Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
127


__ADS_3

Pertemuan ketiga sahabat lama itu kini membuat suasana apartemen terasa hangat dan riuh ramai. Para kaum adam masih saja duduk manis di ruang tamu, sejak tadi tidak ada perubahan posisi duduk. Entah apa yang dibahas oleh para bapak-bapak itu.


Pak Faisal adalah lelaki yang menikah dengan terlambat, perbedaan usia yang sangat jauh sekitar lima belas tahun dengan Umi Latifa dan sekarang sedang menunggu kelahiran anak pertamanya.


Ustad Ikhsan sejak tadi hanya terdiam menyimak pembicaraan unfaedah para bapak-bapak yang ada didepannya ini, sesekali ikut tertawa dan tersenyum bila ada hal yang membuatnya merasa lucu dan unik.


Sedangkan para kaum hawa masih berkumpul di ruang tengah dengan mencicipi berbagai jenis cemilan yang ada dengan obrolan santai Seputra kelurga bahagia.


"Sebenarnya ada acara apa sih? Kenapa bisa bersamaan datang dan berkumpul seperti mau ada acara besar? Atau mau syukuran tujuh bulanan kandungan Umi Latifa?" tanya Rara dengan rasa penasaran yang tinggi.


Semua orang hanya tersenyum tanpa ada respon lain sehingga membuat Rara makin penasaran dengan surprise ini.


"Mau ketemu Rara, kangen sama Rara juga," jawab Bunda Icha pelan sambil mengusap kepala Rara dengan lembut.


"Kak Fi belum datang Ra? Biasa pulang jam berapa?" tanya Umi Latifa dengan pelan kepada Rara.


Rara menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak mesti Umi Latifa, Kak Fi sedang mengejar skripsinya agar cepat lulus," ucap Rara dengan suara pelan.


"Oh, seperti itu," ucap Bunda Icha menjawab pelan.


Ketiga wanita itu melanjutkan obrolan santainya di sore hari sambil melepas lelah dari perjalanan panjangnya selama di pesawat.


Tak terasa waktu semakin sore dan sudah menjelang adzan maghrib. Kahfi juga belum datang kembali ke apartemen, mungkin masih banyak tugas yang harus diselesaikan oleh Kahfi untuk mengejar lulus dengan cepat.


Kahfi sudah berada dalam perjalanan pulang, hari ini hatinya nampak bahagia tapi cemas. Judul skripsinya sudah diterima oleh dosen pembimbingnya, Kahfi akan lebih fokus kuliah dan skripsi bersamaan, agar waktunya nanti tidak memakan banyak waktu untuk mengurus skripsinya.


"Assalamu'alaikum ..." ucap Kahfi pelan memberi salam saat pintu apartemen itu dibuka.


"Waalaikumsalam ..." jawab serempak semua kaum Adam yang ada di ruang tamu itu.


Betapa terkejutnya sudah banyak tamu yang hadir memenuhi ruang tamunya yang terlihat sempit.


Kahfi langsung menghampiri kepada ketiga laki-laki paruh baya itu mencium punggung tangan mereka dengan rasa hormat. Lalu pandangannya beralih pada Ustad Ikhsan, dengan memeluk dan berjabatan tangan.


Kahfi ikut duduk bersama dengan para bapak-bapak itu dan menimbrung dalam pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Ada Mama Anna dan Bunda, Fi," ucap Kyai Toha menitah Kahfi untuk bertemu dengan. Bundanya terlebih dahulu.


Kahfi menganggukkan kepalanya pelan.


"Iya, Pak. Kahfi ke belakang dulu," jawab Kahfi pelan sambil beranjak menuju ruang tengah.


Sama seperti di ruang tamu, diruang tengah pun ramai riuh candaan, tawaan para kaum hawa.


"Assalamu'alaikum, Bunda, Mama Anna dan Umi Latifa, apa kabar semuanya," sapa Kahfi mengucapkan salam saat memasuki ruang tengah.


"Waalaikumsalam, Kahfi," jawab mereka semua secara serempak.


"Kak Fi, sudah pulang," ucap Rara pelan sambil beranjak menghampiri Kahfi dan mencium punggung tangan Kahfi dengan sopan.


Rara memang sudah membiasakan diri untuk berlaku sopan kepada Kahfi.


