
Ayumi, Bunda Andara dan Zura sudah berpamitan kepada Kyai Toha, Bunda Icha, Afnan dan Kahfi untuk kembali ke rumah Nenek Arsy. Sementara waktu Bunda Andara dan Zura putrinya akan tinggal bersama Nenek Arsy dan Ayumi, hingga waktu yang belum bisa ditentukan.
"Ayumi, biar Afnan dan Kahfi mengantarkan kalian. Bersiap-siaplah," ucap Bunda Icha pelan.
"Tidak perlu Bunda, rumahnya kan dekat hanya di ujung jalan, masa iya harus diantar," jawab Ayumi lembut.
"Ekhm, Kalau begitu Bunda ikut lah, sekalian jalan-jalan sore, mau ketemu Nenek Arsy juga," ucap Bunda Icha pelan agak sedikit berpikir.
"Iya Bunda, antarlah mereka, biar Kahfi menjemputmu, mintakan ijin pada Nenek Arsy," titah Kyai Toha kepada Bunda Icha, istrinya.
"Bunda ganti baju dulu, kalian duduk dulu disini," ucap Bunda Icha pelan.
Bunda Icha masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya lalu masuk ke dapur dan membuka lemari makanan mencari buah tangan yang cocok untuk diberikan kepada Nenek Arsy.
Setelah bersiap dan membungkus buah tangan dengan kantung plastik, Bunda Icha bergabung kembali di ruang tamu, menemui Ayumi, Bunda Andara dan Zura.
"Sudah Bunda? Matahari sudah mau tenggelam, kasihan Bunda Andara dan Kak Zura, sudah terlihat lelah," ucap Ayumi lembut menyapa Bunda Andara dan Zura yang tampak lesu dan kusut.
"Fi, jemput Bunda sebelum maghrib ya?" titah Bunda Icha kepada putra bungsunya.
"Biar Afnan saja yang menjemput Bunda," tegas Afnan menyela ucapan Bunda kepada Kahfi.
Bunda menatap Kahfi dan Afnan secara bergantian. Bunda memang agak sungkan menitah Afnan putra sulungnya itu, alasan pertama, Afnan itu sosok pria dingin dan cuek serta serius, jadi hidupnya datar-datar saja, jarang tersenyum apalagi tertawa, sedangkan Kahfi, putra bungsunya memiliki karakter dan sikap yang berbanding terbalik dengan Abangnya, Kahfi adalah lelaki yang ramah, lembut, dan periang.
"Baiklah Afnan, Bunda tunggu di rumah Ayumi," ucap Bunda mengalah lalu mengedipkan satu matanya pada Kahfi agar mau mengerti.
Kahfi hanya menatap Bundanya dengan senyuman lalu memberikan tanda jempol kepada Bundanya, tanda bahwa Kahfi baik-baik saja.
Sore itu di rumah Nenek Arsy sudah tampak ramai. Ayumi sudah mengutarakan niat baik Ayumi untuk membantu Bunda Andara dan Kak Zura kepada Nenek Arsy.
__ADS_1
"Perkenalkan saya Nenek Arsy, Nenek Ayumi. Ayumi adalah gadis yatim piatu," ucal Nenek Arsy pelan.
Ayumi berada di dapur dan membuat minuman untuk Nenek Arsy dan para tamunya.
"Ay," panggil Kahfi dari pintu belakang yang menghubungkan teras belakang dengan dapur rumah Nenek Arsy.
"Astagfirullah, Kak Fi, Ayumi kaget. Ada apa? Kenapa gak lewat depan? Gak enak kalau dilihat orang, apalagi oleh Nenek Arsy," ucap Ayumi dengan panik.
Ayumi tidak ingin orang yang melihat mereka berdua menjadi salah paham, hingga Ayumi dikatakan gadis liar yang tak beradab, apalagi saat ini status Ayumi sebagai gadis yatim piatu.
"Kakak, hanya ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja," ucap Kahfi dengan polosnya.
Ayumi tersenyum lalu terkekeh pelan, kedua tangannya sibuk membuat teh manis untuk para tamunya, mengambil gelas dan mengisi air teh ke dalam gelas-gelas tersebut dan menambahkan gula pasir secukupnya lalu mengaduknya hingga tercampur.
"Kakak itu pinter modus ya," ucap Ayumi pelan yang masih meletakkan gelas-gelas tersebut di atas nampan.
