
Sudah satu jam Kahfi dan Rara menunggu antrian untuk kontrol bersama dokter khusus. Keinginan Rara yang begitu kuat untuk sembuh setelah acara pertunangannya bersama Kahfi, membuat Rara bersemangat untuk mencari pengobatan hingga ke luar negeri.
Kanker otak stadium akhir, adalah penyakit serius yang selama ini menghinggapi tubuh mungil Rara. Tubuhnya kini semakin kurus dan tirus karena penyakit itu sudah menjalar ke seluruh sel sel dalam tubuh Rara.
Kekuatannya untuk sembuh dan bertahan hidup hanyalah Kahfi. Sejak datang ke negara ini, hubungan mereka berdua, antara Rara dan Kahfi menjadi lebih baik, mereka berdua tampak akur dan saling menghargai karena di negara itu mereka hanya berdua, lalu untuk apa berantem yang tiada ujung akhirnya.
"Kok lama banget dipanggilnya, Rara cape duduk terus," ucap Rara pelan kepada Kahfi yang setia menemani Rara duduk disebelahnya.
Kahfi mendengar ucapan Rara yang mengeluh cape dan lelah langsung meletakkan ponselnya ke dalam tas dan memeluk gadis itu agar bersandar di pelukannya.
Entah kenapa, sejak beberapa hari ini, sikap Kahfi kepada Rara juga terlihat lembut dan manis, jarang sekali ikut dalam percekcokan luar biasa yang malah menyakiti keduanya secara tidak langsung.
"Pejamkan kedua matamu Ra, nanti kalau sudah dipanggil, Kak Fi bangunkan," ucap Kahfi pelan dan lembut kepada Rara.
"Iya Kak Fi, terima kasih," ucap Rara pelan menjawab ucapan Kahfi yang menyuruh Rara untuk memejamkan kedua matanya.
Rara memejamkan kedua matanya dan merasakan kenyamanan dalam dekapan Kahfi. Banyak pasang mata menatap kemesraan mereka berdua yang membuat iri orang-orang di sekitarnya.
Kahfi mengusap kepala Rara dengan pelan, tubuh Rara masih dalam dekapan Kahfi terasa sangat kecil dan lemah.
"Apa yang sakit Ra?" tanya Kahfi pelan kepada Rara yang mulai terlelap dalam dekapan Kahfi.
Tidak ada jawaban dari Rara, yang ada hanyalah dengkuran halus yang keluar dari bibir mungilnya yang terlihat menggemaskan.
Detak jantung Rara berdegup sangat normal terasa saat tubuh Rara menyentuh tubuh Kahfi saat saling memeluk.
Pikiran Kahfi melayang jauh, teringat dengan ucapan Bunda Icha satu hari sebelum keberangkatan Kahfi ke negara ini.
__ADS_1
'Fi, apa kamu tidak punya rasa kasihan sedikit saja kepada Rara, lupakan rasa cintamu itu kepada Ayumi, kalau kalian berjodoh maka tidak akan kemana, tapi ini masalah nyawa Rara, hanya kamu yang bisa membuat Rara itu tersenyum,' begitulah ucapan Bunda Icha saat itu kepada Kahfi.
Sudah hampir satu bulan hidup bersama Rara, tidak sedikitpun Rara menyusahkan Kahfi, bahkan yang ada malah Rara selalu melayani Kahfi dengan baik, mulai dari menyiapkan makanan walau kadang masakannya hambar dan tidak ada rasa, setidaknya Rara mau mencoba untuk menjadi wanita yang lebih baik lagi, Rara menyiapkan kebutuhan Kahfi saat akan berangkat kuliah dan menyuapkan cemilan kesukaan Kahfi untuk menemaninya saat menonton televisi bersama setiap malam.
Kahfi menarik napas panjang dan menghembuskan napasnya dengan perlahan. Rasanya sangat berat, cintanya masih tertambat pada satu nama, Ayumi, hanya Ayumi yang membuat Kahfi melembut. Satu bulan ini, Ayumi sering menanyakan kabar Rara dan bagaimana dengan proses pengobatan untuk penyembuhan Rara.
'Ayumi, apa kabarmu disana? Kak Fi selalu merindukan kamu dari sini, doa Kak Fi selalu untuk kamu, nama kamu selalu Kak Fi sebut di sepertiga malam Kak Fi,' batin Kahfi didalam hatinya.
