
Keesokan harinya Kanaya sudah di perbolehkan untuk pulang, namun seperti perkataan dokter sebelumnya jika Kanaya jangan banyak bergerak dan mengerjakan sesuatu yang membuatnya lelah.
"Sudah siap semuanya?" Tanya Gabriel yang masuk kedalam kamar rawat sang istri, setelah berbicara dengan dokter.
"Sudah kak," jawab Adisty.
"Nay ini sudah bunda rapikan semua barang-barang kamu." Ucap Sintia.
"Terimakasih banyak bund." Ucap Kanaya dan Gabriel.
"Tidak apa sayang," balas Sintia.
Gabriel pun menggendong Kanaya dan mendudukkan nya di kursi roda, Gabriel berjalan mendorong kursi roda Kanaya diikuti oleh Adisty dan kedua orang tua Kanaya dibelakangnya.
Sementara Freya menunggu kepulangan menantunya di rumah, bukan apa-apa Kanaya yang meminta sang mami tidak perlu repot-repot menjemput dirinya di rumah sakit.
Saat berjalan keluar dari rumah sakit Kanaya dan Gabriel harus bertemu dengan orang yang tidak ingin mereka temui, siapa lagi kalau bukan Safira yang juga sedang check up mengenai kandungan nya.
"Gabriel," panggil Safira wanita itu berjalan menghampiri Gabriel.
"Loh Kanaya kalian ada disini juga ternyata." Ucap Safira, ia menatap Kanaya dengan tatapan tak suka apalagi saat melihat Gabriel begitu memanjakan Kanaya.
"Hmmm," balas Kanaya.
"Bagaimana keadaan janin kamu gak selamat ya?" Ceplos Safira.
"Jaga bicaramu Fira!" Tegas Gabriel.
"Ups, aku lupa jika bayi yang ada di kandungan Kanaya sangat kamu inginkan, berbeda dengan bayi yang ada di kandunganku." Ucap Safira.
"Lagian bayi siapa itu, untuk apa kakak ku menginginkan bayi yang bukan bayinya." Ucap Adisty.
"Kamu tidak tahu apa-apa Adisty," ucap Safira.
Adisty tersenyum smirk dan berjalan ke hadapan Kanaya dan Gabriel, kini adik bungsu Gabriel itu sudah berhadapan dengan Safira.
"Aku tahu semuanya Safira Divanka, aku tahu kenapa kau ngotot mengatakan jika kakakku yang melakukan itu kepadamu karena hanya kakakku yang mampu memberikan semua yang kau inginkan bukan, hanya kakakku yang bisa memenuhi gaya hidup mu jika dibandingkan bandingkan dengan ayah biologis bayi ini kakakku memang tidak terkalahkan." Ucap Adisty, membuat Safira diam niat ingin membuat Gabriel dan Kanaya malu malah dirinya yang dipermalukan oleh Adisty.
"Safira-safira bukankah kami sudah memberikan jalan keluar terbaik hmmm, jika itu benar benih dari suamiku apa susahnya melakukan tes DNA." Ucap Kanaya, Safira terdiam ia menatap kesal kepada Kanaya.
"Gak usah sok ya nay gue pastiin Gabriel akan balik lagi sama gue!" Ancam Safira.
"Saya tidak akan kembali kepada siapapun, Kanaya adalah rumah tempat saya pulang bukan anda!" Tegas Gabriel, membuat Safira ternganga mendengar perkataan Gabriel.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang," Ucap Gabriel kepada Adisty.
"Anak jaman sekarang kok ya gak ada malu ngaku-ngaku suami orang," ucap Sintia, membuat Safira tersindir.
...
Tiga hari berlalu hari ini Kanaya sedang menatap Gabriel yang tengah bersiap untuk pergi ke kantor, Kanaya mengerucutkan bibirnya karena ia sendiri hanya berdiam dirumah.
"Anak Daddy baik-baik dirumah ya sayang jangan nakal di perut mommy okei." Ucap Gabriel berjongkok di hadapan Kanaya yang duduk di kursi roda.
"Iya Daddy," jawab Kanaya menirukan suara anak kecil.
"Anak pintar," ujarnya.
"Sayang aku beneran gak boleh ikut ke kantor?" Tanya Kanaya lagi.
"Gak, kamu diam saja dirumah lagian kamu sudah resign untuk apa ke kantor lagi." Ucap Gabriel, Kanaya tercengang dalam hatinya ia protes atas apa yang dilakukan oleh Gabriel.
