Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
108


__ADS_3

Beberapa perawat sudah siap membawa Rara ke dalam ruang isolasi untuk kemoterapi. Satu perawat memberikan instruksi agar pasien segera di bawa ke dalam ruang isolasi tersebut. Satu perawat memberikan arahan waktu untuk berbicara mohon dihentikan sementara.


Satu perawat perempuan membawa rekam medis Rara dan meletakkan di pangkuan Rara lalu mendorong kursi roda itu masuk ke dalam ruangan isolasi yang tertutup rapat.


Ruangan isolasi itu benar-benar tertutup rapat dan tidak ada kaca yang menghubungkan untuk bisa melihat pasien dari luar ruangan isolasi tersebut.


Kahfi bergerak mundur dan duduk di tempat yang sudah disediakan untuk menunggu Rara selama kemoterapi. Waktu yang dibutuhkan berbeda-beda tergantung pada kondisi pasien.


Selama ini kondisi pasien harus stabil dan tidak boleh drop karena banyak pikiran atau banyak aktivitas yang dilakukan. Hatinya juga harus dijaga agar selalu bahagia dan tetap tenang pada setiap kondisi.


Kahfi termenung sejenak, memikirkan ucapan Rara sebelum masuk ke dalam ruang isolasi.


'Apa yang harus Kahfi lakukan sekarang, tidak mungkin menikah tanpa cinta, tapi Kahfi tinggal satu rumah, satu atap, bahkan satu kamar dengan Rara, apakah ini dosa, sedangkan Rara itu adalah orang lain,' batin Kahfi di dalam hatinya.


Satu perawat mendatangi Kahfi yang duduk di ruang tunggu depan ruang isolasi.


"Apakah Anda, Pak Kahfi? Dokter menunggu Anda di ruangannya, ada sesuatu hal yang ingin disampaikan kepada Anda tentang kondisi Rara selama satu bulan," ucap perawat itu pelan kepada Kahfi.


Kahfi terkejut dengan kedatangan perawat itu secara tiba-tiba, baru saja pikirannya melayang mencari satu solusi yang amat berat, tiba-tiba ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan oleh Dokter tentang kondisi Rara, ini membuat Kahfi semakin bimbang dan bingung.


Kahfi beranjak berdiri dan berjalan mengikuti perawat tersebut menuju ruangan dokter yang menangani Rara selama ini.

__ADS_1


Kahfi masuk ke dalam ruangan itu dengan sopan dengan diantar oleh perawat wanita yang memanggilnya tadi. Kahfi masuk ke dalam ruangan dan duduk di kursi tamu berhadapan dengan dokter yang menangani Rara yang masih sibuk dengan hasil laboratorium dan rekam medis Rara di baca dan di bolak balik.


Merasa ada yang duduk di depannya, dokter itu menundukkan pandangannya hingga kaca mata tebal itu turun hingga ke batang hidungnya menatap tajam ke arah Kahfi.


"Siang dokter, maaf baru menyapa," ucap Kahfi pelan dan merasa kikuk ditatap seperti itu oleh dokter yang menangani Rara.


"Siang, tidak apa-apa. Saya memanggil kamu kesini untuk menyampaikan dua hal penting yang harus kamu ketahui dan keluarga Rara ketahui. Untuk yang pertama, kondisi Rara dengan penyakit serius sudah tidak bisa disembuhkan lagi, yang kita lakukan saat ini hanya untuk membantu Rara bertahan hidup dan memperpanjang waktu hidupnya agar lebih berarti, dan yang kedua, bantu Rara setidaknya untuk membuat hidupnya lebih bahagia dan menikmati kehidupannya dengan rasa bahagia sehingga menjadi nyaman," ucap dokter itu dengan tegas.


Kahfi menatap ke arah dokter itu dengan perasaan kaget dan terkejut, rasa syok saat mendengar ucapan dokter bahwa Rara sudah tidak bisa disembuhkan, lalu yang dilakukan saat ini hanya sekedar membantu untuk tetap bertahan dan bisa menikmati hidup lebih lama.


"Apakah tidak ada cara lain untuk menyembuhkan Rara?" tanya Kahfi dengan rasa penasaran dan cemas akan kondisi Rara.


