
Seperti biasa hati ini Bulan dan Ayumi harus pergi ke sekolah. Acara pagi ini adalah hal yang paling penting bagi mereka berdua.
Pagi-pagi benar Ayumi sudah memasak untuk sarapan. Zura keluar dari kamar tidur langsung menuju dapur dan duduk di kursi yang ada di ruang makan itu.
Ayumi sudah selesai memasak dan menyiapkan semua hasil masakannya di atas meja makan. Tatapannya langsung tertuju pada Zura yang sudah meneguk air teh manis panas yang sudah tersedia di meja makan hingga habis setengah gelas.
"Kak Zura," ucap Ayumi sedikit terkejut dengan kedatangan Kak Zura yang tiba-tiba sudah duduk manis di meja makan.
Kak Zura masih memakai dress tidur yang sangat tipis dan pendek dengan rambut panjangnya yang digelung dan dicepol ke atas hingga memperlihatkan lehernya yang putih mulus.
Kaum Adam mana yang tidak tertarik dengan wanita secantik Kak Zura.
"Gak salah kan? Kalau ikut duduk disini?" tanya Kak Zura sedikit sinis
Sejak awal kedatangan Kak Zura tinggal di apartemen ini, suasananya semakin berubah tidak nyaman bagi Ayumi. Kak Zura sangat berubah drastis dengan Kak Zura yang dulu dikenalnya.
"Tidak ada yang salah, Ayumi hanya kaget saja. Kak Zura mau makan sekarang? Biar Ayumi ambilkan, mau pakai apa?" tanya Ayumi pelan sambil menunjuk ke arah meja makan untuk memilih beberapa jenis makanan yang ada disana.
"Ya, nasi goreng pake sosis, telur mata sapi, itu nugget juga, sama kerupuk udang," ucap Kak Zura sambil menunjuk beberapa menu yang disukainya.
Ayumi mengambil makanan itu satu per satu dan diletakan ke dalam piring makan, dan diberikan kepada Kak Zura.
"Ini Kak Zura, Ayumi tinggal dulu, mau mandi dulu," ucap Ayumi dengan suara pelan
Kak Zura menerima piring makan itu lalu mulai menyantap sarapannya dengan nikmat hingga tidak menanggapi apa yang di ucapkan Ayumi selanjutnya.
Merasa tidak dihargai, Ayumi pergi kembali ke kamarnya dan mulai membersihkan diri serta mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah.
Bulan sudah rapih menggunakan pakaian seragam lengkap dengan atribut sekolah. Hari ini mereka berdua akan melakukan seminar yang bertemakan pejuang siswa-siswi sekaligus santri.
"Ay, cepet mandi, sibuk aja di dapur," ucap Bulan pelan yang masih merapikan hijab putihnya dengan jarum pentul.
__ADS_1
Ayumi masuk ke dalam kamar hanya tersenyum kecut lalu menuju lemari pakaiannya untuk memilih seragam sekolah yang akan digunakan.
Afnan sudah siap untuk ke kampus pagi ini bertemu dengan dosen pembimbing. Langkah kaki Afnan terhenti melihat sosok Zura yang tengah menyantap sarapannya duduk membelakangi Afnan
Afnan menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan napas itu perlahan lalu melanjutkan berjalan menuju meja makan dan duduk manis di sana.
Kak Zura menatap Afnan yang baginya selalu tampak tampan dan gagah dengan wajah yang sedikit berkumis membuat wajahnya makin terlihat dewasa dan matang.
Afnan mengambil satu piring dari tumpukan piring yang ada di pojokan meja, bersamaan dengan Zura yang juga ingin mengambil piring tersebut untuk Afnan hingga kedua tangan mereka saling bersentuhan.
"Maafkan aku, Zura," ucap Afnan lirih lalu menarik tangannya yang berada di bawah tangan Zura.
Zura tersenyum manis sekali dan mengambil piring itu untuk Afnan.
"Kak Afnan mau apa? Biar Zura ambilkan," ucap Zura pelan dengan sangat manis sekali.
