
Bunda Icha masih terdiam dan menatap Ayumi dengan lekat. Menurut Bunda Icha pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Ayumi tentang Afnan.
Ayumi yang merasa ditatap Bunda Icha dengan sedikit aneh malah mencari kesibukan lain dengan mengambil cemilan dari toples atau sekedar mengambil air teh manis hangat ke dalam gelas.
Bulan juga sejak tadi mencari celah untuk tidak dekat dengan Bunda Icha, dan lebih memilih untuk bersama Mama Anna atau Ustad Ikhsan, Suaminya.
Sama seperti yang lainnya yang juga sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Om Faisal dan Kyai Toha serta Ayah Sukoco sudah bangun dan sudah rapi dengan pakaiannya resminya. Hari ini mereka bertiga akan mengunjungi suatu tempat yang sudah lama ingin dikunjungi oleh ketiga sahabat lama itu. Mereka sudah merencanakan acara ini sangat lama.
Rencana hari ini, setelah acara pernikahan Kahfi dan Rara, mereka akan mengajak pergi seluruh keluarganya untuk menginap di suatu desa yang indah di negara itu, sekaligus sebagai tempat refreshing dan berbulan madu yang sudah menikah dan baru saja menikah.
Umi Latifa masih berada di kamarnya untuk beristirahat. Sejak malam, perutnya terasa sakit dan nyeri pada bagian pinggang. Usia kehamilannya memang semakin besar, jadi semakin banyak keluhan, apalagi ini kehamilan pertamanya bagi Umi Latifa, sehingga merasa kaget dengan perubahan yang terjadi dan dirinya dan dalam perutnya yang sudah mulai ada kehidupan.
Persiapan untuk hari itu sudah rapi, hanya menunggu pesanan makanan dan minuman lalu memanggil wedding organizer untuk menghias tempat ini agar disulap sebagai tempat pernikahan yang indah dan mengesankan.
"Bunda, Rara dimana?" tanya Ayumi pelan saat mulai menyantap keripik kentang balado.
Bunda Icha menatap Ayumi dengan senyum lalu mengusap kepala Ayumi dengan pelan.
"Dari tadi kemana aja Ay? Baru nanyain Rara, astagfirullah. Ada dikamar tuh, tadi malam habis drop," ucap Bunda Icha pelan setengah berbisik sambil menunjukkan arah kamar dimana Rara berada.
Ayumi menoleh ke arah kamar tidur yang ditunjukkan oleh Bunda Icha, itu adakah kamar yang dipakai oleh Rara untuk beristirahat.
Kahfi datang dari arah dapur dan membawa secangkir kopi vanila latte untuk dirinya sendiri lalu duduk di sofa tepat di samping Ayumi.
"Hai, gadis cantik," saoa Kahfi pelan sambil meletakkan cangkir kopinya itu di meja.
__ADS_1
Ayumi menoleh ke arah Kahfi dan tersenyum kecut kepada Kahfi, lalu memalingkan wajahnya lagi menatap piring kecil yang dipegangnya dan menyantap keripik kentang balado itu kembali.
Kahfi mendekatkan wajahnya ke arah Ayumi dan mengambil keripik kentang balado yang diambil dengan tangan Ayumi dari piring kecil itu, baru saja Ayumi akan menyuapkan keripik kentang balado itu ke dalam mulutnya, Kahfi yang sejak tadi mengamati Ayumi menyantap cemilan itu langsung merampas kasar dengan bibir Kahfi dan mengunyahnya dengan cepat di dalam mulutnya.
Ayumi menatap Kahfi dengan kesal dan mengerucutkan bibirnya ke depan.
"Kak Fi tuh gak bosan ganggu Ayumi ya?" ucap Ayumi pelan namun terdengar ketus.
Kahfi hanya tersenyum lebar lalu terkekeh pelan.
"Sampai kapan pun, Kak Fi tidak akan pernah bosan mengganggu Ayumi," ucap Kahfi terkekeh.