Dokter itu hanya menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan lalu memberikan semua hasil laboratorium dan rekam medis selama satu bulan Rara mendapatkan perawatan dari rumah sakit ini.


Seolah dokter itu bisa paham dengan kebingungan dan kecemasan Kahfi serta ketidaktahuan Kahfi membaca hasil laboratorium itu.


"Anda pasti tidak paham Pak Kahfi, saya akan bantu menjelaskan," ucap dokter itu pelan lalu menjelaskan secara detil.


"Betul sekali dokter, Kahfi tidak mengerti sama sekali, dan Kahfi sangat buta dengan masalah kesehatan. Tolong jelaskan kepada Kajfi, agar Kahfi bisa menjelaskan kembali kepada orang tua dan keluarga Rara," jawab Kahfi dengan sangat pelan.


Dokter itu mengangguk pelan dan mulai menjelas satu per satu dengan sangat detil agar Kahfi paham dan mengerti. Di mulai dari grafik garis yang menampilkan garis yang berkelok semakin ke bawah curam, yang berati kondisi tubuhnya mengalami penurunan yang sangat drastis, hal ini bisa dipicu dari tingkat kelelahan atau tingkat kestresan yang Rara rasakan. Lalu hasil laboratorium Dengan angka-angka yang lebih kecil dari batas normal, artinya bahwa kondisi tubuh Rara memang sedang tidak baik-baik saja, tidak ada peningkatan yang signifikan, yang ada malah penurunan kesehatan secara signifikan dari hari ke hari selama sebulan ini.

__ADS_1


Kahfi menganggukkan kepalanya pelan tanda paham dengan semua penjelasan dokter yang menangani Rara.


"Lalu, itu artinya Rara tidak bertahan lama usianya?" tanya Kahfi pelan kepada dokter itu.


"Betul sekali, harapan untuk hidupnya hanya satu tahun saja, bisa lebih dan bisa kurang dari itu tergantung kondisi Rara untuk bertahan atau tidak, banyak faktor yang mendukung disini. Harapan saya sebagai dokter, alangkah baiknya, berikan perhatian khusus di sisa hidup Rara, berikan selalu kebahagiaan untuk Rara, hidupnya hanya tinggal satu tahun lagi, entah bertahan atau tidak," ucap dokter yang menangani Rara menjelaskan secara detil.


"Apa dengan bahagia, waktu hidupnya bisa bertambah?" tanya Kahfi kembali kepada dokter tersebut.


"Sudah tentu sangat berpengaruh besar untuk menambah waktu hidup Rara. Dengan bahagia, seseorang tidak akan terbebani dengan apapun terutama dengan rasa sakit yang di deritanya seolah sirna," jawab dokter itu pelan menjelaskan.


Kahfi hanya mengangguk pelan tanda paham dengan semua penjelasan dokter yang menangani Rara itu.


"Intinya, buatlah Rara nyaman dengan hidupnya, tidak ada beban dalam hal apapun, selalu buat tersenyum, tertawa dan bahagia sepanjang waktu," ucap dokter itu menambahkan penjelasannya.


"Kalau menikah, apakah bisa memiliki anak? Apakah itu bisa membantu?" tanya Kahfi pelan yang tiba-tiba menanyakan hal yang tidak terpikirkan oleh dirinya sendiri. Pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul dan terlontar dari mulutnya bebas tanpa hambatan.


"Kalian akan menikah?" tanya dokter itu tersenyum lebar.


"Bisa jadi, eh Iya kami akan menikah," jawab Kahfi dengan sedikit gugup.


"Untuk menikah tentunya Rara akan bahagia, tapi kalau untuk memiliki anak, alangkah baiknya jangan, yang ditakutkan saat melahirkan kamu hanha bisa memilih satu saka diantara keduanya atau bahkan tidak ada yang dipilih sama sekali," ucap dokter itu pelan menjelaskan kembali.

__ADS_1


Rasa keingintahuan Kahfi mendadak sangat tinggi, ingin membantu Rara untuk selalu bahagia sesuai anjuran dokter yang menangani Rara tersebut.


Sudah pasti akan sangat sedih bila Ayah Sukoco dan Mama Anna diberi tahu kondisi sebenarnya tentang Rara. Kahfi mencoba berpikir keras mencari solusi terbaik dari masalah besar ini.


__ADS_2