Afnan hanya menatap Zura yang berdiri bersiap mengambil makanan untuk Afnan. Pakaian Zura membuat Afnan sedikit terhenyak dengan tubuh mulus putih tanpa ada jejak lain yang menempel disana. Pakaian tidurnya yang sangat tipis dan pendek serta tanpa lengan membuat beberapa bagian tubuh Zura terlihat polos.
"Apa saja," jawab Afnan singkat tanpa senyum.
Zura menganggukkan kepalanya pelan dan tersenyum sangat manis lalu menyendokkan nasi goreng ke dalam piring Afnan dengan beberapa lauk Pauk yang ada dimeja makan itu.
"Zura ambilkan. Mana calon istrimu, jam segini saja belum ada tanda-tanda bangun," ucap Zura pelan sambil mengoceh yang tidak sesuai fakta.
Afnan hanya melirik ke kiri dan ke kanan sambil mencari-cari Ayumi yang memang belum terlihat sejak tadi.
"Maksudmu kamu yang memasak ini semua ini?" tanah Afnan pelan sambil menerima piring yang sudah berisi sarapan pagi.
Zura hanya mengangguk pelan dan terlihat pasrah berbohong kepada Afnan.
Afnan mencium aroma wangi masakan ini dengan seksama, wanginya sama seperti masakan Ayumi. Lalu mencoba menyendokkan satu sendok makan nasi goreng itu dan menyuapkan ke dalam mulutnya dan mulai mengunyah makanan itu dengan pelan merasakan makanan yang sudah biasa setiap hari dirasakan Afnan.
__ADS_1
'Mana mungkin rasa itu bisa sama, tapi bisa saja bila memakai bumbu yang sama,' batin Afnan dalam hati.
Afnan sudah hampir menyelesaikan sarapan paginya, satu gelas air teh manis panas juga sudah disediakan oleh Zura dan diletakkan di dekat piring makan Afnan.
"Diminum dulu air tehnya biar hangat, kamu mau berangkat sekarang" tanya Zura dengan suara yang lembut dan di buat semanis mungkin.
Afnan hanya mengangguk pelan tanpa ada senyum di wajahnya. Rasanya sangat aneh sekali, dengan perilaku zura yang tiba-tiba terlihat sangat manis ini.
Afnan menjenguk air teh manis panas itu hingga habis tidak bersisa dan langsung beranjak berdiri menuju pintu keluar apartemen untuk segera berangkat ke kampus.
Zura mengikuti Afnan dari belakang dan membukakan pintu itu dengan pelan lalu tersenyum manis.
Afnan berhenti lalu menatap Zura dan berdiri saling berhadapan.
"Zura, kamu tidak sedang sakit kan?" tanya Afnan pelan sambil menatap lekat kedua mata Zura.
Zura hanya tersenyum lalu terkekeh geli mendengar ucapan Afnan.
"Kenapa malah tertawa, bukannya di jawab?" tanya Afnan pelan sedikit kesal melihat Zura.
Zura hanya tersenyum kecut dan menatap lekat Afnan. Afnan membuang wajahnya ke arah lain dan mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar apartemennya, lalu memundurkan langkahnya lagi dan berbicara lirih kepada Zura.
"Pakai hijab seperti dulu," ucap Afnan lirih tepat didepan wajah Zura yang masih terdiam dan hening.
Lagi-lagi Zura hanya tersenyum kecut.
"Kalau kamu berjanji akan menikahiku, akan kuturuti semua permintaanmu Afnan," jawab Zura pelan kepada Afnan yang sudah hampir menjauh pergi darinya, namun jawaban itu masih bisa didengar oleh Afnan.
Afnan memutar balikkan tubuhnya dan berdiri menghadap ke arah Zura sambil menunjukkan sebuah cincin yang sudah melingkar di jari manisnya itu.
"Maafkan aku, Zura. Aku sudah bertunangan dengan Ayumi," jawab singkat Afnan langsung meninggalkan Zura yang masih mematung di depan kamar apartemen itu.
__ADS_1
Pertunangan itu ternyata benar adanya, lalu dengan cara apa lagi, Zura bisa mendapatkan Afnan.