Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
116


__ADS_3

Ayumi kembali lagi dengan aktivitasnya di dapur untuk menyelesaikan masak makan siang. Menu siang ini, Ayumi hanya memasak ayam goreng kremes lengkap dengan lalapan dan sambal saja. Ayamnya sudah dibumbui dan direbus, tinggal ditiriskan dan digoreng hingga kering.


Meja makan sudah dibereskan dan menyiapkan tiga piring kosong yang ditumpuk menjadi satu dan tiga gelas kosong untuk minum.


Afnan dan Bulan sudah pergi sejak pagi, entah kemana perginya kedua orang itu seperti sedang janjian untuk pergi bersama. Awalnya hanya Afnan yang pergi terlebih dahulu, tidak lama kemudian Bulan juga ikut keluar dengan pakaian yang tidak biasa. Bulan berpamitan kepada Ayumi untuk ke toko buku dan mau mampir ke supermarket untuk membeli beberapa bahan makanan.


Sejak pagi, Bulan mengikuti kemanapun Afnan pergi. Bagi Bulan ini semua ada hubungannya dengan Kak Zura.


Setengah jam Afnan menunggu kedatangan satu mobil mewah itu dan langsung naik ke dalam mobil itu. Bulan beranjak dari tempat persembunyiannya dan memberhentikan taksi online lalu naik dan mengikuti kemana arah mobil itu berjalan.


Tidak sampai satu jam, mobil itu masuk ke dalam perkampungan yang kumuh dan tidak tersentuh oleh orang. Mobil itu berhenti di depan rumah petak yang terbuat asal dari triplek tipis.


Afnan dan Kak Zura turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah petak itu. Tapi tidak tahu tempat apa itu, tidak jelas.


Bulan memberanikan diri untuk bertanya kepada supir taksi online itu.


"Maaf, boleh saya bertanya, sebenarnya ini tempat apa? Kenapa begitu kumuh dan tidak berpenghuni seperti kampung yang sepi," tanya Bulan kepada supir taksi online itu.


"Ini kampung isolasi, siapapun. yang ke tempat ini dan diungsikan ke tempat ini adalah orang-orang yang memiliki penyakit menular khususnya penyakit HIV," jawab supir taksi online itu.


"Oh seperti itu," ucap Bulan pelan, setenagh tidak percaya.


Bulan menyandarkan tubuhnya di jok belakang dan nampak sedang berpikir. 'Apakah yang ada di dalam itu Bunda Andara, kalau memang betul itu Bunda Andara, maka wanita misterius itu betul Kak Zura dan bukan orang lain. Tapi, kenapa jika betul wanita misterius itu Kak Zura, kenapa harus berpakaian seperti itu, kenapa?' tanya Bulan dalam hatinya sendiri.


"Maaf Nona, kita menunggu disini atau mengikuti mobil itu kembali?" tanya supir taksi online itu kepada Bulan yang sedang termenung dan melamun.

__ADS_1


Lamunan Bulan menjadi buyar saat supir taksi itu menoleh ke arah Bulan dan bertanya kepada Bulan dengan suara sedikit lantang.


Bulan yang terkejut dengan pertanyaan supir taksi online itu tampak gelagapan dan melirik ke arah kanan dan kiri lalu menatap lurus ke arah depan tempat mobil Ka Zura tadi berhenti dan kini sudah menghilang.


"Ke rumah itu Pak, saya ingin melihat keadaan didalam dan memberikan uang untuk orang tersebut," ucap Bulan pelan menitah kepada supir taksi online itu.


Supir itu menganggukkan kepalanya dengan pelan.


"Hati-hati, karena bahaya dengan penyakit menular," ucap supir taksi online itu pelan mengingatkan.


Belum juga mobil taksi online yang ditumpangi oleh Bulan sampai di rumah petak itu, ada seorang wanita paruh baya yang keluar hanya menggunakan pakaian dress selutut berwarna pink dan rambut pendek sebahu, membawa tas cantik dan terlihat bermerek yang dijinjing dengan satu tangannya.


