Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
10


__ADS_3

Ayumi sudah berada di dalam kamar tidurnya, menatap langit yang gelap dan bertabur bintang yang makin terlihat indah dari jendela kamarnya. Lampu kamarnya sudah dimatikan, hordeng jendelanya sudah ditutup, namun sorot cahaya bulan masuk ke celah-celah kecil jendela ke dalam kamar Ayumi. Ayumi sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur, tubuhnya menghadap jendela kamar sambil menopangkan kaki di atas guling kesayangannya.


Malam itu menjadi malam yang indah sekaligus malam yang menyiksa batin dan pikirannya. Kedua mata Ayumi tiba-tiba sudah basah, mengingat kebersamaan dengan kedua orangtuanya. Orangtuanya yang selalu ada untuk Ayumi saat suka maupun duka. Orang tua yang selalu memberikan selamat saat Ayumi mendapatkan juara kelas, orang tua yang selalu ada saat Ayumi sakit dan bersedih. Begitu cepat Ayumi ditinggalkan oleh kedua orangtuanya secara bersamaan.


'Ayah, Bunda ... Ayumi rindu. Ayumi ingat kata-kata Bunda untuk selalu menjadi anak gadis ayah yang bisa dibanggakan oleh keluarga. Ayumi ingin mengejar cita-cita Ayumi, Ayumi akan berusaha keras,' batin Ayumi didalam hatinya.


Tangisannya semakin menusuk hatinya, suara tangisannya tidak kencang karena wajahnya ditutupi oleh selimut tebal. Tapi air matanya sudah tumpah memenuhi bantal dan guling yang dipakai Ayumi.


Hidupnya kini hanya berdua dengan Nenek Arsy. Ayumi masih bersyukur memiliki Nenek Arsy yang begitu baik dan perhatian kepada dirinya. Ayumi begitu menyayangi Nenek Arsy. Sejak kecil Ayumi juga menjadi cuvu kesayangan Nenek Arsy karena kecerdasannya yang melebihi rata-rata. Nenek Arsy adalah orang yang paling mendukung cita-cita Ayumi untuk menjadi seorang dokter.


Senyum kedua orangtuanya seakan masih terbayang dan selalu menari-nari dalam pikiran Ayumi. Kedua mata terpejam dan sempat tertidur pulas walau sejenak.


Setengah jam kemudian Ayumi terbangun karena mimpi yang sama dengan beberapa hari yang lalu. Mimpi ini sudah ketiga kalinya hadir, mimpi yang sama yang membuat Ayumi bertanya dalam hatinya. 'Apa maksud dari mimpi ini?' batin Ayumi.


Pikiran Ayumi kini tertuju pada Kak Afnan. Hatinya masih berbunga-bunga dan bahagia. Membayangkan saja tidak pernah untuk bisa sedekat ini dengan Kak Afnan. Orang yang selama ini Ayumi rindukan hanya lewat doa.


Sejujurnya Ayumi belum mengenal siapa sebenarnya Kak Afnan. Hanya mengetahui nama Kak Afnan dari Bundanya. Memikirkan Kak Afnan selama sepuluh tahun bukanlah hal yang mudah. Rasa cinta dan sayang yang dimiliki Ayumi utuh hanya kepada Kak Afnan seorang.


Ayumi ingat betul apa yang dikatakan Bunda Alisha kepadanya. 'Ayumi, cari dan berterima kasihlah kepada Afnan. Dia adalah lelaki baik yang mau peduli untuk menolong kamu saat itu walaupun taruhannya adalah nyawanya sendiri.' Bunda Alisha dengan detil menjelaskan kepada Ayumi saat beranjak dewasa.


Sejak penjelasan Bunda Alisha dan Ayumi sendiri berusaha mengingat kejadian waktu itu, membuat Ayumi juga merasa penasaran dengan Afnan. Ya, Afnan yang ternyata anak dari seorang Kyai yang cukup dikenal baik di daerah dimana Nenek Arsy tinggal.


Padahal Ayumi belum mengenal dan melihat wajah Kak Afnan seperti apa dan bagaimana. Hanya mendapatkan informasi yang katanya Afnan itu seperti ini dan seperti itu. Saat itu juga Ayumi mencari tahu tentang apapun yang berhubungan dengan nama Afnan. Tapi hari ini mereka berdua bisa sedekat itu, seperti sudah lama mengenal. Seperti teman lama yang dipertemukan kembali di waktu, tempat yang sudah menjadi takdir keduanya


'Tidak sia-sia aku selalu menyebut namamu Kak Afnan disetiap doa-doa saat bersujud kepada Allah SWT setiap malam,' batin Ayumi.

__ADS_1


Ayumi bukanlah seorang santri, tapi ilmu agamanya cukup baik. Ayah Bayu dan Bunda Alisha sering mengajak Ayumi untuk datang ke majelis taklim ataupun acara tausiyah. Semasa hidup kedua orangtua Ayumi, sudah mendidik Ayumi dengan baik. Ayumi diajarkan ilmu agama sejak kecil.


