
Pagi hari sekali Freya masih bergelut dengan selimut nya, Grace yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
Grace tidak bisa berkomentar apapun kepada Freya, ia tidak tahu seberat apa masalah yang dialami oleh Freya. Grace juga tidak tahu perasaan seperti apa yang saat ini dirasakan oleh Freya, meskipun Grace sahabat baik Freya tapi ia tidak mau pura-pura bijak di hadapan sahabat nya yang sedang bersedih.
"Lo gak mau ke kantor Frey." Tanya Grace.
"Enggak dulu deh, seperti biasa ya lo handle semua kerjaan gue." Balas Freya, Grace menghela nafasnya.
"Lo tenang saja sahabat lo yang satu ini selalu bisa di andalkan." Ucap Grace, Freya mencebikan bibirnya mendengar kata percaya diri dari Grace.
"CK, terlalu percaya diri lo." Ucap Freya, Grace tertawa kecil.
Semalam setelah berhasil mengusir David Freya buru-buru pergi ke apartemen milik Grace, ia tak ingin pulang dulu Freya ingin menenangkan diri dan pikiran nya.
"Nanti kalau Darren nyari lo ke kantor gue jawab apa?" Tanya Grace.
"Gak mungkin dia mau nyari gue, semalem saja David yang nyari gue." Ucap Freya.
"Yeeeh, kan gak tau Freya kali aja hatinya yang sekeras batu itu luluh dan nyari lo ke kantor." Ucap Grace, ia berbicara sambil bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
"Ya tinggal lo bilang aja kalau lo gak tau gue kemana simpel kan." Ucap Freya, Grace mengangguk tanda mengiyakan perkataan Freya.
"Yasudah kalau begitu gue berangkat dulu, lo kalau mau makan atau butuh apa-apa panggil mbak saja di bawah." Ucap Grace, ya apartemen milik Grace memang dua lantai.
"Hmmm." Balas Freya, Grace pun berjalan keluar dari apartemen milik nya.
Siang hari di sebuah ruangan besar dan mewah terlihat seorang lelaki tampan yang sedang duduk berkutat dengan pekerjaannya, David menghampiri Darren dan duduk tepat di hadapan Darren.
"Bagaimana?" Tanya Darren to the points.
"Freya gak mau pulang." Ucap David.
"Kamu bisa menemukan Freya?" Tanya Darren.
"Hmmm, saya lihat Freya di taman kota." Jawab David
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu tidak bisa membuat dia pulang." Ucap Darren.
"Darren jangan bo*oh dia istri lo seharusnya bukan gue yang bujuk dia untuk pulang, seharusnya lo bisa meyakinkan dia bahwa lo menyesal melakukan itu." Ucap David.
"Tapi saya tidak menyesal saya hanya merasa bersalah dan risih karena mama dan papa selalu mengomel, dan untuk apa saya meyakinkan dia." Ucap Darren.
"Darren bagaimana pun Freya istri lo sekarang, lo harus bisa mengambil hatinya jangan seperti ini. Lagian dengan cara lo seperti ini bukan membuat Ellen terluka, justru malah membuat Ellen bahagia atas keretakan hubungan lo dengan Freya." Ucap David, ia mulai jengah dengan sikap keras kepala Darren.
"Saya tidak peduli." Ucap Darren enteng.
"Lo gak peduli gak apa-apa Darren, tapi lo bayangin kalau tiba-tiba saja Freya menggugat cerai lo. Apa lo pikir dia akan rugi? Enggak, gue tahu selama ini lo belum pernah menyentuh Freya dia gak akan merasa rugi karena tidak ada yang berubah dari dirinya." Ucap David, Darren terdiam ia menatap David dan tanpa bicara Darren bangkit dari duduknya lalu pergi ke luar.
"Gue tahu Darren pelan-pelan nama Freya akan memiliki tempat tersendiri di hati lo, maka dari itu gue gak mau lo menyesal karena sudah menyia-nyiakan Freya." Ucap David.
Darren melajukan mobilnya menuju kantor milik Freya, sesampainya di gedung pencakar langit milik istrinya Darren berjalan dan masuk begitu saja.
Beberapa karyawan menatap takjub dengan ketampanan Darren, mereka tahu jika Darren adalah suami dari bos mereka yaitu Freya.
"Permisi." Ucap Darren kepada seorang resepsionis.
"Apakah saya bisa bertemu dengan nona Freya?" Tanya Darren.
"Maaf tuan hari ini Bu Freya tidak datang ke kantor, tapi jika ada kepentingan bapak bisa menemui ibu Grace." Ujar nya, resepsionis itu bingung bagaimana bisa Darren yang menjadi suami Freya tidak tahu jika istrinya tidak datang ke kantor.
Sebelum Darren berbicara lagi seseorang memanggilnya, dan sangat kebetulan sekali karena itu Grace sahabat dari Freya.
"Tuan Darren." Sapa Grace.
"Anda Grace?" Tanya Darren, Grace mengangguk ia mencoba untuk sopan di hadapan para karyawan.
"Betul, jika ada sesuatu yang ingin anda bicarakan mari berbicara di ruangan saya saja tuan." Ucap Grace, Darren menatap sekeliling lalu mengangguk. Ia juga tak mungkin membicarakan Freya yang pergi dari rumah di tempat terbuka seperti itu.
Sesampainya di ruang kerja Grace ia langsung menanyakan keberadaan Freya, ia tak mau berlama-lama membuang waktu nya.
"Dimana Freya?" Tanya Darren.
__ADS_1
"Kenapa anda menanyakan Freya kepada saya bukankah anda suaminya." Balas Grace.
"Grace come on, semalam Freya pergi dari rumah dan saya yakin kamu tahu tentang keberadaan Freya." Ucap Darren.
"Saya tidak tahu jika Freya pergi dari rumah, kenapa dia bisa pergi?" Ucap Grace, Darren mengusap wajah nya kasar.
"Grace jangan berbohong kamu sahabat Freya, saya yakin kamu tahu dimana Freya sekarang." Ucap Darren.
"Tuan saya hanya sahabatnya Freya, jika anda saja yang menjadi suaminya Freya tidak tahu dimana Freya berada apalagi saya yang hanya sekedar sahabat." Ucap Grace, si*l Grace malah seakan-akan menyindir jika Darren suami tidak bec*s sampai tidak tahu dimana istrinya berada.
"Kamu yakin jika kamu benar-benar tidak mengetahui nya?" Tanya Darren.
"Apakah saya terlihat seperti sedang berbohong?" Tanya Grace, wanita itu sangat pandai berakting sampai Darren tidak bisa berkomentar apa-apa.
"Baik kalau begitu maaf karena saya sudah mengganggu waktu anda, permisi." Balas Darren, lelaki itupun keluar dari ruang kerja Grace.
Grace hanya bisa menatap kepergian Darren, jujur saja ia kesal kepada suami dari sahabat nya itu. Jika tidak menjaga image Grace ingin sekali menyumpal mulut Darren.
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading π€π jangan lupa like komen dan vote nya πβΊοΈ
__ADS_1