
Kanaya pun terbangun dari tidurnya ia menatap kamar bernuansa putih tersebut, Kanaya sedikit bingung mencari keberadaan suaminya.
"Kakak sudah bangun," ucap Adisty.
"Eumm, Adisty dimana Gabriel?" Tanya Kanaya.
"Kak Gabriel langsung kembali ke kantor tadi, tapi kakak tenang saja ada mami dan buna disini. Eumm, mereka sedang keluar membeli makan." Ucap Adisty, Kanaya pun mengangguk mengerti.
"Kenapa Gabriel harus kembali ke kantor, tapi tunggu dulu aku masih penasaran kenapa lantai toilet jadi tiba-tiba licin." Batin Kanaya.
"Sayang kamu sudah bangun nak," ucap Ellen.
"Iya buna, maaf ya mam, bun Naya jadi merepotkan mami dan buna." Lirih Kanaya.
"Kamu ini bicara apa si sayang tidak ada yang merasa direpotkan disini." Ucap Freya.
"Mam Kanaya boleh telpon bunda gak?" Tanya Kanaya.
"Sayang mami sudah menghubungi ayah dan bunda kamu, mungkin mereka sedang dalam perjalanan menuju kesini sekarang." Ucap Freya, Kanaya tersenyum mendengar perkataan Freya.
"Beneran mam?" Tanya Kanaya.
"Tentu saja nak, mami tahu disaat seperti ini kamu pasti ingin bertemu dan dekat dengan bunda kamu." Ucap Freya, Kanaya pun mengangguk dan tersenyum.
Tak lama kemudian ayah dan bunda Kanaya pun sampai, mereka langsung masuk tak lupa juga mengucapkan salam saat bertemu dengan Freya dan Ellen yang berada disana.
"Kanaya kamu tidak apa-apa sayang," ucap Sintia langsung memeluk dan mengecup wajah cantik sang putri.
"Bunda Naya gak apa-apa kok Alhamdulillah bayi Naya selamat." Ucap Kanaya.
"Syukurlah nak, bunda sangat khawatir saat mami kamu menghubungi kalau kamu terjatuh dan masuk rumah sakit." Ucap Sintia, ia menggenggam tangan putrinya.
"Iya bund anak naya kuat," ujarnya Sintia pun mengangguk dan tersenyum.
"Ayah bagaimana keadaan ayah?" Tanya Kanaya.
"Ayah baik-baik saja sayang, disaat seperti ini kamu malah memikirkan kondisi ayah hmmm." Ucap sang ayah.
"Kanaya juga khawatir dengan kondisi ayah, tapi syukurlah kalau ayah baik-baik saja." Ucap Kanaya.
"Bukankah ayah harus sehat agar bisa melihat kelahiran cucu ayah nanti." Ucap nya lagi.
"Tentu saja ayah harus sehat Kanaya ingin melihat ayah menggendong anak nya Naya." Ucap Kanaya, Freya dan Ellen pun tersenyum melihat senyum Kanaya kembali terbit.
__ADS_1
"Mbak Sinta bagaimana jika ibu tinggal disini beberapa waktu?" Ucap Freya.
"Saya takut merepotkan kamu mbak Frey," Ucap Sintia.
"Merepotkan apa mbak, saya tidak merasa direpotkan lagi pula mbak jarang bertemu dengan Kanaya kan jadi saya dan Kanaya akan sangat senang jika mbak tinggal bersama kami untuk beberapa waktu." Ucap Freya.
"Bagaimana yah?" Tanya Sintia.
"Ayah gimana bunda saja Bund, tapi ayah pikir tidak apa-apa kita jadi bisa membantu menjaga Kanaya." Ucap sang ayah.
"Benar juga, yasudah kami akan tinggal bersama kalian beberapa hari." Ucap Sintia.
...
Malam hari Kanaya hanya ditemani oleh Adisty dan Sintia juga ayah Kanaya, sebenarnya Kanaya sudah melarang sang ayah untuk menemaninya di rumah sakit. Freya juga sudah berusaha membujuk ayah menantunya untuk ikut pulang, namun Dani menolak ia ingin menemani sang putri di rumah sakit.
Akhirnya Freya pun menyerah namun ia tetap meminta petugas rumah sakit menyiapkan kamar untuk istirahat ayah dan bunda Kanaya beristirahat.
"Kak mau buah?" Tanya Adisty, Sintia tersenyum melihat Adisty yang begitu setia disamping putrinya.
"Boleh kakak mau jeruk ya," ucap Kanaya.
