
Ayumi menoleh ke arah perempuan paruh baya yang memanggilnya dengan suara keras. Tentu saja Ayumi mengenal siapa pemilik suara itu. Ya, Suara itu milik Bunda Icha.
Bunda Icha langsung menghampiri Ayumi dan mendekati gadis kesayangannya itu.
"Ayumi ... Kamu kemana saja?" tanya Bunda Icha yang terlihat tersengal -sengal berada di depan meja lobby.
Reza meletakkan pulpennya dan emnatap Ayumi.
"Siapa dia, Ay?" tanya Reza sopan.
Ayumi langsung menoleh ke arah Reza dan menunduk.
"Beliau Ibu Ayumi," ucap Ayumi lirih.
"Ibu kamu? Bukankah kamu pernah bilang Ibu kamu sudah meningal Ay?" tanya Reza penasaran.
"Memang kamu siapa? Teman kerja Ayumi?" tanya Bunda Icha pada Reza.
"Eunghh .. Kenalkan Bu. Nama saya Reza, saya teman Ayumi," ucap Reza lantang.
__ADS_1
"Lebih tepatnya calon suami Ayumi. Iya kan Kak Reza?" ucap Ayumi dengan tatapan sendu ke arah Reza.
Bunda Icha menatap Ayumi dan Reza bergantian dan keduanya masih saling berpandangan.
"Kalian gak sedang main drama untuk membohongi Bunda, kan?" ucap Bunda Icha pada Ayumi.
"Gak Bunda. Ekhemm ... Bunda, ini masih jam kerja Ayumi. Ayumi gak mau sampai kena tegur manager jika melihat situasi yang begini. Kita harus profesional. Betul kan Pak Reza?" ucap Ayumi pada Reza. Secara Reza adalah atasan Ayumi. Orang yang berhak menegur, menasihati, dan memberika hukuman atau surat peringatan kepada Ayumi adalah Reza.
"Kalau Ibu mau berbincang dengan Ayumi, mungkin bisa di jam istirahat. Nanti saya siapkan tempatnya di office," ucap Reza memberikan saran.
"Oke. Baiklah. Jam satu siang saya akan kembali ke sini untuk bicara dengan Ayumi. Selamat bekerja Ayumi," ucap Bunda Icha memberikan jawaban.
Bunda Icha pun segera pergi dari hadapan Ayumi dan membiarkan gadis itu bekerja sesuai dengan tupoksinya.
Saat Bunda Icha sudah menjauh dari meja lobby, Reza mendekati Ayumi dan berbisik.
"Kita beneran calon pengantin?" tanay Reza langsung to the point.
Ayumi menggigit bibir bawahnay dan menoleh ke arah Reza.
__ADS_1
"Gak. Maaf ya Kak. Kita jadi calon pengantin pura -pura," ucap AYumi penuh penyesalan.
"Kenapa? Kalau kamu minta serius pun, saya mau kok. Saya siap menikahi kamu, bukankah kamu tahu, saya setahun ini menunggu kamu AYumi," ucap Reza mantap.
"Ayumi bvelum siap Pak. Maish banyak cita -cita yang ingin Ayumi gapai. Maafkan Ayumi jika ucapan AYumi tadi membuat Pak Reza salah paham," ucap Ayumi menunduk meminta maaf.
"Kamu aneh Ay. Kamu sendiri yang bilang tadi kalau aku calon suami kamu," ucap Reza ketus.
"Agar Bunda Icha percaya, bahwa Ayumi sudah bahagia denga kehidupan Ayumi yang baru. Ayumi pernah cerita bukan? Ayumi sedang melakukan studi, dan itu Ayumi tinggalkan begitu saja," ucap Ayumi pada Reza.
"Iya. Baiklah. Saya akan tetap menunggu kamu. Tolong, di beri sedikit ruang untuk perhatian saya selama ini kepada kamu. Saya mau serius dengan kamu, Ay,"ucap Reza tegas.
Reza melepas jas yang memang khusus untuk karyawan penerima tamu lalu pergi begitu saja menuju ruangan kerjanya. Jujur, ayumi merasa bersalah soal ini. Ada perasaan tak enak yang telah membuat salah paham.
"Ay ... Bengong aja. Jadi OB itu etrnyata cape juga ya," ucap Fika mengusap keningnya dengan tisu basah. Keringat masih membanjiri punggungnya dan napas Fika amsih terengah -engah setelah Reza menelpon untuk segera menemani Ayumi di lobby untuk menerima para tamu yang baru datang.
"Ekhemm ... Gak apa -apa. Cuma lagi gak enak aja," ucap Ayumi terkekeh.
"Tahu gak. Tadi ada ribut -ribut di lantai dua. Si istri lagi hamil marah -marah dan melempar semua barang kepada suaminya. Katanya sih, suaminya malah pelukan sama cewek lain yang katanya pegawai hotel di sini. Gila parah gak tuh, pelakor bisa -bisanya menelusup jadi OB? Gak waras kali tuh otak," ucap Fika ikut emosi.
__ADS_1
"Masa? Kamu yakin? Kalau cewek itu pegawai hotel sini? Terus sudah di pastikan dia pelakor? Atau jangan -janagn tuh suami emag matanya jelalatan, ganjen, dan menyalahkan kasta yang rendah. Bisa aja kan?" ucap Ayumi memberikan penjelasan. Sedikit panas juga, sosok tersebu pasti dirinya.