Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
52


__ADS_3

Ayumi melihat kedua mata Kahfi dengan sangat lekat. Tidak ada sedikitpun kebohongan dalam tatapan matanya. Semua itu memang diungkapkan secara jujur dan tulus.


Ayumi menundukkan kepalanya.


"Maafkan Ayumi karena sudah membuat Kakak kesal dan kecewa dengan Ayumi," ucap Ayumi pelan.


"Tidak ada yang salah Ayumi, perasaan yang Kakak miliki ini adalah anugerah dari Allah SWT," ucap Kahfi pelan.


Memang betul perasaan cinta dan kasih sayang itu berasal dari Allah SWT. Kita tidak akan pernah bisa memilih untuk bersama dengan siapa walaupun kita bisa memilih berharap dengan siapa. Disaat Allah SWT memberikan anugerah perasaan cinta kita kepada orang lain, disitulah Allah SWT hadir untuk memberikan ridho dan jalan takdir seseorang, bisa dipersatukan atau tidak.


"Perasaan Kakak datang dari Allah SWT, perasaan cinta yang tulus untukmu Ay. Kakak tidak bisa menolak apa yang telah diberikan oleh Allah SWT, tapi Kakak bisa menahan semua perasaan Kakak untuk Kakak simpan tanpa diketahui yang lain. Dengar Ayumi, sampai kapan pun Kakak akan terus mencintai kamu, Ay," ucap Kahfi lirih.


Kahfi mengambil satu botol air mineral dibuka lalu diberikan kepada Ayumi yang sejak tadi belum minum setelah menghabiskan bakpau ayam.


Ayumi menerima botol air mineral dan meneguknya hingga habis setengah botol. Ayumi berusaha untuk bisa menghargai Kahfi dan perasaan Kahfi. Tidak bisa kita menyalahkan seseorang yang mencintai kita dengan alasan yang tidak masuk akal.


"Terima kasih Kak Fi," ucap Ayumi setelah meminum air itu dan menutup botol itu kembali.


Keduanya kembali diam dan hening tak bersuara. Anak kecil yang sedari tadi menjajakan barang dagangannya dekat air mancur pun mulai mendekat ke arah mereka dan menawarkan barang dagangannya.


"Kakak cantik dan Kakak ganteng, mau beli?" tanya anak kecil itu dengan sangat sopan.


Kahfi menatap anak kecil itu dengan tersenyum manis.


"Hallo adik, namamu siapa?" tanya Kahfi pelan kepada adik kecil itu.


"Namaku Panji, Kak," jawabnya singkat dan membalas senyuman Kahfi.


"Hai Panji, Kakak namanya Kakak Kahfi dan disebelah ini adalah Kakak Ayumi, gadis yang paling cantik," ucap Kahfi memperkenalkan Ayumi dan mengedipkan satu matanya kepada Ayumi.


Ayumi hanya tersenyum keki, saat Kahfi menatap wajah cantiknya dan sedikit menggoda Ayumi. Setiap wanita pasti bahagia dan senang jika dipuji.


"Kakak Kahfi dan Kakak Ayumi kalian berdua sangat cocok. Lemparkan uang koin ke dalam air mancur itu dan berdoa meminta harapan kalian di masa depan. Memang berharap kepada Allah SWT, itu hanya sekedar permainan tetapi bisa membuat kenangan tersendiri. Biasanya banyak pasangan yang kembali lagi dengan membawa jodohnya dari masa lalu," ucap Panji menjelaskan dengan perlahan.


Kahfi menatap Panji dengan kagum. Anak seusia kira-kira sebelas tahun ini sudah bisa menjelaskan sesuatu hal dengan baik.


"Yap, percaya dan berharap hanya kepada Allah SWT. Tapi boleh juga, nanti Kakak akan coba melempar koin disana," ucap Kahfi pelan menatap Panji yang ikut tersenyum.


"Usahakan koin Kakak masuk ke dalam lingkaran kolam yang sama. Kata orang kalau masuk kesana dua koin tersebut maka kalian. berjodoh," ucap Panji penuh semangat menjelaskan.

__ADS_1


"Oh ya, nanti kita coba ya, Ay. Siapa tahu Kakak masih ada harapan berjodoh sama kamu," ucap Kahfi dengan sangat antusias.


Itu semua memang tahayul, tapi kalau hanya untuk seru-seruan aja mungkin tak masalah asal tidak dipercayai dan tidak perlu diyakini dengan benar-benar. Cukup hanya kepada Allah SWT aja kita bersandar dan berharap agar semua permohonan kita dikabulkan pada saat yang tepat.


Ayumi hanya mengangguk pelan, perasaannya bahagia saat Kahfi mengajaknya untuk melempar koin bersama. Sejak tadi taman itu memang ramai dengan pengunjung pasangan muda dan terlihat mereka mendekati air mancur dan melemparkan sesuatu ke dalam kolam. Ayumi kira mereka memberi makan ikan-ikan yang ada disana ternyata salah, mereka ikut seru-seruan untuk melempar koin ke dalam lingkaran kecil yang ada di kolam tersebut.


