuat kamu menangis." Ucap Ellen.
Sore hari gio menghampiri Laura yang masih sibuk dengan pekerjaan nya, ia berdiri di samping Laura tanpa bersuara sedikitpun.
"Aaaa, pak Gio ngagetin." Teriak Laura.
"Kamu belum pulang?" Tanya Gio.
"Belum pak ini pekerjaan saya belum selesai, tapi sebentar lagi selesai sih." Ucap Laura.
"Lamban sekali kerja kamu," ucap Gio lirih yang masih terdengar oleh Laura.
"Saya dengar ya pak ya, saya ini bukan lamban! Bapak saja yang tak memiliki hati nurani memberikan saya pekerjaan sebanyak ini." Ucap Laura.
"Kamu juga disini kerja bukan untuk makan gaji buta kan," ucap Gio membuat Laura tercengang.
"Ya ampun pak, sebaiknya bapak pergi sebelum merusak mood saya yang sedang bahagia sentosa ini pak." Ucap Laura.
"Kamu ngusir saya?" Ucap Gio dingin.
"Lagian bapak disini mau ngapain si pak?" Tanya Laura lagi.
"Tentu saja mengawasi kamu," jawab nya santai.
"Saya udah gede gak perlu di awasi, jadi sebaiknya bapak pergi." Ucap Laura lagi.
"Jadi kamu beneran ngusir saya?" Tanya Gio.
__ADS_1
"Oh my, iya pak iya saya ngusir bapak dari sini. Puas!" Kesal Laura, tanpa bicara lagi Gio meninggalkan Laura.
"Lelaki macam apa dia kadang baik kadang menyebalkan, hufh." Lirih Laura kembali mendudukkan tubuhnya di kursi kerja.