Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
47


__ADS_3

Motor besar itu melaju dengan kecepatan tinggi menembus udara dingin di pagi hari yang masih segar untuk dihirup. Senyum palsu terukir di bibir Kahfi dibalik helm full facenya saat motor besar itu sudah terparkir di depan rumah sewaan Bunda Andara.


'Jika bukan permintaanmu, Kakak malas bertemu nenek lampir ini,' batin Kahfi di dalam hatinya.


Kahfi mematikan mesin motornya dan membuka helm full facenya lalu meletakkan diatas jok motornya.


Kahfi masuk ke teras depan rumah dan mengetuk rumah itu dengan keras.


"Assalamu'alaikum..." ucap Kahfi dengan keras sambil mengetuk pintu beberapa kali.


"Waalaikumsalam.. Fi?" jawab Kak Zura pelan saat membukakan pintu rumah itu.


"Kak Zura apa kabar, Bunda Andara ada?" tanya Kahfi pelan kepada Zura.


"Ada, masuk duduk dulu Fi. Maaf berantakan belum sempat beres-beres, Kakak panggil Bunda dulu," ucap Zura dengan ramah.


Kahfi dan Zura masuk ke dalam rumah, Kahfi duduk di kursi tunggu. Rumah itu tidak besar namun cukup nyaman untuk ditinggali. Kahfi mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah itu, ada dua cermin besar berjajar, ada kursi, ada rak berisi peralatan gunting, sisir, jepitan, alat untuk meluruskan dan mengeriting rambut, dan sebagainya.


"Kahfi? Apa kabar, sudah lama Bunda tidak bertemu?" tanya Bunda Andara keluar dari dalam.


Kahfi beranjak dari duduknya dan mencium punggung tangan Bunda Andara dengan rasa hormat.


"Alhamdulillah kabar Khfi baik Bunda," ucap Kahfi singkat lalu duduk di kursi kembali.


Bunda Andara duduk dikursi sudut dekat lemari kaca besar berisi alat make up dan beberapa kebutuhan untuk merawat tubuh dan wajah.


Keduanya tidak saling bertatap dan hening tidak ada pembicaraan apapun.


"Mau jemput Rara?" tanya Bunda Andara basa basi. Jujur Bunda Andara bingung, mau membahas apa karena selama ini memang tidak dekat dengan Kahfi lebih dekat dengan Afnan.


Zura keluar dari dalam dengan membawa nampan besar berisi satu gelas teh hangat dan dua toples berisi makanan ringan untuk Kahfi.


"Jangan dianggurin ya, minum dan cicipi," ucap Zura dengan pelan.

__ADS_1


Zura meletakkan gelas dan dua toples di meja kecil, lalu kembali ke dalam lagi.


"Ini usaha kecil-kecilan Bunda, semenjak Pisa dengan suami Bunda. Zura juga sudah bekerja walaupun masih tenaga kontrak, tapi penghasilannya lumayan untuk menyambung hidup kamu berdua. Tidak mungkin kita berdua menumpang hidup terlalu lama di rumah Nenek Arsy, walaupun mereka memaksa, Bunda dan Zura ingin mencoba mandiri," ucap Bunda Andara menjelaskan keadaan dirinya dan Zura saat ini.


"Iya Bunda," jawab Kahfi dengan pelan dan singkat tanpa merespon apapun lagi.


Mendengar jawaban Kahfi yang begitu singkat membuat Bunda Andara terdiam dan tidak melanjutkan cerita kehidupannya.


"Jaga Rara, hanya itu pesan Bunda kepadamu Fi. Rara banyak bercerita tentang kami kepada Bunda," ucap Bunda Andara menatap Kahfi dengan wajah sendu dan nada memohon.


Kahfi membalas tatapan Bunda Andara seolah meminta penjelasan tentang apa yang Bunda Andara ucapkan.


"Maksud Bunda apa ya? Kok Kahfi jadi gak paham?" tanya Kahfi kepada Bunda Andara dengan pelan.


"Maksud Bunda, minta Kahfi jagain Rara, untuk hari ini, esok dan selamanya," ucap Bunda Andara menjelaskan.


"Jagain Rara untuk hari ini, esok dan selamanya? Kahfi kesini hanya untuk mengantarkan Rara atas permintaan Ayumi. Kahfi dan Rara tidak ada hubungan apa-apa Bunda? Kahfi menghargai Bunda karena Bunda Andara adalah istri dari sahabat Bapak, tidak lebih," ucap Kahfi kesal.