Bunda Icha menoleh ke arah Kahfi. Suara itu sangat khas, suara lembut tapi agak berat.


Kahfi menghampiri Mama Anna, Umi Latifa dan Bunda Icha untuk menyalimi ketiga wanita paruh baya itu dengan hormat.


Rara sudah kembali dari dapur untuk membuatkan minuman es capuccino untuk Kahfi seperti biasa setiap hari yang dilakukannya.


"Ini minumannya Kak Fi," ucap Rara pelan sambil memberikan minuman itu untuk Kahfi.


Ketiga wanita paruh baya itu berdehem menggoda pasangan yang terlihat mesra dan romantis ini.


"Sudah cocok dan ideal, di SAHkan aja Fi," ucap Mama Anna dengan suara pelan.


Kahfi hanya tersenyum dan meneguk es capuccino itu hingga setengah gelas. Perasaannya tiba-tiba jadi aneh dan tak karuan. Sepertinya sesuatu yang kurang baik akan menimpa dirinya.


"Ada acara apa ini sebenarnya, kok Kahfi tidak tahu Bunda akan datang," tanya Kahfi pelan kepada Bunda Icha.


Bunda Icha hanya tersenyum manis menanggapi pertanyaan khafi.


"Sengaja untuk surprise, dan Bunda yakin banget kalian itu sangat terkejut melihat Bunda datang kesini, betul gak?" tanya Bunda sambil terkekeh pelan.


Kahfi menganggukkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"Kahfi sangat terkejut bahkan benar-benar tidak menduga sama sekali, kalau Bunda dan Bapak datang kesini," ucap Kahfi pelan menjelaskan.


Suara adzan maghrib sudah berkumandang dengan sangat keras hingga suaranya menggema di ruangan apartemen itu.


"Sudah adzan maghrib, kita sholat berjamaah, bantu persiapkan tempat disini," ucap Kahfi menitah.


Ruang tengah itu sudah disulap sebagai tempat untuk melaksanakan ibadah sholat magrib berjamaah dengan Ustad Ikhsan sebagai imamnya.


Setelah melaksanakan sholat maghrib, mereka semuanya makan malam bersama di ruang tengah dengan menyantap makan malam dengan nikmat.


Sambil menyelesaikan makan malamnya, Pak Sukoco mengutarakan niat kedatangannya ke negara ini selain menjenguk kedua putra putrinya itu.


"Maaf, kalau ada kata-kata Ayah yang tidak berkenan, maksud kedatangan Ayah kesini untuk segera menghalalkan kalian berdua ..." ucapan Ayah Sukoco terhenti karena Kahfi menyela dengan spontanitas.


"Apa-apaan ini, kenapa tidak dibicarakan terlebih dahulu, bukan menodong seperti ini," ucap Kahfi menyela pembicaraan Ayah Sukoco dengan setengah berteriak kesal.


Hati Kahfi sejak pagi sudah merasakan hal aneh, dan ternyata ini adalah kabar buruk yang harus didengar oleh Kahfi.


Permintaan untuk segera menikahi Rara yang sudah setengah tahun ini di kamarnya dengan cara bertunangan.


Pertunangan itu juga suatu kesalahan, suatu permintaan Ayumi untuk menerima Rara, tqpi berakhir dengan permintaan menikahi Rara.


Kahfi menggelengkan kepalanya dengan cepat, tanda bahwa Kahfi tidak bersedia untuk menikahi Rara.


"Kahfi!! Seharusnya kamu lebih sopan berbicara kepada Ayah Sukoco," ucap Kyai Toha dengan keras dan tegas kepada Kahfi yang dianggap tidak hormat.


"Maaf Kahfi tidak bisa menikahi Rara," jawab Kahfi lirih dan sangat pelan. Kahfi beranjak berdiri menuju balkon kamar tidurnya.


Kahfi berdiri di balkon itu sambil menatap bintang yang berkelap-kelip.


Hatinya ingin menangis dan berteriak dengan keras.


Rara sejak tadi mengikuti Kahfi dan berdiri dari dalam kamar gelap itu memandang punggung lebar Kahfi.


Kahfi berteriak dengan keras.


"Ayumi!!!" teriak Kahfi keras dan tampak sedikit frustasi.

__ADS_1


__ADS_2