Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam
Epson 151


__ADS_3

"Kakak sudah pulang?" Tanya Adisty melihat Gabriel yang berjalan masuk kedalam rumah.


"Hmmm, kenapa kok kaget gitu?" Ucap Gabriel, Adisty menatap ke arah pintu utama ia tak melihat sosok Kanaya.


"Tapi kenapa kak Naya belum pulang." Ucap Adisty, membuat Gabriel mengernyit mendengar pernyataan sang adik.


"Apa katamu Kanaya belum pulang?" Tanya Gabriel, Adisty pun mengangguk mengiyakan nya.


"Aku kira kakak akan pulang bersama kak Naya, tapi kenapa jam segini tumben kak Naya belum pulang ya." Ucap Adisty.


"Kemana dia pergi," gumam Gabriel.


"Lagian kakak ini kenapa biasanya kalian akan pulang bersama, sekarang kenapa kakak pulang sendiri?" Protes Adisty.


"Ck, tadi aku ada janji dengan klien mangkanya pergi lebih dulu dari kantor. Dan mana aku tahu jika Kanaya belum sampai rumah," ucap Gabriel ia memainkan ponselnya mencoba untuk menghubungi Kanaya.


"Gabriel mencoba menghubungi kamu?" Tanya Ellen kepada Kanaya.


"Eum iya buna," balas Kanaya.


Ya saat pergi meninggalkan Safira tanpa sengaja Kanaya bertemu dengan Ellen yang juga berada di restoran tersebut, tentu saja Ellen bingung kenapa Kanaya berada disana.


Ellen mencoba untuk bertanya namun Kanaya tidak mau bicara, sampai akhirnya Ellen mendesak Kanaya agar dirinya tidak berpikir macam-macam. Dan mau tidak mau Kanaya pun menceritakan semuanya kepada Ellen, bukan hanya itu ternyata Kanaya juga merekam percakapan nya dengan Safira untuk jaga-jaga jika nanti Safira berbuat ulah atau menuduh dirinya.


Hal itu membuat Ellen geram dan langsung mengajak Kanaya pergi bersama dengan nya, bukan hanya itu Ellen juga ingin melihat secinta apa cucu kesayangan nya kepada Kanaya.


"Biarkan saja tidak perlu kamu jawab." Ucap Ellen.


"Tapi buna ini akan membuat Gabriel khawatir," ucap Kanaya.


"Tidak apa buna ingin tahu seberapa besar rasa cinta Gabriel kepada kamu, buna tidak ingin kejadian seperti ini terjadi lagi Kanaya dan itu akan menyebabkan kesalahpahaman antara kamu dan Gabriel nantinya." Ucap Ellen, Kanaya pun tak bisa berkata apa-apa lagi ia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ellen.


Sementara itu Laura yang sedang menemani sang mami di acara arisan ibu-ibu rempong pun terkejut kala mendapatkan telpon dari Gabriel, kening nya berkerut ia bertanya-tanya kenapa Gabriel menghubungi nya.

__ADS_1


"Ra kenapa loh itu telpon mu bunyi dari tadi kok gak di jawab, jawab sana siapa tahu penting." Ucap sang mami.


"E-eh ini mi bos nya Laura yang nelpon, ah yaudah Laura permisi buat jawab telepon nya ya mi." Ucap Laura.


"Yasudah kan mami juga bilang dijawab dulu siapa tahu penting." Ucap mami Laura, gadis cantik itupun mengangguk dan menjauhi perkumpulan para ibu-ibu itu.


"Ini tumben ada apa ya, apa terjadi sesuatu sama Kanaya ya." Batin Laura buru-buru menjawab panggilan telepon dari Gabriel.


**Panggilan telepon*


Laura*: Ha-halo tuan ada yang bisa saya bantu? (berusaha sopan)


Gabriel: Laura saya mau tanya kamu sekarang dimana, apakah kamu juga belum pulang kerumah?


Laura: Saya sudah pulang kerumah sejak tadi tuan, memangnya ada apa ya?


Gabriel: *Jika kamu sudah pulang lalu kenapa Kanaya belum sampai rumah sampai jam segini?


