
Teriakan Kahfi begitu menggema hingga ke ujung langit. Rasanya sakit tidak terima dengan semua kenyataan pahit ini.
"Kenapa harus Kahfi yang mengalah!! Kenapa harus Kahfi yang berkorban dengan semua ini!!" teriak Kahfi keras sambil kedua tangannya meremas rambutnya yang sedikit gondrong.
Rara meneteskan air matanya mendengar ucapan Kahfi yang terdengar sangat pilu. Telapak tangannya menghapus tetesan air mata itu yang sudah luruh ke pipi Rara.
Bukan salah cinta yang hadir, bukan salah cinta tak terbalas tapi hanya takdir yang bisa merubah impian menjadi kenyataan melalui doa.
"Arghhhhhh ..." teriak Kahfi dengan sangat keras.
Kahfi selalu benci dihadapkan pada suatu masalah yang akhirnya dan ujung-ujungnya hanya Kahfi yang harus rela berkorban untuk kebahagiaan semuanya.
Tetesan air mata itu luruh kembali di pipi Rara. Rara mencoba berjalan mendekati Kahfi yang masih emosi.
Kahfi menutup kedua matanya dengan kedua telapak tangannya, menahan air mata yang akan tumpah dari kedua matanya.
Rara berjalan sampai ke balkon dan berdiri disamping Kahfi. Rara juga terdiam menatap bintang-bintang yang ada di langit.
Tidak ada yang bersuara dan tidak ada yang berbicara. Kahfi hanya melirik sekilas saat ada seseorang yang datang dan ternyata itu Rara. Wajahnya terlihat sendu, kedua matanya sudah terlihat basah dan memerah.
"Maafkan sikap Ayah Sukoco, Kak Fi, Ayah Sukoco hanya ingin yang terbaik buat Rara," ucap Rara dengan pelan kepada Kahfi yang masih diam mematung tanpa respon.
Kahfi tersenyum kecut menatap ke arah Rara sedikit sinis. Senyumnya begitu terlihat mengejek.
"Mudah kamu bilang begitu Ra?" ucap Kahfi ketus.l, hati Kahfi benar-benar sedang kesal dan kacau.
"Apa Kak Fi, tidak mau memaafkan Ayah Sukoco?" tanya Rara pelan, tatapannya masih tertuju pada bintang-bintang di langit. Cuaca malam itu terlihat cerah Dengan angin malam yang begitu dingin dan menusuk hingga kulit.
"Kak Fi hanya kecewa, boleh kan Kak Fi kecewa," ucap Kak Fi sedikit ketus, tanpa menatap Rara yang masih berada di sampingnya.
Rara menggelengkan kepalanya pelan. Tatapannya beralih kepafa Kahfi.
__ADS_1
"Jangan pernah kecewa nanti jadi benci," ucap Rara pelan.
Mereka berdua terdiam membisu. Keduanya hanya bisa menarik napas dalam, tidak akan pernah ada titik temu bila tidak ada yang mengalah.
"Kak Fi mau kan maafin Ayah?" tanya Rara lagi kepada Kahfi. Rara masih penasaran dengan jawaban Kahfi yang belum pasti.
"Entahlah Ra, Kak Fi merasa terjebak dalam hubungan ini," ucap Kahfi pelan dengan sedikit kesal.
Rara memutar tubuhnya menghadap kepada Kahfi, lalu bersujud di depan Kahfi dan memohon untuk memaafkan sikap Ayah Sukoco yang terlalu memaksakan keadaan.
Kahfi menatap Rara dengan tajam pada kedua mata Rara yang sudah basah karena air mata yang terus memaksa untuk keluar dan menetes ke pipi.
Rara menarik bagian bawah celana Kahfi dengan erat. Rasanya ini adalah jalan terakhir bagi Rara agar Kahfi bisa menerima permintaan maaf atas sikap Ayah Sukoco.
"Bangun Ra, jangan seperti ini," ucap Kahfi dengan membentak Rara.
Bukan karena sebal atau benci dengan kelakuan Rara yang begitu terlihat lemah tapi hati Kahfi terlalu lembut, hal itu bisa membuat Kahfi luluh dengan hubungan ini.
"Rara tidak mau bangun sebelum Kak Fi memaafkan Ayah Sukoco," ucap Rara sambil memohon, nada bicaranya juga ikut memelas.
