
Pagi itu semua orang sibuk mempersiapkan acara pernikahan sederhana antara Kahfi dan Rara. Pernikahan itu memang hanya dilakukan secara siri dengan sebuah surat tertulis yang menyatakan keduanya memang telah SAH menikah secara agama.
Bunda Icha, Umi Latifa dan Mama Anna sibuk di dapur untuk memasak beberapa menu makanan untuk sarapan bersama. Untuk acaraal nanti siang
Kyai Toha, Om Faisal, dan Ayah Sukoco serta Ustad Ikhsan masih terlelap di ruang tengah setelah sholat shubuh berjamaah tadi pagi.
Rara masih istirahat di dalam kamarnya dengan ditemani Kahfi yang masih setia menemani duduk di tepi ranjang itu sambil menatap wajah Rara yang tertidur pulas. Wajahnya memang cantik, walaupun tidak secantik Ayumi. Hati Kahfi belum sepenuhnya bisa menerima Rara seutuhnya, padahal beberapa jam lagi Kahfi akan mengucapkan ijab Kabul.
Ingin rasanya Kahfi berteriak sekeras dan sekencang mungkin hingga batinnya kembali terasa lega dan tenang.
Bunyi suara bel apartemen Kahfi terdengar hingga di ruang tamu dan kamar tidur Kahfi beberapa kali tanpa ada yang mendengar karena kesibukan dan keseriusan orang-orang tersebut dengan aktivitasnya masing-masing.
Kahfi mendengar bel berbunyi lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu apartemen. Pintu itu terbuka lebar, ada sesosok perempuan cantik yang amat Kahfi rindukan, mereka berdua hanya bisa berkomunikasi melalui chat dan telepon saja, tapi kini perempuan itu sudah ada dihadapannya.
Rasanya ingin memeluk gadis kesayangannya itu dan menumpahkan segala rasa yang sedang dirasakannya saat ini. Tapi, niatnya itu diurungkan, sebentar lagi mereka berdua akan menjadi milik orang lain dan tidak mungkin bisa didapatkan kembali kecuali ada campur tangan Allah SWT disana.
"Assalamu'alaikum, Kak Fi?" ucap Ayumi pelan memberi salam dan menyapa lelaki yang ada didepannya itu.
Sudah lama tak bersua, lelaki itu semakin menawan dan tampan. Senyum Ayumi begitu merekah karena kerinduannya juga terobati dengan melihat Kahfi, lelaki yang selama ini sudah baik kepada Ayumi.
"Waalaikumsalam, Ayumi, Bulan, silahkan masuk," jawab Kahfi membalas salam Ayumi dengan sedikit kaku dan bingung.
Keduanya saling bertatapan dan saling lempar senyum bahagia.
"Udah, jaga pandangan, belum halal," celetuk Bulan pelan lalu masuk ke dalam apartemen.
"Apa sih Bulan," ucap Ayumi pelan lalu ikut masuk ke dalam apartemen dengan menggeret koper kecilnya ke dalam.
__ADS_1
Ayumi melewati Kahfi yang masih berdiri di pinggir pintu sambil menatap gadis kesayangannya itu. Aroma tubuh Kahfi yang tercium sangat harum membuat rasa rindu itu semakin membuncah, namun mereka tidak bisa lagi bercengkrama dan bercanda seperti dulu lagi. Hubungan pertemanan dulu bebas karena mereka belum ada yang memliki, tapi kini mereka berdua telah memiliki pasangan masing-masing yang akan menuju halal.
"Ay," panggil Kahfi setengah berbisik saat Ayumi melewati Kahfi.
Suara itu begitu jelas terdengar lembut di telinga Ayumi. Ayumi menoleh ke arah Kahfi lalu tersenyum manis.
"Iya Kak Fi?" jawab Ayumi pelan dan lirih.
Bulan sudah masuk ke dalam dan menuju ke ruang tengah meninggalkan Ayumi dan Kahfi yang masih berada di ruang tamu.
"Kak Fi ..." ucapan Kahfi terhenti lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Kenapa? Katakan saja," ucap Ayumi pelan sambil melirik ke arah kanan untuk melihat ada seseorang atau tidak.
Kahfi mencoba mendongakkan kepalanya lagi lalu menatap Ayumi dengan wajah sendu.
"Kak Fi, sayang dan cinta sama Ayumi, sampai kapan pun dan selamanya," ucap Kahfi pelan dan lirih. Suaranya terdengar terbata-bata dan sedikit parau.