Adisty pun mengangguk dan mengupas kulit jeruk setelah terkupas Adisty meletakan nya di piring dan ia berikan kepada Kanaya, Adisty tidak ingin Kanaya mengalami kesulitan apalagi ia sedang mengandung calon keponakan nya.
"Ayah, bunda kapan datang?" Tanya Gabriel terkejut, ia menyalami kedua orang tua istrinya.
"Tadi sore nak kamu baru pulang dari kantor?" Tanya Sintia.
"Ah, iya aku baru saja pulang dari kantor Bund." Ucap Gabriel.
"Seharusnya kamu pulang saja dulu ke rumah nak untuk beristirahat, biar Kanaya ayah dan bunda yang menjaganya." Ucap ayah Kanaya.
Perkataan sang ayah membuat bibir Kanaya mengerucut, tidak tahukan ia jika saat ini Kanaya sangat merindukan suaminya.
Ia ingin sekali memeluk Gabriel dan menghirup aroma maskulin dari tubuh Gabriel, sementara Gabriel hanya tersenyum menanggapi perkataan mertuanya.
"Om tante sebaiknya om dan tante istirahat yuk, kalian pasti lelah karena menunggui kak Naya dari sore kan." Ucap Adisty yang paham akan keinginan sang kakak ipar.
"Gak apa-apa nak om dan tante gak capek kok," tolak Sintia.
"Tapi om harus istirahat kan tan, kak Naya dan kak Gabriel juga harus istirahat sebaiknya tante dan om juga istirahat." Ucap Adisty, Sintia menghela nafasnya menatap Kanaya.
"Bunda ke kamar sebelah gak apa-apa nay?" Tanya Sintia.
__ADS_1
"Iya gak apa-apa kok bund lagian kan ayah dan bunda juga butuh istirahat." Ucap Kanaya.
"Yasudah kalau begitu bunda dan ayah ke kamar sebelah ya, kalau ada apa-apa segera kabari bunda." Ucap Sintia, Kanaya pun mengangguk.
"Sayang," rengek Kanaya manja dan merentangkan kedua tangannya.
"Kenapa?" Tanya Gabriel, setelah kepergian mertua dan adiknya Kanaya pun beraksi.
"Aku kangen sama kamu, kenapa kamu ninggalin aku?" Ucap Kanaya, Gabriel tercengang menatap Kanaya.
Tumben sekali istrinya merasa kangen biasanya juga Kanaya cuek bebek tentang Gabriel, mau Gabriel pergi kemanapun Kanaya tak pernah melarang atau menunggu dirinya.
Namun sikap Kanaya saat ini membuat Gabriel senang bukan main, ia senang karena akhirnya Kanaya bermanja-manja kepadanya.
"Aku tadi harus ke kantor honey ada sesuatu yang harus aku selesaikan." Ucap Gabriel, yang saat ini sudah membalas pelukan sang istri.
"Kenapa lama sekali aku gak suka kamu pergi lama-lama." Rajuk nya, Kanaya menenggelamkan wajahnya di dada bidang Gabriel.
"Ck, maafkan aku jika membuat kamu menunggu." Ucap Gabriel.
"Baiklah kali ini aku maafkan kamu tapi jangan diulangi lagi." Ucap Kanaya, Gabriel pun mengangguk dan mengecup puncak kepala sang istri.
"Iya tidak akan aku ulangi lagi honey." Ucap Gabriel.
"Kalau begitu buka bajunya sekarang," ucap Kanaya membuat Gabriel melotot.
"H-hah, ngapain honey kamu sedang sakit." Ucap Gabriel.
"Sayang aku mau tidur tapi kamu buka dulu baju kamu, aku gak bisa tidur kalau kamu pakai kemeja kerja kayak gini." Ucap Kanaya.
"Ta-tapi," ucap Gabriel.
"Aku ingin tidur dengan memeluk kamu sayang." Rengek Kanaya matanya mulai berkaca-kaca.
"Baiklah aku buka kemeja nya ya," ucap Gabriel terlihat jika lelaki itu menghela nafasnya.
"Naik sini," ucap Kanaya menepuk tempat disampingnya dan meminta Gabriel untuk berbaring disana.
"Iya honey," balas Gabriel pasrah.
Kanaya pun memeluk Gabriel dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang suami, sementara tangannya menari-nari di dada bidang Gabriel.
"Keinginan macam apa ini tuhan, aku benar-benar ters*ksa dengan keinginan Kanaya yang ini." Batin Gabriel.
__ADS_1