Tangisan Rara semakin keras dan kencang, suara gerungan dari tangisan itu membuat seluruh ruangan kamar itu terdengar berisik.
"Cukup Ra, tidak usah mencari perhatian agar Kak Fi luluh dengan ini semua," ucap Kahfi dengan nada suara yang meninggi.
"Rara tidak akan berhenti!!" teriak Rara dengan keras. Hatinya begitu sakit dan napasnya mulai terengah-engah dan sesak.
Kahfi seolah lupa dan dibutakan jika Rara itu sedang mengidap penyakit serius, penyakit yang serius.
Tubuh Rara semakin lama terasa lemah dan lemas hingga kedua matanya juga mulai sulit terbuka lebar.
Kahfi masih tidak peduli dan tidak menanggapi tangisan Rara yang terdengar amat pilu.
__ADS_1
Rara berusaha kuat dan menguatkan dirinya untuk tetap menegakkan tubuhnya bersujud di depan Kahfi.
"Rara tahu, Kak Fi tidak pernah mencintai Rara, Kak Fi tidak pernah tulus dengan Rara, Kak Fi tidak pernah sayang dengan Rara, Kak Fi hanya kasihan dengan Rara, Kak Fi hanya ingin membuat Rara bahagia dan sembuh dari sakit yang selama ini Rara derita," ucap Rara begitu lirih dan menyayat hati.
Kahfi menggelengkan kepalanya pelan dan menitikkan air matanya.
"Cukup jangan teruskan Ra," teriak Kahfi dengan kesal
Rara tetap menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Rara tahu, Rara sadar, Rara hanya menyusahkan Kak Fi, Rara pembawa sial, Rara hanya membuat Kak Fi lelah, Rara hanya membuat Kak Fi tidak bisa mengejar impian dan cita-cita," ucap Rara lirih bersamaan dengan tubuhnya yang tiba-tiba saja tersungkur dilantai dan tidak bergerak.
Kahfi menoleh ke arah Rara setelah mendengar tangisan dengan suara yang keras, tiba-tiba menghilang. Kahfi langsung ikut bersujud dan membangunkan Rara dengan menepuk-nepuk pipi gadis itu dengan pelan.
Tidak ada respon dan tidak ada tanggapan dari tubuh Rara. Kahfi mulai panik dan cemas, tentu Kahfi yang akan disalahkan oleh pihak keluarga besar Rara. Apalagi melihat kondisi Rara yang langsung terlihat pucat seperti ini.
Kahfi langsung menggendong tubuh mungil Rara dan dibawa ke ranjang lalu direbahkan tubuh Rara dikasur empuk itu dan di beri selimut hingga menutup sampai bagian perut.
Kahfi yang masih panik langsung keluar kamar dan memberitahu keluarga yang masih berkumpul di ruang tengah, bila Rara sesnag tidak sadarkan diri.
Bunda Icha adalah orang pertama yang langsung berlari ke dalam dan duduk ditepi ranjang menatap iba wajah calon menantunya itu yang sangat pucat dan terlihat sangat lemas.
Tubuh Rara mulai mendingin, bibirnya juga sudah memutih, tubuhnya terlihat sangat kaku dan tegang.
Ayah Sukoco, Mama Anna dan Kiyai Toha ikut masuk ke dalam kamar. Sedangkan Umi Latifa menunggu di sofa ruang tengah. Tubuh Umi Latifa juga sedang tidak baik-baik saja, sejak siang perutnya terasa keram dan begitu nyeri.
"Apa yang terjadi Fi?" tanya Bunda Icha pelan. kepada Kahfi yang juga duduk di tepi ranjang berhadapan dengan Bunda Icha.
Kahfi menatap Rara dengan perasaan bersalah
"Kahfi juga tidak tahu Bunda, tadi cuma berdebat sedikit terus tidak sadarkan diri," ucap Kahfi pelan menjelaskan duduk perkaranya.
__ADS_1
Bunda Icha menatap tajam ke arah Kahfi. Tentu saja yang disalahkan Kahfi, karena Bunda Icha tahu apa yang diperdebatkan oleh Kahfi dan Rara, apalagi kalau bukan tentang perencanaan pernikahan sirinya.
Kahfi masih menatap wajah pucat Rara, melihat dada Rara yang seperti kesulitan bernapas karena sesak. Ini bukan pertama kalinya Kahfi melihat Rara seperti ini, tapi ini yang paling membuat Kahfi cemas dan panik luar biasa.