"Kak Kahfi mau beli gak?" tanya Panji pelan menatap Kahfi yang masih senyum-senyum sendiri menatap air mancur indah itu.


"Mau, apa yang kamu jual Panji?" tanya Kahfi sedikit gugup karena terkejut dengan ucapan Panji yang sedikit keras.


Ayumi hanya terkekeh melihat Kahfi yang terkejut dengan wajah lucu menurutnya.


"Makanya jangan bengong aja, pakai senyum-senyum sendiri, bisa gila nanti Kak," ucap Ayumi pelan.


Kahfi menatap Ayumi yang sedang menggoda dirinya.


"Ini semua gara-gara siapa? Kakak jadi gila juga karena mikirin kamu, kenapa harus dengan Bang Afnan, Kakak berduel masalah cinta," ucap Kahfi sedikit keras.


SKAKMAT!! Ayumi terdiam tidak menjawab ucapan Kahfi. Kalau dijawab urusannya bisa panjang nanti.


Tatapan Kahfi beralih kepada Panji dan melihat kotak yang berisi barang dagangannya.


"Ini gelang Kak," ucap Panji pelan mengambil satu gelang berwarna hitam.


Bentuknya bulat terbuat dari kayu yang harum, kalau dilihat menyerupai bentuk tasbih.


"Bagus, seperti tasbih ya," ucap Kahfi melihat gelang itu dengan seksama.


"Cium Kak, itu wangi," jelas Panji kepada Kahfi .


Kahfi menuruti dan mencium gelang itu, dan memang benar wangi aroma dari jenis kayu.


"Iya harum banget. Ini harganya berapa?" tanya Kahfi pelan kepada Panji.


"Satu gelang yang warna hitam ini empat puluh ribu rupiah Kak, ini jenis kayunya bagus, jadi tidak mudah pecah atau terbelah," jelas Panji kepada Kahfi.


Kahfi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan tanda paham dengan penjelasan Panji.


"Bagus yang coklat atau hitam?" tanya Kahfi pelan sambil menatap Panji.

__ADS_1


"Bagus yang hitam Kak, ini jenis kayunya beda, dia lebih kuat dan warnanya lebih bersinar," jelas Panji kepada Kahfi.


"Kakak minta yang couple ada?" tanya Kahfi pelan mencari yang berbeda dan unik untuk dirinya dan Ayumi.


"Ada Kak, kebetulan tinggal satu dan ini unik banget, tapi harganya agak mahal. Harga tidak mengkhianati kualitas Kak," ucap Panji setengah berbisik.


Mendengar ucapan Panji yang polos membuat Kahfi sontak tertawa terbahak-bahak.


"Kayak ngerti aja kamu, Panji," ucap Kahfi pelan.


"Tahu Kak, ini kan homemade, buatan Umi Panji, Abi Panji yang mencari jenis kayunya dan membuat hingga bulat-bulat seperti ini," ucap Panji pelan dengan wajah menunduk.


Melihat perubahan wajah Panji yang langsung bersedih, Kahfi pun merasa bersalah.


"Maafkan Kakak, Panji. Bukan maksud Kakak untuk tidak percaya kepadamu," ucap Kahfi pelan dan mengusap kepala Panji dengan sangat lembut.


"Iya Kak Kahfi. Panji tidak apa-apa," ucap Panji pelan.


"Kakak beli yang unik tadi, mana Kakak lihat gelang couplenya," ucap Kahfi pelan dengan rasa penasaran.


Panji mengeluarkan gelang dari bawah kotak yang Panji bawa. Dua buah gelang berwarna hitam pekat namun terlihat berkilau, butirannya agak lebih besar dan ada ukiran ditengahnya.


"Ini Kak, bagus kan?" tanya Panji pelan kepada Kahfi.


"Iya bagus banget. Kakak ambil yang ini ya, brapa harganya?" ucap Kahfi pelan.


"Dua gelang seratus ribu Kak," ucap Panji pelan.


Kahfi memberikan tiga lembar uang berwarna biru.


"Ini untukmu, ambilah semua," ucap Kahfi kepada Panji.


"Ini terlalu banyak Kak, kelebihan satu lembar," ucap Panji dengan polos dan jujur.


"Ambilah, belikan Umi dan Abimu yang lelah dengan makanan yang mereka sukai tanpa harus memakai uang hasil penjualan. Bahagiakan kedua orang tuamu itu selagi masih ada dan masih bisa," ucap Kahfi pelan sambil mengusap kepala Panji penuh kasih sayang.


Panji mengangguk paham.


"Terima kasih Kak Kahfi, Kak Ayumi, semoga kita bisa bertemu di lain waktu," ucap Panji pelan.

__ADS_1


Panji menerima uang itu dengan rasa bahagia. Panji pun pamit untuk melanjutkan berjualan kembali.


__ADS_2