"Sejak kapan Kakak modus untuk urusan hati, Kakak memang sudah jatuh hati padamu Ayumi. Pesonamu itu membuat Kakak selalu menyebut namamu di sepertigamalam Kakak. Maafkan Kakak yang lancang meminjam nama Ayumi untuk selalu Kakak sebut," ucap Kahfi pelan dan mantap.
"Kamu keberatan Ay? Jawab dong Ay, jangan cuma bisa diam," ucap Kahfi dengan sedikit memohon.
"Kak Fi, Ayumi ingin fokus sekolah dulu, ingin mengejar mimpi dan cita-cita Ayumi sebagai dokter," ucap Ayumi menjelaskan.
"Apa ini tandanya kamu menolak ku Ay? Atau karena Abang Afnan kamu seperti ini?" ucap Kahfi pelan.
Ayumi menggelengkan kepalanya pelan.
"Menolak secara halus sudah pasti Kak Fi. Untuk Kak Afnan juga perlakuannya sama, yang membedakan saat ini Ayumi suka dengan Kak Afnan," ucap Ayumi dengan tegas.
"Tapi, bila suatu saat takdir memang membawamu untuk Kakak, apa yang akan kamu lakukan Ay," ucap Kahfi pelan bersandar pada dinding dapur dekat pintu. Kedua mata Kahfi terus menatap Ayumi, pandangannya tidak lepas dari pergerakan Ayumi.
__ADS_1
"Pikirkan itu semua nanti Kak, yang terpenting saat ini dan hargai semua keputusan Ayumi. Maafkan Ayumi, Kak," ucap Ayumi pelan sambil membawa nampan berisi gelas berisi air teh hangat untuk diberikan kepada para tamu di depan.
Kahfi terus menatap Ayumi, 'Kamu itu gadisku Ayumi, dan sampai kapanpun akan tetap menjadi gadis Kakak,' batin Kahfi didalam hatinya.
"Kahfi!!" ucap Bunda Icha setengah berteriak saat melihat putra bungsunya itu berada di dapur Ayumi.
"Bunda?" ucap Kahfi lirih saat melihat Bunda Icha masuk ke dapur Ayumi.
"Sedang apa kamu disini? Jangan ganggu Ayumi, Abangmu sudah memiliki Ayumi," ucap Bunda mengingatkan.
Kahfi tersenyum kecut dan berucap dengan tegas, "Sebelum janur kuning melengkung, Ayumi bukan milik siapa-siapa, hanya doa yang bisa meluluhkan hati seseorang."
Bunda Icha menatap ke arah Kahfi sambil mengiris bolu gulung yang dibawa dari rumahnya sebagai buah tangan untuk Nenek Arsy.
"Kamu mencintai gadis yang sana dengan Abangmu? Jangan Kahfi, bisa perang saudara nanti," ucap Bunda Icha menggelengkan kepalanya pelan, pikiran Bunda Icha sudah jauh ke arah yang tidak baik.
"Kahfi menyukai Ayumi sejak awal bertemu, dan rasa suka itu berubah rada cinta, tapi Kahfi tidak mau mengungkapkan secara khusus, cukup dengan perhatian dan sayang Kahfi untuk Ayumi. Kahfi tahu, hati Ayumi hanya untuk Abang Afnan, cinta pertama sejak sepuluh tahun yang lalu," ucap Kahfi pelan.
Kedua mata Bunda Icha membola mendengar ucapan Kahfi. "Sepuluh tahun? Gak salah denger Bunda?" tanya Bunda Icha kepada Kahfi.
"Ceritanya panjang. Bunda minta di dongengin aja sama Abang Afnan nanti sebelum tidur," ucap Kahfi sambil terkekeh.
"Haduh, anak Bunda paling seneng godain Bunda," ucap Bunda Icha pelan lalu menata kue-kue itu di atas piring.
"Ayumi itu mirip seperti Bunda. Lembut, ramah, baik, penyayang dan sederhana," puji Kahfi.
"Hem, yang sedang jatuh cinta, lupa untuk pulang. Pulanglah Fi, tidak enak kalau dilihat orang apalagi dilihat Abangmu," ucap Bunda Icha pelan.
"Iya Bunda, Kahfi pulang. Tadi hanya ingin memastikan Ayumi sampai dirumah dengan selamat atau tidak," ucap Kahfi terkekeh.
__ADS_1
"Astagfirullah Kahfi, gak usah bucin. Ayumi itu calon Abangmu," Ucap Bunda mengingatkan kepada Kahfi.
Kahfi kembali ke rumahnya dengan perasaan bahagia. Bertemu sebentar saja, rasanya sudah dibuat melayang, apalagi bisa seterusnya bersama.