Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
138


__ADS_3

"Stop Kak. Kalau ada yang hilang baru kita laporkan," ucap Rara bijak. Rara sama sekali tidak mempermasalahkan soal itu. Saat ini, Rara hanya ingin memastikan pendengarannya masih baik dan tidak terganggu. Rara berjalan pelan menghampiri Ayumi yang tegang dengan membawa tas Rara di tangannya.


Rara berhenti tepat di depan Ayumi membuat Ayumi menunduk agar Rara tidak melihat kedua mata Ayumi.


"Apa kabar Ay?" sapa Rara kemudian lalu memeluk tubuh Ayumi erat sekali.


Ayumi tegak membeku dengan bibir bergetar. Ternyata Rara masih bisa mengenalinya. Ayumi menerima pelukan hangat Rara dan tanpa sengaja menjatuhkan tas Rara. Karena terdengar isakan tangis Rara di bahu Ayumi. Cairan hangat mulai tembus di pakaian seragam Ayumi. Kahfi sendiri menatap lekat ke arah Ayumi yang wajahnya masih tertutup masker.


"Kamu tidak bisa membohongi aku, Ay. Aku mencari kamu, tapi sama seklai tak ada jejak kamu dimanapun," ucap Ayumi lirh.


"Ma -maafkan aku, Ra. Aku hanya ingin mencari suasana baru saja," ucapa Ayumi berbisik.

__ADS_1


"Suasana baru? Suasana macam apa? Setelah hari bahagia aku, kamu pergi begitu saja tanpa ada ijin atau pamit padaku, Ay," ucap Rara lirih.


"Maafkan aku, Ra," ucap Ayumi dengan suara melemah lalu membalas pelukan Rara dengan erat.


Sampai kapan pun kedua sahabat ini tak akan terpisahkan. Ayumi yang begitu sayang pada Rara dan begitu juga sebaliknya. Ayumi yang slelau menjaga perasaan Rara, dan Rara tahu persis soal itu.


Ayumi mengendurkan pelukannya dan menatap wajah Ayumi. Tangan Rara terulur dan melepaskan masker di wajah Ayumi. Ayumi hanya diam dan tak banyak bicara membiarkan apapun yang dilakukan oleh Rara padanya. Terlihat jelas, Kahfi menatap ke arah Ayumi dengan perasaan bersalah.


Ayumi mengangguk kecil dan tersenyum ramah, "Tidak apa -apa Kak. Gak masalah, itu hal wajar, karena memang Ayumi yang ceroboh."


"Ayumi lanjut kerja dulu ya. Hotel sedang ramai," ucap Ayumi sedikit gugup dan langsung mengambil tas Rara dan di letakkan kembali di atas nakas. Ayumi langsung membereskan sprei dan menyapu lalu mengepel dan ijin untuk keluar dari hotel.

__ADS_1


Kahfi memilih berada di balkon dan tatapannya nanar ke arah awan. Takdir macam apa ini. Hati Kahfi makin hancur dan patah. Rara menutup pintu dan berjalan menghampiri Kahfi yang ada di balkon.


"Seharusnya kamu senang, bisa lihat orang yang kamu sayangi, Kak," ucap Rara pada Kahfi. Rara memilih duduk di kursi. Perutnya yang besar sudah tak sanggup lagi berdiri lama.


Kahfi terdiam tak menjawab pertanyaan Rara. Satu tahun lebih mereka menikah, tak satu kali pun Kahfi bisa menyentuh Rara.


Malam pengantin yang di tunggu -tunggu adalah menjadi malam terburuk Rara. Kejadian pahit terjadi begitu saja. Saat satu keluarga besar pusing mencari keberadaan Ayumi. Kahfi sakit keras. Tubuh Kahfi menggigil dingi, wajahnya memucat dan bibirnya kering memutih seperti mayat. Kahfi terus mengigau dan Rara menangis setiap hari.


Sampai suatu hari, Kahfi sembuh dan memilih sibuk dengan dunianya. Rara adalah sosok wanita hebat dan ingin bertahan hidup agar ia bisa sembuh dari penyakitnya. Rara pikir, dengan menikahi Kahfi, hidupnya akna lebih bersemangat dan termotivasi karena menikah dengan orang yang tepat, lelaki yang amat ia cintai.


Tapi semua salah, impiannya hancur karena Kahfi tak mencintai Rara dengan tulus, melainkan hanya mencintai karena rasa kasihan.

__ADS_1


__ADS_2