Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
58


__ADS_3

Perjalanan masih cukup lama memakan waktu sekitar tiga jam lagi untuk sampai ke rumah. Baru saja menancapkan pedal gas untuk melajukan mobil sportnya, Kahfi segera menekan rem dengan sekuat tenaga.


Ayumi terkejut dan hampir menabrak dashboard di depannya karena kahfi menginjak rem secara tiba-tiba.


"Ada apa Fi? Bunda sampai kaget," ucap Bunda Icha pelan kepada Kahfi sambil mengucapkan istighfar berkali-kali.


"Anak kucing Bun, Fi juga kaget," jawab Kahfi pelan. Jantungnya berdegup sangat kencang, kedua matanya terpaku pada jalanan di depannya, mencari-cari anak kucing yang tadi sempat terlihat namun kini menghilang.


Ayumi membuka sabuk pengamannya dan turun dari mobil. Lalu berjalan ke arah depan mobil dan berjongkok melihat ke arah bawah mobil.


Kedua matanya membola melihat anak kucing yang sudah tergeletak seperti tak bernyawa, seluruh tubuhnya bersimbah darah segar yang keluar dari beberapa bagian tubuhnya.


Ayumi bergegas berdiri dan mencari mukena di tas besarnya.


"Ada apa Ayumi, seperti tampak terburu-buru, anak kucingnya ada?" tanya Bunda Icha yang ikut panik melihat Ayumi kebingungan.


Ayumi hanya terdiam fokus pada tas besarnya dan mencari mukena yang dibawanya.


Mukena itu dibawa keluar dan dipegang dengan erat. Ayumi berjongkok kembali melihat ke arah kolong mobil, meletakkan mukenanya di aspal jalanan dan mengangkat kucing bersimbah darah itu ke mukenanya untuk dibalut dan dibawa pulang.


Entah sudah mati atau belum kucing tersebut, Ayumi belum sempat mengecek yang terpenting dibawa dalam dekapannya.


Ayumi masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi dengan tergesa-gesa.


"Jalan Kak, kita cari bantuan, sepertinya kucing ini masih bisa diselamatkan," ucap Ayumi pelan menitah Kahfi untuk mengajukan mobilnya.


"Innalilahi, Fi, itu anak kucing, kenapa bisa sih?" tanya Bunda Icha dengan kesal.


"Bunda, ini semua sudah takdir. Kita cari bantuan ya," jawab Ayumi pelan.


Kahfi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sambil mencari pet shop terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama untuk anak kucing yang ditabraknya secara tidak sengaja.


Ayumi menatap wajah anak kucing lucu itu, bulunya lebat dan berwarna putih bersih, warna pekat darah yang menempel pada bulu-bulu kucing itu membuat miris melihatnya.

__ADS_1


"Ay, itu ada petshop, kita kesana ya?" ucap Kahfi pelan lalu melajukan mobilnya ke arah petshop dan memarkirkan mobilnya disana.


Ayumi hanya mengangguk pelan tanpa menjawab. Pikirannya sangat kacau memikirkan keselamatan kucing tersebut. Bunda Icha juga ikut panik, sesekali bertanya pada Ayumi tentang kondisi kucing tersebut, apakah masih hidup atau sudah mati, apakah masih bisa diselamatkan atau tidak.


Ayumi menatap kucing tersebut dengan tatapan kasihan, tubuhnya masih terasa hangat, bau amis dari darah kucing yang masih mengalir membuat mukena Ayumi yang berwarna putih berubah menjadi merah darah.


Sesampai di parkiran, Ayumi langsung membuka pintu dan berlari ke arah dalam petshop untuk segera memberikan kepada perawat agar mendapatkan pertolongan pertama.


Ayumi adalah gadis penyayang dan telaten. Rasa kasihan terhadap sesama makhluk hidup membuat dirinya terlihat peduli.


"Assalamu'alaikum, tolong kucing saya, tidak sengaja tertabrak," ucal Ayumi membuka pintu petshop dan masuk kedalam dengan sangat tergesa-gesa.


"Waalaikumsalam, baru kemari, Nak," jawab seorang wanita paruh baya yang sedang berdiri di dekat meja resepsionis.


Ayumi langsung memberikan anak kucing yang terbalut mukena itu kepada perawat yang memanggilnya tadi, lalu meletakkan anak kucing itu di meja tindakan.


