
Malam itu, malam pertama Ayumi berada di Mesir. Malam ini, Afnan mengajak Ayumi untuk makan malam di luar dan berbelanja beberapa kebutuhan pokok untuk sehari-hari selama di Mesir.
Waktu tiga bulan bukanlah waktu yang lama namu juga bukan waktu yang sebentar untuk tinggal di negeri orang yang sudah sangat jelas berbeda dengan negara sendiri.
"Ayumi, sudah mau pergi makan malam sekarang? Kak Afnan sudah datang?" tanya Bulan pelan kepada Ayumi. Mereka berdua sedang berada di dalam kamar apartemen.
Kamarnya tidak begitu luas, namun cukup nyaman untuk di tinggali.
Bulan sudah merebahkan tubuhnya di kasur empuk dengan selimut tebal yang menutupi sebagian tubuhnya. Sedangkan Ayumi sedang duduk di depan meja rias dan merapikan hijabnya yang sedikit berantakan.
Ayumi menoleh ke belakang menatap Bulan yang sudah berbaring dengan ponsel ditangannya untuk berkomunikasi dengan Ustad Ikhsan, suaminya.
"Kak Afnan sudah datang, sedang mandi sepertinya. Kamu tidak makan Bulan?" tanya Ayumi pelan kepada Bulan yang masih membalas chat dari suaminya.
Bulan meletakkan ponselnya dan menegakkan duduknya bersandar pada tumpukan bantal agar punggungnya terasa nyaman.
"Nanti saja, ada mie instan? Jangan terlalu memikirkan Bulan, Ay. Bahagiakan tunanganmu, dengan menyenangkan hatinya," ucap Bulan dengan suara pelan menasehati.
Ayumi beranjak dari duduknya dan berjalan menuju tepi ranjang Bulan dan duduk di dekat Bulan.
"Bagaimana rasanya menikah muda? Apakah enak? Bagaimana dengan cita-citamu Bulan? Masih kamu lanjutkan?" tanya Ayumi pelan dengan penasaran. Pertanyaannya begitu banyak membuat Bulan terkekeh pelan dengan kegalauan sahabatnya ini.
"Banyak sekali pertanyaan kamu Ay, Bulan harus jawab yang mana dahulu?" tanya Bulan dengan suara pelan.
"Jawablah sesuai urutan pertanyaannya," jawab Ayumi pelan dan terkekeh pelan.
"Baiklah akan Bulan jawab dengan jujur. Awalnya Bulan takut bahkan ragu karena Bulan masih terlalu muda, dan cita-cita Bulan masih tinggi. Namun, Bulan sharing dengan Ustad dan ustadzah yang dekat dengan Bulan lalu mereka menyarankan untuk menerima khitbah dari seorang yang sholeh, jangan sampai di tolak, asal saling memahami dan mengerti posisi karena Bulan masih sekolah," jelas Bulan dengan pelan dan detil.
Bulan terdiam lalu melanjutkan lagi penjelasannya.
"Lalu?" tanya Ayumi kemudian dengan perasaan penasaran.
"Ustad Ikhsan selalu meyakinkan Bulan untuk tetap berada di jalur yang benar dan memahami satu sama lain, apalagi Bulan masih sekolah dan berada dalam satu sekolah yang sama. Ternyata menikah itu lebih baik, daripada menyimpan rasa yang malah akan membuat dosa kita bertambah," ucap Bulan pelan menjelaskan.
__ADS_1
Bulan tersenyum tersipu mengingat saat akan dikhitbah oleh Ustad Ikhsan yang berkali-kali meyakinkan Bulan bahwa dirinya sangat serius membina rumah tangga bersama Bulan.
"Kenapa tersenyum? Mengejek Ayumi?" tanya Ayumi pelan.
Bulan menggelengkan kepalanya cepat.
"Bulan rindu dengan Ustad Ikhsan, biasanya mau tidur begini, beliau selalu ada disamping Bulan dan menemani Bulan hingga tertidur pulas," ucap Bulan pelan menjelaskan.
Rasa rindunya baru terasa saat harus berjauhan dengan suaminya, padahal ini baru satu malam, lalu bagaimana menjalani malam-malam berikutnya tanpa ada Ustad Ikhsan, suaminya yang tidak akan ada bersamanya karena jarak dan keadaan yang mengharuskan ini terjadi.
"Haishhh, romantis sekali, merindu Ustad Ikhsan, suamiku sendiri," ucap Ayumi pelan sambil mengikuti gaya bicara Bulan.
