Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam
Epson 59


__ADS_3

Dan karena perdebatan Ellen dan Grace akhirnya membuat Darren terbangun, Darren membuka matanya dan melihat Freya yang sudah sadar.


"Kamu sudah sadar?" Tanya Darren, Freya pun mengangguk hal itu membuat Darren melihat sekeliling yang ternyata sudah ramai.


"Maaf Darren karena perdebatan Ellen dan Grace membuat kamu terusik." Ucap Alex.


"Tidak masalah, Frey kamu mau saya panggilkan dokter?" Ucap Darren.


"Gak perlu Darren saya sudah di periksa oleh dokter tadi." Jawab Freya.


"Tadi?" Tanya Darren.


"Ya saat anda tidur pak." Ucap Grace, membuat Darren menatap Freya dengan wajah bingung nya.


"Ah baiklah kalau begitu saya permisi ke kamar mandi dulu." Ucap Darren, semua orang pun mengangguk dan dengan cepat Meisya duduk di samping Freya sementara Grace wanita itu berdiri di samping Freya.


"Makan dulu kamu harus minum obat." Ucap Meisya.


"Kak tapi aku belum lapar." Ucap Freya.


"Gak peduli kamu harus makan ada cepat sembuh." Ucap Meisya.


"Benar itu Frey kamu harus segera sembuh." Ucap Grace.


"Iya sayang kamu harus banyak makan agar cepat sembuh." Ucap Alex.


"Aku tidak suka obat Daddy tahu itu kan." Rengek Freya.


"Iya Daddy tahu nak tapi ini untuk kebaikan kamu juga kan." Balas Alex, Freya mencebikan bibirnya.


Disaat yang lain sibuk membujuk Freya tapi tidak dengan Ellen, wanita itu fokus menatap pintu kamar mandi yang berada di kamar rawat Freya. Dan Grace yang menyadari itu menatap tajam Ellen, ia benar-benar tak habis pikir selalu saja ada kesempatan untuk Ellen mencuri pandang kepada Darren.


"Waahh rubah betina ini benar-benar tidak ada kapoknya, padahal semalam dia sudah melihat bagaimana Darren menangisi Freya. Apa jangan-jangan dia gak punya hati ya, kenapa dia tidak merasa sakit hati atau memutuskan untuk merelakan Darren saja." Batin Grace.


"Grace kamu kenapa?" Tanya Meisya, pertanyaan Meisya membuat Freya ikut menatap Grace juga.


"Eh gak kenapa-napa kak." Ucap Grace.


"Lo kenapa?" Kali ini Freya yang bertanya.

__ADS_1


"Gak apa-apa Frey cuma gue aneh aja gitu bisa ya di rumah sakit mewah kaya gini ada tikus yang suka banget liatin hak milik orang lain, padahal dia sendiri punya tapi kenapa masih mau ngelirik milik orang lain." Ucap Grace, Freya yang paham arah pembicaraan Grace pun tertawa kecil.


"Lupa Grace kalau ada pepatah yang mengatakan bahwa rumput tetangga lebih hijau." Ucap Freya.


"Ibaratnya selimut tetangga lebih hangat gak si." Ucap Meisya, bertepatan dengan Darren yang keluar dari kamar mandi.


"Kalian ini ada-ada saja." Ucap Alex, mendengar perkataan Alex Ellen pun mengalihkan pandangan nya menatap Freya.


"Frey kamu mau apa kebetulan saya mau keluar biar nanti saya belikan." Ucap Darren.


"Aku gak mau apa-apa." Balas Freya.


"Yakin, atau saya belikan kamu jus saja bagaimana?" Tanya Darren lagi, dan dengan pelan Freya mengangguk.


"Boleh." Jawan Freya, Darren pun mengangguk dan berjalan keluar setelah berpamitan kepada orang-orang yang ada di kamar rawat Freya.


Setelah beberapa saat Darren pergi Ellen bangun dari duduk nya, hal itu menarik perhatian Alex dan yang lainnya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Alex.


"Mas sepertinya ada yang ingin aku beli, aku boleh keluar dulu kan." Ucap Ellen.


"Gak perlu mas aku bisa sendiri kamu disini saja temani Freya." Ucap Ellen, Alex pun mengangguk mengiyakan perkataan Ellen.


Melihat Ellen pergi Grace pun buru-buru menepuk tangan Freya dengan lembut, Freya menoleh menatap Grace.


"Gue keluar sebentar ya mau beli minum." Ucap Grace, Freya yang heran pun hanya mengangguk saja.


"Misi ya om." Ucap Grace.


"Mau aku temani Grace?" Tanya Meisya.


"Gak usah kak aku cuma sebentar kok gak lama." Balas Grace, Meisya pun mengangguk dan menatap kepergian Grace.


Terlihat Ellen yang berjalan dengan melihat kesana-kemari seperti sedang mencari sesuatu, dari belakang Grace memperhatikan gerak-gerik Ellen.


"Udah gak aneh nih si rubah pasti nyari Darren." Gumam Grace.


Ellen pun pergi ke kantin dan benar saja dia melihat Darren yang sedang duduk dengan memainkan ponselnya disana, tanpa basa-basi Ellen duduk di hadapan Darren.

__ADS_1


"Hai." Sapa Ellen, Darren menatap dingin Ellen.


"Mbak buat jus nya bisa lebih cepat." Ucap Darren kepada penjaga kantin.


"Baik mas sebentar lagi selesai." Jawab nya, dan setelah jus itu selesai Darren buru-buru membayarnya dan pergi.


"Darren, Darren tunggu sebentar kamu jangan kayak gini dong. Aku gak bisa kamu cuekin aku seperti ini." Ucap Ellen.


"Saya tidak ada urusan dengan kamu, jadi tolong jangan ganggu kehidupan saya lagi bisa!" Ucap Darren tegas.


"Enggak, Darren aku gak bisa kaya gini kita harus bicara." Ucap Ellen.


"Gak ada yang harus kita bicarakan semua itu sudah tidak ada artinya lagi dimata saya, dan tolong jangan pernah kamu berniat untuk mengusik saya ataupun istri saya." Ucap Darren.


"Darren aku tahu kamu belum sepenuhnya mencintai Freya kan, jadi aku mohon Darren balik sama aku. Gak apa-apa kalau aku jadi yang kedua aku gak masalah." Ucap Ellen.


"Kamu g*la ya, dari dulu sampai sekarang saya tidak pernah menduakan wanita." Ucap Darren, ia pergi begitu saja dari hadapan Ellen tanpa mempedulikan Ellen yang menangis.


"Waaah g*la si rubah betina ini, apa-apaan dia sampai rela jadi yang kedua." Ucap Grace terkejut, namun ia kagum dengan Darren yang bisa menolak Ellen dengan tegas.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading πŸ€—πŸ˜‰ jangan lupa like komen dan vote nya πŸ™β˜ΊοΈ


__ADS_2