Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
131


__ADS_3

Kahfi menatap kedua mata Rara dengan sangat tajam dan mengembalikan cincin itu kepada Rara kembali.


Tapi Rara tidak mau menerima dan memberikannya lagi kepada Kahfi.


"Kenapa Ra? Kenapa harus dikembalikan?" tanya Kahfi dengan suara lembut dan penasaran.


"Rara, jangan seperti ini, pakai kembali," ucap Bunda Icha dengan sangat lembut menitah Rara.


Rara hanya terdiam menatap wajah Kahfi dan Bunda Icha secara bergantian.


Wajahnya sendu dan sayu, namun pikiran Rara tetap tertuju pada perdebatan yang terjadi beberapa jam yang lalu.


Rara sudah berusaha sabar menerima semuanya dengan ikhlas. Status pertunangan mereka yang hanya untuk membahagiakan Rara itu semua status palsu bukan keinginan dari kedua belah pihak, namun hanya lowongan Rara saja yang selalu berharap bisa hidup bersama dengan Kahfi.


"Untuk apa dikembalikan? Tanya pada diie Kak Fi sendiri, kira-kira untuk apa cincin tunangan ini Rara kembalikan kepada Kak Fi?!" ucap Rara pelan tanpa mengotot.


Rara berusaha menerima, berusaha legowo seperti Kahfi yang selama ini berusaha mengalah dan berkorban untuk kebahagiaan Rara, seperti ucapan Kahfi tadi di balkon kamar tidurnya.


Kahfi menggelengkan kepalanya dengan cepat, karena tidak mengerti maksud dari semua ini. Padahal Kahfi sedang berusaha membuka hati untuk Rara, berharap memang ini takdir yang harus dijalani oleh Kahfi, walaupun sejatinya itu sangat sulit dilakukan. Cinta yang utuh dan sempurna hanya untuk Ayumi dan tidak akan pernah tergantikan.


"Kak Fi benar-benar tidak mengerti apa maksud dari ini semua?" tanya Kahfi dengan suara lembut.


"Kita sudahi kepura-puraan ini Kak Fi, untuk apa menjalani suatu hubungan jika itu semua bukan keinginan keduanya, tetapi hanya sebatas keinginan Rara saja," jawab Rara dengan pelan menjelaskan.


Bunda Icha ikut menyela ucapan Rara dan ikut memberikan sedikit nasihat kepada kedua putra putri kesayangannya ini.

__ADS_1


"Rara, Bunda mohon jangan kamu kembalikan, pakailah kembali. Tidak ada yang berpura-pura, hanya kesalahpahaman saja, dan proses waktu," ucap Bunda Icha pelan menjelaskan.


"Semuanya sudah selesai Bunda, tidak ada lagi yang harus ditutup-tutupi dan tidak perlu lagi ada kebohongan atau sesuatu yang disembunyikan dari Rara," ucap Rara pelan dan terbata-bata.


Sangat sulit menerima kenyataan pahit ini, namun Rara harus tetap tegar dan tegas pada pendiriannya serat keputusan yang diambilnya. Suaranya bahkan tercekat hingga kerongkongannya terasa sakit dan perih saat mengatakan semuanya yang tidak sesuai dengan hati nuraninya.


Wajah Rara sudah basah karena air mata, raut wajahnya terlihat kusut dan kucel.


"Pakai Ra!!" ucap Kahfi setengah berteriak.


Kahfi tidak ingin mencari masalah baru dengan Rara. Sebisa mungkin Kahfi ingin memperbaikinya dan memulainya kembali dari awal. Mencoba semuanya dari awal walaupun sulit, pasti bisa.


"Tidak akan Kak Fi! Jangan paksa Rara untuk memakai cincin itu lagi!!" teriak Rara dengan suara keras hingga perdebatan itu terdengar sampai ke rumah tengah.


"Kak Fi, sayang sama kamu Ra, kasih kesempatan untuk Kak Fi untuk memperbaiki semuanya," ucap Kahfi pelan kepada Rara.


Bunda Icha menatap Kahfi dengan lekat. Bunda Icha melihat semua yang diucapkan Kahfi adalah sebuah ketulusan dan keikhlasan.


Rara menggelengkan kepalanya pelan.