"Bukankah kalian sedang dekat" tanya Bunda Andara dengan pelan dan ragu saat bertanya


Kahfi menggelengkan kepalanya dengan mantap.


"Kahfi dan Rara tidak ada hubungan apa-apa, kami hanya berteman biasa. Ayumi datang ke rumah Kahfi dan memohon untuk menolong Rara, mengantarkan Rara ke Sekolah barunya," ucap Kahfi dengan jujur.


Bunda Andara menganggukkan kepalanya pelan tanda paham apa yang disampaikan oleh Kahfi.


Terdengar suara piring pecah dari arah balik dinding dimana Kahfi duduk. Bunda Andara mendengar itu langsung berlari masuk ke dalam. Tidak lama terdengar suara jeritan Zura berteriak sangat keras.


"Rara!!" teriak Zura dengan suara yang sangat keras.


"Rara!!" teriak Bunda Andara dengan suara keras sambil berlari dari arah depan.


Kahfi mendengar teriakan kedua perempuan antara Bunda Andara dan Zura tergugah hatinya untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya.

__ADS_1


Kahfi masuk ke dalam rumah menuju ruang tengah dan menatap tubuh Rara yang terkulai lemas di atas lantai. Tangannya berdarah terkena pecahan beling dari piring yang terjatuh.


Bunda Andara dan Zura menangis histeris saat memegang tubuh Rara yang terbujur kaku tanpa ada pergerakkan.


Kahfi langsung berlari dan mengangkat tubuh mungil itu ke arah kamar tidur Bunda Andara. Tubuh Rara yang mungil dan lemas itu direbahkan di kasur dan diselimuti hingga ke bagian perut.


Bunda Andara dengan sigap mengambil aromaterapi yang ada di nakas dan mengoleskan di sekitar indera penciuman Rara.


Zura menuju dapur untuk membuat teh hangat lalu dibawa ke kamar dan diletakkan di atas nakas.


Bunda Andara sedang mengobati luka Rara yang ada ditangan, namun anehnya luka itu dekat sekali dengan nadi Rara, tepatnya di pergelangan tangannya, apakah ini percobaan bunuh diri Rara.


Kahfi menatap Rara dengan nanar, ini adalah kesalahannya.


"Bunda, Kahfi panggilkan dokter dulu untuk dibawa kesini agar bisa memeriksa dan mengobati Rara," ucap Kahfi sedikit panik lalu pergi dengan motor besarnya untuk mencari dokter yang bisa diajak ke rumah.


Sekitar lima belas menit kemudian Kahfi sudah datang dengan dokter yang akan memeriksa Rara. Kebetulan dokter itu baru saja pulang dari tugasnya di Rumah Sakit, dan mau membantu Kahfi, saat Kahfi menceritakan ada anak gadis yang ingin melakukan percobaan bunuh diri.


Luka di pergelangan tangan sudah diobati dan diperban, lukanya tidak dalam, tapi sepertinya jiwanya agak terguncang hingga berani melakukan hal ini tanpa pikir panjang.


"Bagaimana keadaan Rara, dokter?" tanya Kahfi yang terlihat panik.


"Sudah lebih baik, lihat napasnya sudah lebih teratur dan terlihat tenang, sebentar lagi pasti siuman. Mengenai luka ditangannya, sepertinya betul, luka ini disengaja untuk menyakiti dirinya sendiri atau lebih tepatnya Rara melakukan percobaan bunuh diri," ucap dokter itu pelan sambil menatap Rara dengan rasa iba.


"Terima kasih dokter, sudah membantu anak saya, Rara," ucap Bunda Andara pelan.


"Baiklah, say pulang dulu, kalau ada apa-apa bisa hubungi saya, dan ini kartu nama saya. Jangan lupa obatnya diminum hingga habis agar tuntas pengobatannya," ucap dokter itu pelan menjelaskan.


Bunda Andara mengantarkan dokter itu hingga pintu depan rumah.


Kahfi menatap Rara dengan perasaan iba. Ada perasaan bersalah teramat sangat yang menyelimuti hatinya. 'Maafkan Kakak, Ra,' ucap Kahfi dalam hati.


Kahfi tidak menangis tapi hatinya sedih sekali, seandainya Kahfi tadi tidak egois dan tidak tersulut rasa kesal, mungkin kejadian ini tidak akan berakhir seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2