"Kenapa Ay?" tanya Kahfi dengan suara pelan dan lirih.
Ayumi menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Tidak apa-apa Kak Fi, tapi apa tidak salah mengungkapkan rasa?" tanya Ayumi Dengan pelan setengah berbisik.
"Apa kamu tidak memiliki perasaan yang sama dengan Kak Fi, Ay?" tanya Kahfi pelan dan mendekatkan wajahnya ke wajah Ayumi yang masih terkejut dengan pengakuan Kahfi.
Sikap dan sifat Kahfi masih sama, begitu juga dengan perasaannya kepada Ayumi tidak pernah berubah.
__ADS_1
Ayumi hanya terdiam dan tidak bisa menjawab pertanyaan Kahfi yang begitu sederhana itu.
"Jawab Ay, apa kamu memiliki perasaan yang sama dengan Kak Fi," ucap Kahfi pelan masih tenang.
Ayumi hanya menatap tajam ke arah Kahfi. Ayumi benar-benar tidak bisa merasakan hal lain kecuali rindu dan sayang kepada Kahfi, apakah ini juga bisa dikatakan rasa cinta? Walaupun sesungguhnya rasa seperti ini, getaran seperti tidak pernah Ayumi rasakan saat bersama Afnan, tunangannya itu.
"Kalau Kak Fi, masih bisa berharap, maka Kak Fi akan menolak semua ini, tapi kalau memang Ayumi tidak pernah bisa membalas cinta Kak Fi, biarlah Kak Fi berkorban perasaan untuk bisa menerima orang lain di hati Kak Fi," ucapan Kahfi begitu lirih dan menyakitkan. Rasanya seperti tertusuk duri yang begitu tajam dan sulit untuk dilepaskan.
"Apa maksudnya Kak Fi? Ayumi tidak mengerti," ucap Ayumi pelan memjawab ucapan Kahfi dengan perasaan bingung.
"Kak Fi mencintai Ayumi," ucap Kahfi pelan lalu memeluk gadis itu dengan erat.
Ayumi langsung memberontak dan mendorong tubuh Kahfi ke belakang.
"Ayumi benci sama Kak Fi. Kak Fi tidak bisa menjaga kehormatan Ayumi," ucap Ayumi dengan suara keras dan lantang, lalu berlalu pergi menuju arah ruang tengah.
"Sampai kapanpun, Kak Fi akan menunggumu Ay, kalau Ayumi sudah menjadi takdir untuk Kak Fi, maka Ayumi bisa apa?" ucap Kahfi pelan setengah berteriak.
Langkah Ayumi terhenti saat ucapan itu begitu membuatnya sedih dan sakit. Ayumi hanya tersenyum dalam kesakithatiannya. Ayumi menoleh ke arah Kahfi, memutar tubuhnya dan menghadap ke arah Kahfi. Wajah Ayumi sudah nampak kesal sekali namun rasanya tidak bisa mengungkapkan rasa kesal itu.
"Ayumi akan tetap mengejar cinta pertama Ayumi, hanya kepada Kak Afnan cinta itu akan berlabuh untuk selamanya, bukan untuk Kak Fi, paham?" jawab Ayumi dengan suara ketus.
Ayumi langsung berbalik dan pergi meninggalkan Kahfi.
Kahfi tersenyum kecut, dalam hatinya hanya bisa membatin,' Allah SWT dengan mudahnya membolak-balikkan hati setiap manusia, dan hanya lewat doa maka semuanya bisa terjadi. Kak Fi akan selalu menyebut namamu di sepertiga malam, agar semua yang Kak Fi inginkan terwujud, bagaimanapun nanti hasilnya, Ayumi tetap akan menjadi takdir Kak Fi.'
Kahfi ikut masuk ke ruang tengah membututi Ayumi yang sudah lebih dulu duduk disana bersama Bunda Icha. Bulan juga sudah duduk bersama di dekat Ustad Ikhsan dengan bergelayut manja.
__ADS_1
"Ay, Kak Afnan kenapa tiba-tiba membatalkan kedatangannya? Sesibuk apa dan sepenting apa pekerjaannya itu?" tanya Bunda Icha pelan kepada Ayumi yang masih bersandar di lengan Bunda Icha dengan manja.
Pikiran Ayumi melayang entah kemana. Pertanyaan Bunda Icha pun tidak terdengar jelas karena ketidakfokusan Ayumi.