"Sudah Kak Fi, kembalilah bersama Ayumi, berikan cincin itu kepada gadis yang Kak Fi cintai, dan itu buka Rara," ucap Rara dengan pelan. Tangisannya tertahan di kerongkongan, dada Rara kini mulai terasa sesak.


"Berikan Kak Fi kesempatan untuk memulai semuanya dari awal, untuk memulai semuanya pada lembaran yang batu, Kak Fi ingin berusaha bisa mencintai Kamu Ra, tolong bantu Kak Fi melupakan masa lalu Kak Fi," ucap Kahfi dengan sedikit frustasi.


Hati Kahfi benar-benar sedang di landa dilema, pikirannya tertuju pada Ayumi, gadis yang selama ini membuat hidupnya berwarna, tapi kini Kahfi dihadapkan pada satu pilihan yang harus menetap disana, untuk kebahagiaan.

__ADS_1


Rara menatap tajam ke arah Kahfi, mencari kebohongan apa lagi yang dibuat oleh kahfi, kepura-puraan apa yang ingin ditunjukkan lagi kepada Rara, tapi nihil, semua yang dikatakan adalah benar, semua yang dikatakan adalah ketulusan.


"Rara tidak bisa dengan mudah percaya dengan omongan Kak Fi, sudah terlalu banyak Rara berharap untuk kesekian kalinya, tapi semua itu hanya kepalsuan. Rara keliru sudah menetapkan hati Rara untuk Kak Fi," ucap Rara pelan, hatinya benar-benar sakit karena sudah dikecewakan, sudah dibohongi mentah-mentah.


"Tidak Ra, kali percayalah pada Kak Fi. Kak Fi akan selalu bersama Rara, dan menemani Rara hingga maut yang akan memisahkan kita," ucap Kahfi pelan meyakinkan Rara yang masih terus sesegukan menangis.


Hati Rara sangat mudah mencair walaupun sudah beku, apalagi Kahfi yang berusaha mencairkannya, tentu Rara akan sangat luluh.


"Ra, terimalah Kak Fi sebagai calon imam untukmu, Kak Fi berjanji akan selalu bersama Rara," ucap Kak Fi dengan pelan dan sangat tulus.


Rara menatap lekat kedua mata Kahfi dengan kedua tangan Rara yang dipegang oleh Kahfi. Kahfi berusaha memasukkan kembali cincin emas yang sempat dilepaskan oleh Rara kini terpasang cantik di jari manisnya.


"Pakai cincinnya, dan jangan pernah Rara lepaskan lagi, janji ya dengan Kak Fi, apapun masalah yang akan kita hadapi, jangan pernah lepaskan cincin ini," ucap Kahfi pelan menasehati Rara.


Kahfi benar-benar ingin membuka hatinya untuk Rara, walaupun hanya ada celah setitik untuk cahaya masuk, Kahfi akan berusaha menjaga setitik cahaya itu agar tidak pernah pudar untuk selamanya.


"Kak Fi serius dengan semua kata-kata Kak Fi, apakah ini bukan semua seperti kemarin?" tanya Rara dengan suara pelan sambil menatap lekat kedua mata Kahfi.


Kahfi tersenyum lebar dan bisa merasakan keraguan yang dirasakan oleh Rara. Kahfi masih memegang kedua tangan Rara setelah memasangkan cincin itu di jari manis Rara. Kedua tangan Rara di cium oleh Kahfi dengan penuh kasih sayang, tatapannya lembut menatap wajah dan mata Rara, hingga membuat Rara menjadi salah tingkah.


Sejak tadi kemesraan ini sudah dinikmati beberapa anggota keluarga yang masuk ke dalam kamar tidur Rara, ada Bunda Icha yang sudah ada sejak awal tadi, ada Ayah Sukoco dan Mama Anna yang baru saja masuk dan melihat kemesraan kedua putra putrinya itu.


Rara tersenyum bahagia menatap Kahfi. Rasanya sangat manis sekali perlakuan Kahfi kepada Rara saat ini, membuat Rara jatuh cinta untuk kesekian kalinya kepada Kahfi. Tubuhnya seolah melayang hingga ke awan putih yang cantik, hatinya kini dipenuhi bunga-bunga cantik dan indah serta harum semerbak.


"Ra, maukah kamu menikah dengan Kak Fi hingga maut memisahkan kita," ucap Kak Fi lembut sambil menatap lekat kedua mata bulat Rara.

__ADS_1


__ADS_2