Terdengar suara keras memanggil nama Rara dengan alat pengeras suara dari dalam ruangan khusus di rumah sakit tersebut.
"MISS RARA," Suara dengan alat pengeras suara yang begitu keras dan lantang memanggil nama Rara untuk memulai kontrol dan kemoterapi.
Kahfi mendengar nama Rara dipanggil langsung membangunkan Rara dengan menepuk-nepuk pipinya yang mulus.
"Ra ... Rara ..." panggil Kahfi pelan kepada Rara sambil menggoyangkan tubuh Rara dengan pelan dan menepuk pipi wajah Rara dengan sangat lembut.
"Sudah dipanggil Kak Fi?" tanya Rara pelan kepada Kahfi yang tersenyum menatap Rara.
"Sudah dipanggil, kita sekarang masuk ke dalam untuk kemoterapi," ucap Kahfi pelan sambil menggandeng tangan mungil Rara.
Rara tersenyum dan tertawa bahagia dalam hatinya. Kahfi bukan tipe lelaki yang romantis apalagi mau mesra di depan umum terlebih Rara hanya tunangan dalam status bukan wanita yang benar-benar di cintainya.
Pegangan tangan itu semakin erat, Rara menatap dengan rasa bahagia.
Mereka berdua sudah masuk ke dalam ruangan khusus kemoterapi itu. Ada beberapa perawat yang langsung membawa Rara dengan kursi roda untuk masuk ke dalam ruang isolasi khusus kemoterapi.
Beberapa perawat masih menyiapkan ruang isolasi untuk kemoterapi Rara, setelah sebelumnya dilakukan pengecekan terhadap Rara, apa saja yang dirasakan selama satu minggu ini.
__ADS_1
Rara sudah duduk di kursi roda itu, wajahnya tampak tenang dan terlihat bahagia. Rara sudah sangat siap secara lahir dan batin untuk melakukan kemoterapi hari ini. Kahfi berjongkok di depan Rara dan memberikan motivasi untuk gadis yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri. Hanya ada rasa sayang tidak dengan rasa cinta.
Rara menatap Kahfi dengan penuh damba mencinta.
"Ra, Kak Fi yakin, kamu pasti kuat menjalani ini semua, bertahan ya," ucap Kahfi pelan dan memotivasi Rara.
Sebelumnya Rara sering bercerita jika kemoterapi itu sangat sakit dan menyakitkan, kalau bukan karena suatu pengobatan mungkin Rara tidak akan kuat dan tidak akan bertahan.
Mendengar ucapan Kahfi yang begitu lembut membuat Rara semakin kuat dan termotivasi untuk sembuh.
"Rara pasti bertahan demi Kak Fi, kalau Rara sembuh dan menjadi gadis normal ada seperti Ayumi, maukah Kak Fi menikahi Rara, dan bukan menikahi Ayumi," tanya Rara pelan menyapa sendu kedua mata Kahfi dengan nada memohon dan berharap.
Deg ...
Deg ...
Deg ..
Jantung Kahfi seolah berdetak tiga kali lebih cepat dari biasanya mendengar ucapan Rara yang sangat menyentuh kalbu. Rasanya ingin menolak namun bibir Kahfi seolah tidak dapat bergerak untuk mengucap penolakan secara halus. Tapi memang cinta itu tidak pernah ada untuk Rara sampai kapanpun.
"Kak Fi kenapa diam? Kak Fi hanya cinta Ayumi?" tanya Rara dengan wajah nanar menatap Kahfi yang terlihat kaku dan bingung untuk menjawab semua pertanyaan Rara.
Kahfi hanya terdiam lalu tersenyum lebar.
"Kamu sembuh dulu, masalah itu nanti kita bicarakan dirumah," ucap Kahfi pelan dan lembut membuat hati Rara semakin bingung dan cemas.
"Rara berharap jawaban Kak Fi membuat Rara bahagia agar Rara bertahan dengan ini semua," ucap Rara pelan dan menahan tangisnya di dalam hati.
__ADS_1
Rara sangat tahu persis, Kahfi tidak akan pernah mencintai Rara sampai kapanpun dan hanya Ayumi wanita yang selalu ditempatkan di dalam hati Kahfi hingga saat ini.