Wanita itu tampak sedang menunggu seseorang melirik ke arah kanan dan ke kiri, hingga ada satu motor besar menghampiri wanita itu yang tidak lain adalah Bunda Andara.


Bulan menatap lurus ke depan, melihat dengan mata kepala sendiri juga jika wanita itu benar Bunda Andara, dan tidak salah lagi, wanita misterius itu adalah Kak Zura.


"Non, kayaknya wanita itu akan pergi, kira akan ikuti atau tetap ke rumahnya?" tanya supir taksi online itu dengan pelan.


"Kita ikuti saja mereka Pak," titah Bulan dengan suara mendesak.


Mobil taksi online itu melaju dengan cepat mengikuti motor besar yang dengan lihai melewati beberapa mobil didepannya dengan mengikuti gerak tubuh si pengemudi.


Setengah jam, supir taksi online itu mengejar motor besar itu yang sempat tertinggal jauh dan kehilangan jejak, namun bisa menemukan kembali itu rasanya sangat keren sekali.


Bulan tetap menatap lurus ke arah Bunda Andara yang ada di depannya.

__ADS_1


Motor besar itu berbelok ke arah kanan dan masuk ke parkiran khusus di sebuah gedung. Sedangkan mobil taksi online tidak dapat akses untuk masuk ke dalam gedung dan tetap berada di pinggir jalan raya.


"Tempat apa ini?" tanya Bulan dengan suara pelan dan bingung


"Ini adalah hotel khusus untuk para pejabat, atau orang penting di negeri ini, atau tamu penting dari negara lain yang akan tinggal disini hanya untuk berlibur. Wanita tadi mungkin salah satu wanita penghibur disini," ucap supir taksi online itu dengan pelan menjelaskan secara detil.


Bulan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya agar teriakannya dapat dikendalikan. Rasanya benar-benar kaget dan terkejut dengan pekerjaan Bunda Andara saat ini selama berada di Mesir.


"Anda cukup hapal, dengan penampilan wanita penghibur disini tuan?" tanya Bulan mencari kebenaran.


Supir taksi online itu tertawa terbahak-bahak lalu tersenyum lebar.


"Mudah sekali, mengenali wanita penghibur seperti itu. Tapi sudah jelas, wanita ini memiliki sakit, ini malah membuat susah dirinya sendiri, jika sampai ketahuan dengan pemakainya, wanita itu bisa dibunuh, karena sudah menutupi penyakit menularnya," jelas supir taksi online itu dengan panjang lebar.


Bulan tampak menganggukkan kepalanya pelan tanda mengerti dengan jelas maksud dari supir taksi online itu.


"Bagaimana, kita pergi atau menunggu," tanya supir taksi online itu pelan.


"Baiklah, kita pulang ke gedung apartemen yang tadi pertama saya menunggu," ucap Bulan dengan singkat.


Sepanjang jalan Bulan hanya terdiam dan. termenung, menyandarkan tubuhnya di jok belakang dan kepalanya di kaca jendela mobil. Rasanya sangat pening sekali, mengungkap satu masalah keluarga besar. Bagi Bulan, Kak Zura tetaplah Kakak yang baik baginya, dan Bunda Andara adalah Bunda yang perhatian.


Sebelum Pak Sukoco menikahi Mama Anna, hubungan Mama Anna dan Bulan dengan keluarga Pak Sukoco termasuk Bunda Andara dan kedua putrinya Kak Zura dan Rara, sangatlah baik. Tidak ada perselisihan diantara keduanya, karena Mama Anna memang berjekja sebagai staf admin kepercayaan Papa Sukoco.


Tapi kini semuanya berbeda, hanya Bulan dan Rara yang masih berhubungan baik, tapi semenjak Bulan menikah, hubungannya dengan Rara juga ikut merenggang terlebih sekarang mereka berdua memiliki kesibukan masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2