Ayumi hanya mendengus dan menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Kalian berdua itu ya, selalu saja berantem, apa gak capek? Kamu juga Fi, sudah tahu Ayumi baru saja datang, tapi sudah diajak bertengkar, kasihan Ayumi, perlu istirahat juga," ucap Bunda Icha pelan menasehati Kahfi yang hanya bisa cengengesan.
"Bunda, biarin aja, Ayumi juga cuma gitu, gak bisa marah dia sama Fi," ucap Kahfi pelan sambil menggoda Ayumi yang masih kesal dengan sikap Kahfi yang terlalu percaya diri.
"Cih, anak kesayangan Bunda tuh, nyebelin," ucap Ayumi dengan kesal.
"Sudah, jangan ribut, Ayumi mau istirahat atau ketemu Rara?" tanya Bunda Icha pelan kepada Ayumi.
"Mau ketemu Rara aja Bunda," jawab Ayumi dengan suara pelan.
"Baiklah, Bunda mau mandi, mau siap-siap terima tamu," ucap Bunda Icha pelan sambil terkekeh mengedipkan satu matanya kepada Kahfi.
__ADS_1
"Abang Afnan mana, Ay? Kak Fi kan rindu, masa adiknya yang paling ganteng ini mau menikah, Abangnya gak datang," ucap Kahfi dengan pelan dan sedikit tegas. Terlihat jelas kata-katanya penuh dengan penekanan.
Ayumi menoleh ke arah Kahfi dengan rasa terkejut yang luar biasa. Tiba-tiba dadanya terasa sakit dan sesak mendengar ucapan Kahfi. Ayumi menatap ke arah Bunda Icha dan Kahfi secara bergantian seolah meminta penjelasan tentang ini semua.
"Kak Fi mau menikahi Rara?" tanya Ayumi pelan dan terbata-bata. Rasa tenggorokannya sakit saat mengulang pertanyaan itu dan terasa panas saat mengucap kata itu.
Bunda Icha menatap lekat kedua mata Ayumi yang terlihat sendu dan sedih. Nampak sekali ada rasa kecewa yang teramat mendalam di hatinya.
Bunda Icha kembali duduk di sofa dan mengisap kepala Ayumi dengan pelan.
"Maafkan Bunda, yang tidak memberitahu Ayumi sejak awal. Bunda hanya menyuruh Ayumi untuk datang kemari tanpa memberi kabar tentang acara pernikahan ini," ucap Bunda Icha pelan sambil memeluk Ayumi.
Ayumi menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak apa-apa Bunda, Ayumi senang dan bahagia melihat Kak Fi juga bahagia dengan pilihannya. Ayumi hanya terkejut dan kaget saja, tidak ada maksud apa-apa," jawab Ayumi dengan suara lirih.
Kahfi menatap kedua mata Ayumi dan menatap wajah Ayumi dengan sendu. Wajah Ayumi terlihat kecewa, sedih dan merah karena kesal. Air matanya juga sudah menumpuk di kedua matanya yang indah, hanya tinggal mengedipkan matanya air mata itu sudah pasti turun dengan luruh deras ke pipinya yang sudah nampak kemerahan.
'Kenapa dengan aku, kenapa mendengar berita pernikahan Rara dan Kak Fi saat ini membuat Ayumi sakit hati, apa benar Ayumi sudah mencintai Kak Fi,' batin Ayumi didalam hatinya.
"Kak Fi kenapa tidak bilang sama Ayumi, kan Ayumi bisa beli kado khusus untuk Rara," ucap Ayumi pelan menenangkan hatinya.
Kahfi hanya terdiam dan membisu, Ayumi tidak tahu saja bahwa selama ini Kahfi mempertahankan dirinya untuk tidak menikahi Rara karena mencintai Ayumi. Tapi, saat ini semua takdir itu seolah menjauhkan mereka dan tidak memperbolehkan mereka untuk bisa bersama dan bersatu dalam suatu ikatan dan hubungan yang lebih jauh.
"Maafkan Kak Fi, Ay," ucap Kahfi dengan suara lembut dan terdengar parau tertahan di dalam. tenggorokannya.
__ADS_1