
Duta mengelengkan kepalanya dengan cepat. Pekerjaan ini sangat penting bagi Duta. Selain pekerjaan ini adalah pekerjaan yang ia impikan, pekerjaan ini juga amanah. Ada beban berat yang sudah harus di pikul Duta dan teman satu ruangannya. Kalau Duta mundur, berarti ia gagal.
"Kakak ijinkan kamu pulang. Kakak akan antar kamu ke bandara sekarang juga. Maaf, Kakak gak bisa ikut," ucap Duta lirih.
"It's oke. Gak masalah. Ayahku yang meneinggal bukan Ayah Kak Duta. Jadi kalau Kak Duta gak hadir gak apa -apa. Yumna anak kandungnya, sedangkan Kakak hanya menantu saja," ucap Yumna ketus karena kecewa denagn sikap Duta yang masa bodoh.
"Jangan pojokkan Kakak, Yumna. Kakak ini dilema!! Kakak terpaksa mengijinkan kamu karena kamu yang memaksa. Kakak gak punya pilihan lain. Kalau Kakak harus pulang. Mimpi Kakak kandas, tak hanay itu saja. Kakak gak bisa menghiupi kamu, Na," ucap Duta dengan suara lantang hingga terkesan membentak.
Yumna menatap lekat Duta. Tatapan Yumna begitu marah dan penuh kekecewaan.
"Kak Duta sudah berani bentak Yumna? Tak Yumna sangka. Kak Duta kasar!!" ucap Yumna makin tak bersimpati sama sekali.
Masalah kecil seperti ini bisa menjadi boomerang bagi hubungan keduanya karena salah paham.
__ADS_1
"Na ... Maafkan Kakak, Na. Bukan maksud Kakak membentak kamu, Na. Kakak cuma masih gak percaya dengan kabar ini, di tambah lagi kamu akan pulang mendadak. Anak kita kasihan, Na. Coba untuk tidak egois, Na," ucap Duta lirih dengan nada yang melemah.
"Cepat Kak. Yumna harus mendapatkan penerbangan pagi ini," ucap Yumna ketus. Yumna sudah tak peduli lagi ucapan Duta. Perutnay yang terasa keram sudah tak di rasa lagi. Klai ini Yumna hanya ingin vepat terbang ke Indonesia dan datang ke rumahnya emmeluk jenazah sang Ayah. Hanya itu. Keinginan yang cukup sederhana, taapi Duta, suaminya sama sekali tak bisa mengerti dirinya.
Duta melangkah lunglai dan ingin memeluk Yumna, namun Yumna menghindar dan berjalan ke arah ruang tamu. Yumna sengaja tak membawa apapun hanya tas ekcilnya yang berisi dompet dan ponsel saja.
"Na?" panggil Duta lirih. Duta berusaha menarik tangan Yumna, namun Yumna sengaja menghempaskan tangan Duta. Keduanya masih terlalu muda, belum siap untuk menerima hal buruk, masih labil dan mudah terprovokasi. Sifat dan sikap mereka sudah dewasa tapi belum matang.
Yumna melengos begitu saja sambil berucap, "Cepat. Kalau gak bisa cepat, Yumna bakal naik taksi atau Yumna telepon Nick untuk antar Yumna sekarang." Ancam Yumna pada Duta membuat Duta semakin menelan dalam salivanya.
"Iya Kakak akan ganti baju," ucap Duta dengan cepat mengganti kaos dan memakai celana jeansnya lalu ke ruang tamu sambil memesan taksi untuk ke bandara.
Tak lama, taksi pesanan Duta pun datang. Keduanya masuk ke dalam taksi menuju bandara. Dengan cepat, Duta memesan tiket pesawat secara online, sedangkan Yumna masih sibuk menelpon kedua kakaknya dan Bunda Sinta. Terakhir Yumna menelepon Yuri, sahabatnya yang merupakan tunangan Kak Dafa.
__ADS_1
Selang beberapa menit, mereka sudah sampai di bandara. Kebetulan jalan sepi sehingga taksi bisa mempercepat laju mobilnya.
Duta langsung mengurus semuanya dan membelikan beberapa makanan dan minuman serta susu hamil kemasan untuk Yumna. Yumna belum sarapan, bayinya tentu ikut panik dan cemas dan etntunya akan lapar.
"Minum susu dulu, biar bayinya gak kehausan," ucap Duta sudah menyodorkan susu hamil kemasan yang sudah di buka.
Yumna menrima susu kotak itu dan meminumnya hingga habis. Benar kata Duta, bayinya haus, dirinya juga haus dan sedikit lapar.
"Mau makan roti? Atau yang lainnya? Pesawat masih setengah jam lagi. Maish bisa kalau mau makan," ucap Duta pada Yumna.
"Makan roti aja. Takut mual," ucap Yumna lirih.
Ini kali pertamanya Yumna pergi denagn pesawat terbang dalam keadaan hamil.
__ADS_1
"Yumna?" sapa seseoarng dari belakang membuat Yumna dan Duta menoleh ke arah belakang.