(Mata Laura terbelalak mendengar perkataan bos nya*)


Gabriel: *Hmmm, apakah dia ada mengatakan sesuatu kepada kamu dia pergi kemana?


(Kurang asem si Safira, dasar safi lo bawa kemana bestie gue sampe lakinya kocar-kacir nyari Kanaya begini. Udah bisa gue bayangin gimana ekspresi tuan Gabriel saat ini, sudah pasti kaya singa kelaparan mau nerkam mangsa nya.) Batin Laura*.


Laura: A-anu tuan maaf sebelumnya, tadi sore saat jam pulang kantor nona Safira menemui Kanaya dan katanya ada yang ingin dia bicarakan dengan Kanaya.


Gabriel: What the f*ck, Kanaya pergi dengan Safira? Kamu serius Laura?


Laura: I-iya saya serius tuan, maaf karena saya tidak menemani Kanaya soalnya saya ada urusan sama mami saya.


Gabriel: Oke thank you.


Setelah mengatakan itu Gabriel pun memutuskan panggilan nya, Laura bernafas lega. Berbicara dengan Gabriel meskipun dari sambungan telepon membuat dadanya sesak, Laura bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana Kanaya yang setiap hari bertemu dengan Gabriel.

__ADS_1


"Ya ampun nay lo kemana si gue kok ikut khawatir ya." Lirih Laura.


Di tempat Safira dirinya sedang duduk santai di apartemen miliknya, ia menatap Cindy yang juga berada disana.


"Lo gagal buat bikin Kanaya marah sama Gabriel?" Tanya Cindy.


"Hmmm, g*la ya itu cewek dia selalu punya Jawaban dari perkataan gue." Ucap Safira.


"Haha, udah gue duga si dia lebih berani setelah menikah dengan Gabriel." Ucap Cindy.


"Lagian keluarga lo aneh cyn masa nikahin Gabriel sama cewek m*s*in kaya gitu, padahal lo tau kan gue jauh segalanya dari dia." Ucap Safira.


"Ya lo tahu lah Ra gimana aunty Freya, dia itu konyol dan keras kepala terkesan sok penguasa cih." Cibir Cindy.


"By the way lo kenapa kayak gak suka gitu sama aunty lo?" Tanya Safira.


"Gue tuh sebenernya sayang banget sama aunty Freya, tapi setelah dia bersikeras untuk menikahkan Gabriel dengan Kanaya gue hilang respect." Ucap Cindy.


"Ck, udahlah sekarang ini gimana caranya biar anak gue dapet pengakuan dari Gabriel cyn." Ucap Safira.


"Ya gimana gue juga bingung lah, lo udah provokasi Kanaya nyatanya gak dapet hasil apalagi gue?" Ucap Cindy.


"Lo gak bisa gitu ngomong ini ke ayah sama buna lo." Ucap Safira.


"Gak bisa Ra mereka juga sama udah sayang banget sama Kanaya, susah si jangankan ayah buna si alice aja dia ada di pihak Kanaya lo tahu itu kan." Ucap Cindy.


"Iya si, dia bahkan pernah dorong gue untung gue sama janin gue gak apa-apa." Ucap Safira mengelus perutnya.


"Tapi emang itu beneran anak Gabriel ya?" Tanya Cindy, Safira tercengang mendengar perkataan Cindy.


"Kurang asem lo pikir ini anak siapa? Jelas ini anak Gabriel lah cyn." Kesal Safira.


"Gak gitu Ra, maksud gue Gabriel orang yang bertanggung jawab. Kalo emang dia pernah melakukan itu sama lo dia bakal lakuin apa aja buat tanggung jawab, inimah si Gabriel nya aja cuek jadi gue juga bingung." Ucap Cindy.

__ADS_1


"Dah lah lo sama mereka sama aja, kalian gak ngerti perasaan gue gimana? Gue lagi butuh pertanggungjawaban Gabriel cyn, harusnya lo bisa bantu gue." Lirih Fira, ia sengaja memelas di hadapan Cindy berharap Cindy mau membantu dirinya.


"Kok gue gak yakin ya itu anak Gabriel, sementara gue tahu banget Gabriel kaya gimana." Batin Cindy ia menatap Safira dengan bingung.


__ADS_2