Suara ketukan pintu yang cukup keras membuat kedua sahabat itu terdiam dari kekehannya. Ayumi menatap pintu kamar yang diketuk oleh seseorang di depan dengan memanggil namanya berulang kali dengan lembut. Suara Afnan yang lembut namun tetap terdengar lantang dan keras.
"Ayumi," panggil Afnan dari luar kamar sambil mengetuk pintu.
"Iya Kak Afnan, sebentar lagi Ayumi keluar kanar," teriak Ayumi menjawab pertanyaan Afnan.
Ayumi menatap Bulan, sahabatnya dengan wajah penuh bahagia.
Ayumi hanya tersenyum dan tertawa.
"Bahagia dong, mau makan malam sama orang kesayangan," ucap Ayumi pelan lalu beranjak dari duduknya dan mengambil tas selempang yang dipakai melintang di tubuhnya.
"Hati-hati Ay, jangan lupa, jajanan Mesir, oke?" ucap Bulan pelan kepada Ayumi yang sudah keluar kamar dan menutupnya kembali sambil melambaikan tangannya kepada Bulan.
"Asiap Bu Ustad," teriak Ayumi keras lalu tertawa terbahak-bahak di luar kamar.
Ayumi berjalan ke ruang tengah, Afnan sudah menunggu Ayumi di kursi kesayangannya.
"Sudah siap?" tanya Afnan pelan saat melihat Ayumi masuk ke ruang tengah.
Ayumi menganggukkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Berangkat sekarang biar tidak kemalaman Kak Afnan," ucap Ayumi pelan.
Afnan berdiri dan berjalan mendahului Ayumi yang mengikuti Afnan dibelakangnya.
"Hayuk, kita berjalan di sekitar sini saja, takut kamu kelelahan," ucap Afnan dengan suara pelan.
Afnan dan Ayumi sudah berjalan menyusuri jalanan setapak dipinggir jalan besar. Mobil yang berlalu lalang mengeluarkan suara bising deru mesin memekakkan telinga. Sepanjang jalan ramai dengan orang-orang yang juga berjalan atau sekedar duduk bersantai di kursi besi yang disediakan di sepanjang jalan.
"Kita mau kemana Kak Afnan?" tanya Ayumi pelan yang berjalan di samping Afnan.
Afnan menatap Ayumi yang terlihat semakin cantik dengan balutan hijab berwarna hitam yang menjuntai panjang hingga menutupi punggungnya.
"Kita makan dulu ya Ay, setelah itu kita ke supermarket untuk belanja kebutuhan pokok di apartemen, termasuk kebutuhan kamu dan Bulan. Kak Afnan takut sibuk, tidak bisa menemani kamu saat berada disini," ucap Afnan pelan menjelaskan.
Mereka sudah berada di depan restauran dimana akan menikmati makan malamnya.
"Tempatnya bagus Kak Afnan, terlihat romantis," ucap Ayumi dengan polos saat masuk ke dalam restauran dan duduk di meja yang telah dipesan.
"Kamu suka? Kita jarang bertemu Ay, sebisa mungkin Kak Afnan ingin selalu membahagiakan kamu, jika ada waktu dan kesempatan," ucal Kak Afnan pelan sambil membuka buku menu tersebut.
Ayumi mengangguk pelan dan tersenyum.
"Terima kasih ya Kak, atas semuanya. Kak Afnan adalah jodoh terbaik yang diberikan Allah SWT untuk Ayumi," ucap Ayumi penuh cinta saat menjawab pernyataan Afnan.
"Terima kasih Ay. Kamu pesan apa?" tanya Afnan pelan.
"Apa saja Kak Afnan, Ayumi tidak paham sama bahasanya," ucap Ayumi pelan menjelaskan.
Ayumi memang sudah belajar baik lisan dan tulisan untuk bisa berinteraksi selama tinggal di Mesir. Tapi menurut Ayumi, pilihan Afnan untuk menu makan malam kaki ini biarkan Afna yang memilih dan menentukannya.
"Bener, Kak Afnan yang pilih? Kamu tidak mau pilih makanan favorit kamu?" tanya Afnan pelan menatap wajah cantik Ayumi.
"Pilih sama Kak Afnan saja," ucap Ayumi pelan memjawab pertanyaan Afnan.
__ADS_1
Menu makanan sudah dipesan dan harus menunggu sekitar lima belas menit untuk menyiapkan menu makanan yang mereka pesan.
Lima belas menit kemudian makanan yang dipesan sudah datang. mereka menikmati makan malam itu dengan sangat romantis.