"Baiklah-baiklah aku akan menunggu kamu dirumah." Ucap Kanaya.
"Kakakku tersayang," panggil Adisty, Gabriel dan Kanaya pun menoleh menatap Adisty.
Memang setelah pulang dari rumah sakit Adisty yang selalu menemani Kanaya, meskipun kadang Sintia juga ikut menemani sang putri jika sedang berkunjung.
"Seperti biasa ya jangan ajak Kanaya keluar apalagi sampai membuatnya lelah." Ucap Gabriel.
"Ck, siap jangan khawatir aku akan menjaga kak Naya dengan baik." Ucap Adisty, Kanaya dan Gabriel pun tersenyum manis kepada Adisty.
Kanaya benar-benar merasa bersyukur karena memiliki adik ipar seperti Adisty, Kanaya sendiri bahkan tak pernah menyangka jika Adisty sangat menyayangi dirinya.
Siang menjelang sore Kanaya merasa jenuh karena hanya berdiam diri di kamar, ia menatap Adisty yang sedang menonton drama di laptopnya.
"Dek," panggil Kanaya.
"Hmmm," sahut Adisty menoleh menatap Kanaya.
"Kakak bosan kita ke taman yuk boleh kali." Ucap Kanaya.
"Nanti kak Gabriel marah gimana," ucap Adisty takut-takut.
"Gak akan marah dek asal gak bilang aja semua pasti aman." Ucap Kanaya, Adisty diam tampak sedikit berpikir.
"Aku akan meminta bantuan aunty Alice." Ucap Adisty menghubungi Alice, dan tanpa menunggu lama Alice sudah berdiri di hadapan mereka.
__ADS_1
"Ini aman ni aunty?" Tanya Adisty.
"Aman lah asal kamu jangan nyuruh Kanaya jalan turun tangga saja." Ucap Alice, Adisty pun mengangguk dan membawa Kanaya turun menggunakan lift.
Kini mereka sudah berada di taman Kanaya terlihat sangat bahagia ia bahkan terlihat beberapa kali tersenyum, Adisty dan Alice yang melihat itu pun ikut tersenyum.
"Bikin ibu hamil bahagia itu pahala dist." Ucap Alice.
"Aku kan tadinya takut kalau kak Gabriel nanti marah," ucap Adisty.
Hari semakin sore dan terdengar suara mobil memasuki pekarangan rumah, beberapa mbak berlari menghampiri Adisty.
"Nona tuan muda sudah pulang," ujarnya.
"Apa?" Pekik Adisty, ia berlari kedepan untuk memastikan memang benar mobil Gabriel sedang melaju menuju garasi.
"Kak tahan kak Gabriel aku akan ajak kak Naya ke kamar." Ucap Adisty, Alice pun mengangguk dan berlari untuk menemui Gabriel.
Sementara Adisty dibantu oleh mbak untuk masuk kedalam rumah dan mengantarkan Kanaya ke kamarnya, Kanaya tersenyum melihat Adisty begitu perhatian terhadap dirinya.
"Hai Riel baru balik," ucap Alice.
"Iya nih balik cepet takut Kanaya ngambek." Balas Gabriel.
"Oiya aku dengar beberapa hari lalu kamu ketemu Safira di rumah sakit, gimana keadaan dia?" Tanya Alice.
"Seperti biasa lah dia gak ada berubah nya dia, masih saja nganggap kalau anak itu anak aku." Ucap Gabriel.
"Ck, emang ya gak ada malu dia tuh." Ucap Alice, ia mendapat pesan dari Adisty yang mengatakan jika dirinya dan Kanaya sudah sampai di kamar.
"Hmmm, aku mau ke kamar dulu." Ucap Gabriel, Alice pun mengangguk dan mengelus dadanya.
"Selamat," gumam Alice.
"Aman non?" Tanya beberapa pelayan.
"Aman," balas Alice tersenyum manis.
Gabriel membuka pintu kamarnya dengan tersenyum manis saat melihat Kanaya yang sedang duduk bersandar di tempat tidur, dan Adisty yang sedang santai menonton drama kesukaan nya.
"Bagus anak-anak pintar nurut sama perintah ya." Ucap Gabriel, Kanaya tersenyum saat Gabriel mengecup kening nya.
"Aku balik ke kamar ya kak, kan kak Gabriel nya sudah pulang." Ucap Adisty.
__ADS_1
"Hmmm, makasih ya dek." Ucap Kanaya, Adisty mengangguk dan tersenyum manis kepada Kanaya.