Kain mukena itu dibuka, tampak kedua mata anak kucing itu menatap Ayumi seolah meminta pertolongan karena rasa sakit dan nyeri pada semua bagian tubuhnya.


Perawat itu mengecek keadaan anak kucing itu lalu, dibawa ke dalam ruangan khusus. Kahfi dan Bunda Icha menyusul masuk ke dalam petshop dan duduk di ruang tunggu.


"Anak kucingnya gak apa-apa Ay?" tanya Kahfi pelan dari kursi tunggu yang Kahfi duduki.


"Tidak tahu Kak, belum ada info,"jawab Ayumi dengan tenang. Padahal perasaannya tidak karuan.


Satu jam lamanya sudah menunggu, akhirnya perawatbparuh baya itu keluar dari ruangan. Anak kucing itu sudah bersih dan di balut dengan kain yang baru dan bersih. Tubuh anak kucing itu masih terlihat lemas dan tidak berdaya, kedua matanya terpejam karena obat bius yang disuntikkan ke dalam tubuhnya.


Kedua kaki belakangnya retak dan bagian perutnya sobek. Kepala dan lehernya aman tidak ikut terlindas ban mobil sehingga kucing tersebut hanya luka berat dan tidak mengakibatkan Kematian.


Ayumi dan Bunda Icha mengucapkan hamdalah secara bersamaan. Perasaannya sangat lega dan tenang saat melihat anak kucing itu sudah baik-baik saja.


Kahfi segera membayar biaya pengobatan anak kucing tersebut. Ayumi menggendong anak kucing itu dengan hati-hati.


Perjalanan pulang masih cukup lama dan sepertinya sudah sangat melelahkan sekali. Didalam mobil, Bunda Icha sudah tampak tertidur menyandarkan kepalanya ke bagian belakang.

__ADS_1


Ayumi masih menggendong anak kucing itu dengan penuh kelembutan, sedangkan Kahfi masih fokus pada jalanan yang terlihat ramai dan padat.


"Ay, sudah cocok itu gendong anak," ucap Kahfi terkekeh.


Ayumi diledek seperti itu hanya mendengus dengan kesal.


"Gak usah pikirin Ayumi, tuh, pikirin perasaan Rara gimana?" tanya Ayumi pelan sambil menatap wajah Kahfi dari samping.


"Jangan tatap lama-lama nanti jatuh cinta malah repot," ledek Kahfi sambil tersenyum dan melirik ke arah Ayumi yang sedang mengerucutkan bibirnya dengan kesal.


"Mana ada gitu, Kakak itu akan tetap menjadi adik ipar Ayumi," tegas Ayumi kepada Kahfi.


"Jangan takabur gadis cantik, tidak ada yang tidak mungkin kalau mau berusaha. Banyak cara untuk berusaha dan tetap yakin," ucap Kahfi pelan.


"Kenapa Kakak begitu yakin dengan takdir dan usaha? Bukankah semua itu sudah ketetapan Allah SWT," tegas Ayumi kepada Kahfi.


"Hanya doa yang bisa merubah segalanya, Kun fayakun Ay," ucap Kahfi pelan.


Ayumi hanya mendengar tanpa menjawab.


"Cintailah Rara sepenuh hati Kakak, hanya itu permintaan Ayumi pada Kakak," ucap Ayumi pelan.


"Kakak gak akan pernah bisa Ay," ucap Kahfi pelan.


"Kak, ada Bunda, Ayumi gak enak," ucap Ayumi lirih setengah berbisik.


"Bunda sudah tahu semuanya. Kakak yang menceritakan semuanya," ucap Kahfi pelan.


Ayumi menghela napas panjang saat mendengar penjelasan Kahfi, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Ayumi perlu menenangkan pikirannya agar tidak ikut tersulut emosi.


"Kenapa harus cerita kepada Bunda, ini adalah sebuah kesalahan, Kak," ucap Ayumi pelan.


"Maafkan Kakak, Ay. Kakak memang sayang kamu, cinta yang ada pada Kakak adalah anugerah dari Allah SWT," ucap Kahfi pelan.

__ADS_1


"Buka hati Kakak untuk Rara jika masih ingin bertemu Ayumi, yokong pikirkan baik-baik Kak," ucap Ayumi dengan tegas.


"Demi bisa bertemu Ayumi, semua syarat akan Kakak lakukan, asal kamu harus tahu konsekuensi dari syarat tersebut" ucap Kahfi pelan menjelaskan.


__ADS_2