
Yumna sudah masuk ke dalam di temani oleh Yuri. Bunda Sinta ada di dalam kamar dan duduk di atas kasur sambil bersandar pada sandaran ranjang yang sudah di beri pembatas tumpukan bantal. Tatapan kedua mata Bunda Sinta begitu kosong dan sama sekali tak berkedip. Kak Jone dan Kak Dafa ada disana menemani sang Bunda yang sdeang tidak baik -baik saja. Tahu kan rasanya kehilangan seseorang yang selama ini selalu ada di samping kita. Bagai mendirikan tenda tanpa ada pasaknya tentu akan jatuh sia -sia tenda itu.
Sama seperti apa yang saat ini sedang di rasakan oleh Bunda Sinta. Sejak kemarin air matanya selalu menetes sendiri dan sesegukan menatap nanar ke arah depan. Makan tak bisa dan minum pun tak mau jika tak di paksa oleh kedua anak lelaki kesayangannya itu.
"Bunda ...," panggil Yumna asaat membuka pintu kamar Bunda Sinta dan langsung berlari menghambur ke arah Bunda Sinta. Yumna langsung memeluk tubuh Bunda Sinta yang terlihat kuyu dan tak memeiliki semangat hidup.
Bunda Sinta melirik ke arah Yumna dan tersenyum kecil. Rasanay seperti malas tersenyum pada putri semata wayangnya itu.
"Bunda ... Ini Yumna datang. Yumna datang demi Bunda dan Yumna mau lihat Ayah," ucap Yumna mulai menangis histreis.
"Bilang sama Yumna kalau kabar ini gak benar. Ayah belum meninggal!! Ayah masih hidup. olong bilang pada Yumna kalau ini semua gak benar!!" teriak Yumna histeris.
__ADS_1
Bunda Sinta langsung memeluk Yumna dan mendekap putrinya dengan erat. Bunda Sinta tidak ingin Yumna depresi karena kematian Ayahnya secara menadadk. Apalagi Yuman memiliki riyawat amnesia dan baru saja sembuh, kondisi ini bis amemicu kambuh kembali di saat saraf otaknya menegang dan mengalami seperti keram otak.
"Bundaaa ...," tangis Yumna terus tersedu. Yumna tak tahu lagi bagaimana ia harus meluapkan rasa sedihnya ini kecuali denagn menangis saja.
Kak Jone dan Kak Dafa ikut memeluk adik perempuan kesayangan mereka.
"Yumna sayang ... Jangan begini, Na. Kita harus ikhlaskan Ayah. Kalau kita ikhlas, tentu Ayah akan bahagia di sana," ucap Jone lirih memeluk Yumna dari belakang.
"Bisa ya? Kompromi dengan Kak Duta. Biar Yumna tidak tahu kabar ini dan Yumna tidak pulang ke Indonesia. Gitu?" sentak Yumna pada kedua kakak lelakinya yang saling berpandangan erasa bersalah.
Yumna adalah gadis lembut tapi rasa kecewanya hari ini membuat dirinya menjadi sangat galak dan kasar.
__ADS_1
"Bu -bukan begitu Na. Kamu salah paham. Biar Kak Jone jelaskan duduk perkaranya," ucap Jone mencoba menenangkan Yumna.
"Halah ... Sudahlah Kak. Gak perlu ada penejlasan apapun. Yuri aja yang bukan siapa -siapa sudah datang di rumah ini!! Yumna itu anak kandung Ayah bukan anak pungut atau anak tiri kan? Kenapa harus di sembunyikan?" ucap Yumna denagn nada suara semakin meninggi.
"Bukan begitu Na. Kakak tidak bermaksud seperti itu. Ini keinginan Bunda, karena kamu dan Kak Duta baru saja tiba di Paris. Kondisi kamu juga sedang hamil muda. Kami yakin ini adalah hal yang terbaik buat kamu, Na," ucap Kak Dafa mencoba ikut menjelaskan.
"Yumna sama sekali gak percaya dengan Kak Jone dan Kak Dafa. Yumna rela tinggalin Kak Duta yang juga sulit kasih ijin Yumna untuk pulang. Padahal Yumna pulang untuk urusan penting. Ini masalah kepergian Ayah selamanya. Kalian kenapa begitu jahat!!" ucap Yumna kembali menangis lagi sambil terduduk di lantai.
"Bu -bukan begitu Na. Kamu salah paham, tolong dengarkan dengan kepala dingin," ucap Kak Jone berusaha menjelaskan agar Yumna paham.
Yumna menggelengkan kepalanya cepat sambil menutup telinga dengan kedua tangannya karena tak ingin mendengarkan penjelasan apapun. Leleran air mata dan cairan dari hidung terus menaglir emmbuat dada Yuma semakin terasa sesak dan sakit.
__ADS_1