Detik berganti detik, menit berganti menit hingga waktu sudah terlewati menuju dini hari. Mata Ayumi masih terlihat segar dan belum mengantuk sama sekali, walaupun sesekali Ayumi menguap lebar tanda tubuhnya sudah lelah dan butuh istirahat.


Tak lama kemudian kedua mata Ayumi sudah terpejam, dan terlihat sangat pulas. Jelas terdengar suara dengkuran halus yang keluar dari bibirnya.


Suara alarm jam weker yang telah di setelah Ayumi sudah berbunyi dengan cukup nyaring memecah keheningan dini hari. Waktu tepat menunjukkan pukul tiga dini hari.


Ayumi terbangun dan mengerjapkan kedua matanya yang terasa agak lengket saat dibuka. Akibat terlalu lama menangis dan bersedih semalam.


Ayumi beranjak dari tempat tidurnya dan berwudhu untuk melaksanakan sholat tahajud.


Sholat tahajud dua rakaat saat dini hari adalah waktu yang mustajabah. Setelah sholat Ayumi berdzikir dan berdoa sebelum berdoa memohon sesuatu hal kepada Allah SWT untuk dirinya.


'Ya Allah, kalau benar Kak Afnan adalah jodoh dunia akhirat Ayumi makan dengarkanlah hati kami berdua. Hari ini adalah pertemuan pertama yang tidak akan pernah Ayumi lupakan,' batin Ayumi saat menengadahkan kedua tangannya dan memohon kepada Allah SWT untuk mengabulkan doa permohonan yang selalu Ayumi sebut.


Tubuh Ayumi masih terasa lemas dan hatinya masih terasa sesak. Ayumi berusaha memohon kepada Allah SWT untuk bisa mengikhlaskan kepergian Ayah dan Bundanya. Mendoakan Ayah dan Bundanya agar bisa masuk surgaNya Allah SWT.


Ayumi bersujud di sajadah panjang itu. Setiap malam, itu yang dilakukan Ayumi lalu dilanjutkan membaca Al-Quran hingga waktu adzan shubuh berkumandang.


Suara ketukan pintu dari arah luar kamarnya. "Ayumi, jangan lupa sholat shubuh, sudah adzan," panggil Nenek Arsy kepada Ayumi dengan suara lembut.


"Iya Nek. Ayumi sedang sholat shubuh," teriak Ayumi dari balik pintu kamarnya.


Setelah beres melaksanakan sholat shubuh, Ayumi keluar kamar untuk membantu Nenek Arsy membuat sarapan atau membantu pekerjaan lainnya.

__ADS_1


"Nek, sedang membuat apa?" tanya Ayumi yang masuk ke dalam dapur. Melihat Nenek Arsy sedang berkutat dengan alat penggorengan.


"Ayumi, Nenek mau buat pisang goreng." jawab Nenek Arsy.


Ayumi melihat sekilas dan menganggukkan kepalanya pelan.


"Ayumi bantu sapu pelataran rumah, Nek." ucap Ayumi pelan kepada Nenek Arsy dan berjalan menuju arah depan rumah.


Ayumi sudah memegang sapu dan pengki untuk mengumpulkan sampah dedaunan yang kering di sekitar pelataran rumah Nenek Arsy.


Pagi itu masih terlihat gelap, namun udaranya sangat sejuk sekali saat menghirup napas secara dalam hingga rasa dingin dan segar merasuk dari rongga hidung menjalar ke arah paru paru dan jantung lalu dikeluarkan secara perlahan-lahan dari mulut. Begitu dilakukan secara terus menerus hingga tubuhnya yang kedinginan kini mulai menghangat.


Ayumi tampak semangat pagi ini. Wajahnya memang terlihat sedikit sembab, namun keceriaannya tetap terlihat dari senyumnya yang terus mengembang.


"Assalamu'alaikum, gadisku?" ucap Afnan menyapa dengan lembut saat Ayumi masih memejamkan kedua matanya untuk menarik napas dalam.


Mendengar suara dan mengucapkan salam, Ayumi segera membuka kedua matanya dan menatap seseorang yang sudah berdiri dihadapannya.


"Waalaikumsalam Kak Kahfi? Bukannya Kak Kahfi sedang mondok di Pesantren?" tanya Ayumi yang terlihat terkejut menatap Kahfi sudah ada di depannya.


"Kaget? Kakak cuma mampir memastikan kamu baik-baik saja, dan ini Kakak bawakan roti tawar dengan selai srikaya kesukaan kamu, Ayumi," ucap Kahfi pelan sambil memberikan satu kantong plastik.


Belum sempat menjawab. Kahfi sudah berpamitan untuk undur diri dan kembali ke Pondok Pesantrennya.


"Terima kasih Kak Kahfi," teriak Ayumi saat melihat Kahfi sudah berlari ke depan dan naik kendaraan bermotor bersama temannya yang sejak tadi menunggunya.

__ADS_1


__ADS_2