Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam
Epson 134


__ADS_3

Suatu pagi di sebuah ruangan terlihat seorang wanita cantik lengkap dengan kebaya dan riasan di wajah cantik nya, akhirnya kini hari yang sangat tidak diinginkan terjadi juga.


Kanaya hanya bisa menatap pantulan diri nya di cermin, tak hanya itu air mata kesedihan juga terus mengalir di pipi mulusnya.


"Kanaya," panggil Laura wanita itu tahu jika hari ini sahabatnya akan melangsungkan pernikahan.


Meskipun hanya sekedar akad saja namun Laura tidak mau jika ia melewatkan hari bahagia sang sahabat, saat itu Kanaya baru memberitahu Laura dua hari sebelum hari H.


"Ra ada yang mau aku omongin sama kamu," ucap Kanaya.


"Ada apa nay bilang aja," balas Laura.


"Ra dua hari lagi aku akan menikah," lirih Kanaya, air matanya menetes membuat Laura terkejut.


"What? Nikah, lo gak bercanda kan nay?" Tanya Laura, ia begitu terkejut dengan kabar yang diberikan oleh sahabatnya itu.


Pasalnya selama ini Laura tidak pernah mendengar kabar jika Kanaya dekat dengan lelaki manapun, yang ia tahu sahabatnya itu begitu baik dan anti menjalin hubungan hanya untuk bermain-main.


Namun kini Laura mendapatkan kabar tak terduga dari Kanaya, tapi siapa lelaki yang dinikahi oleh sahabatnya itu?


"Aku serius Ra," lirih Kanaya.


"Nay berarti selama ini lo bohong sama gue dengan mengatakan lo gak punya pacar?" Ucap Laura.


"Enggak Ra aku gak bohong aku memang gak punya pacar," balas Kanaya.


"Kalau lo gak punya pacar terus siapa yang lo nikahi Kanaya? Anak unta, gak mungkin kan." Ucap Laura, Kanaya menggelengkan kepalanya ia sendiri tidak tahu siapa yang akan ia nikahi.

__ADS_1


"Jangan bilang_" Ucapan Laura menggantung melihat Kanaya yang mengangguk.


"Iya aku gak tahu siapa yang akan aku nikahi, bahkan aku gak tahu nama dan wajahnya Ra." Ucap Kanaya tersenyum getir.


"Ra jujur gue gak nyangka kalau lo ngalamin semua ini, tapi sungguh Ra pikir-pikir lagi jangan mudah mengambil keputusan." Ucap Laura, ia tak menyangka ternyata beban yang dipikul oleh Kanaya seberat ini.


"Sudah aku pikir-pikir kok Ra dan memang tidak ada pilihan lain, aku memang harus menikah dengan dia Ra untuk membalas apa yang sudah dilakukan oleh ayah dan bunda untukku." Ujarnya.


"Aaaaa, sabar ya nay semoga ini memang yang terbaik untuk kamu." Ucap Laura memeluk tubuh Kanaya.


Kanaya tersenyum dan menoleh menatap Laura yang memanggil namanya, Laura menatap Kanaya dengan rasa kasihan.


"Hai Ra." Ucap Kanaya mencoba setegar mungkin.


"Nay lo gak usah pura-pura kuat di depan gue, gue tau kok lo gak baik-baik aja kan? Kalau mau nangis gak apa-apa nay gue siap jadi tempat bersandar lo." Ucap Laura.


"Aku gak apa-apa kok nay," balas Kanaya yang masih memaksakan senyum manis nya.


"Kata bunda mereka selalu datang saat gue belum pulang kerja Ra, ya mungkin itu sengaja dilakukan oleh mereka." Balas Kanaya.


"Gue jadi kasian sama lo nay," lirih Laura.


"Aku gak apa-apa Laura beneran deh." Balas Kanaya.


"Lo gak usah bohong sama gue nay, gue tau nikah kaya gini tuh gak enak apalagi lo nikah cuma akad doang. Ya meskipun nanti mereka akan mengadakan acara pesta pernikahan tetap aja, mereka egois karena tidak membiarkan lo tahu siapa lelaki yang lo nikahi." Ucap Laura panjang lebar.


"Tapi aku gak mau dikasihani." Lirih Kanaya, lagi-lagi air matanya luruh membuat Laura merasa tidak enak.

__ADS_1


"Nay bukan itu maksud gue jangan nangis terus dong gue kan jadi ikut sedih nay." Ucap Laura, ia memeluk Kanaya.


Sementara itu di depan terdengar suara riuh menandakan jika keluarga pihak lelaki sudah datang, Kanaya dan Laura enggan untuk melihat seperti apa lelaki yang akan dinikahi oleh Kanaya.


Laura juga begitu ia lebih memilih untuk menemani Kanaya saja daripada melihat suasana di luar, Laura ingin menenangkan Kanaya terlebih dahulu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy reading πŸ€—πŸ˜‰ jangan lupa like komen dan vote nya πŸ™β˜ΊοΈ


__ADS_2