Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
148


__ADS_3

Drajat dan Lola terdiam satu sama lain. Keduanya kini berada di atas tempat tidur setelah acara makan malam bersama untuk merayakan ulang tahun Lola yang ketiga puluh tahun.


"Kamu yakin mau berangkat ke luar negeri, Sayang? Kita sudah susah payah ke dokter seminggu sekali hanya untuk terapi agar kita cepat memiliki momongan," ucap Drajat pelan.


Lola masih berada di dalam dekapan Drajat. Mereka baru saja melakukan hubungan suami istri. Setiap hari mereka lakukan agar Lola cepat hamil.


"Kalau Mas Drajat tidak mengijinkan, ya tidak masalah. Lola tidak berangkat, Lola tetap menjadi marketing, dan Lola gak akan berharap karir Lola naik lagi," ucap Lola pelan seolah menyudutkan Drajat untuk memperbolehkan Lola berangkat demi kenaikan jabatannya itu.


Lola memang wanita keras kepala yang selalu menginginkan karir terbaik agar Lola tak pernah merasa sia -sia kuliah sampai tinggi.


"Sayang ... Tiga bulan itu lama sekali, bukan waktu yang sebentar," ucap Drajat mulai gelisah.


"Mas ... Cuma tiga bulan lho," ucap Lola masih mencoba merayu Drajat, suaminya.


"Terus? Rumah siapa yang mau urus. Mas kan sibuk juga?" ucap Drajat pelan.


"Nanti Lola panggil mbok yang kerja di rumah Mama untuk membantu disini selama tiga bulan. Kalau gak Mas Drajat tinggal sama Mamah atau Bunda aja. Rumah ini biarkan kosong," pinta Lola pelan.


"Gak bisa, Sayang. Dari rumah Bunda ke kantor itu jauh. Lagi pula gak bebas, gak bisa tidur, ada ponakan yang suka ganggu Mas. Tahu sendiri kan, anaknya Mas Priyo itu lengket banget sama Mas," ucap Drajat pelan sambil memainkan perut Lola yang masih polos belum terbungkus pakaian.


"Rumah Mama? Kan itu deket banget sama kantor Mas Drajat yang baru," ucap Lola memberikan saran.


"Lola sayang, masa iya menantu laki -laki tinggal bersama Ibu mertuanya, mana Mamah kamu itu sendiri, single parents, bisa jadi fitnah dong," ucapDrajat memberikan pesan.

__ADS_1


"Ya sudah, aku cari asisten rumah tangga yang datang pagi dan pulang sore. Gak perlu nginep," ucap Lola pelan.


"Ya terserah. Mau seminggu sekali datang juga gak apa -apa. Mas itu yang penting ada yang cuci piring, cuci baju, bersih -bersih, itu aja. Mbok yang kerja di rumah Mamah juga boleh kerja disini, smeinggu seklai," ucap Drajat menyarankan agar Lola tak kesulitan mencari asisten baru. Waktunya sedikit hanya tinggal satu minggu lagi. Mana mungkin bisa pilih asisten rumah tangga.


***


Sudah tiga hari berlalu, Lola masih belum dapat asisten rumah tangga. Beberapa agen penyalur jasa asisten rumah tangga pun sedang tidak satu orang pun yang bisa membantu Lola.


"Lo cari di media sosial aja. Suka ada tuh. Atau lo buka lowongan di sana," ucap Rahel pada Lola.


"Oh iya ya ... Kok gue gak kepikiran sih? Thanks masukannya lho, Hel," ucap Lola tersenyum pada Rahel dan emngambil ponselnya untuk membuat informasi lowongan pekerjaan.


"Sama -sama. Sukses buat lo, La. Gue ikut bahagia, walaupun berada di posisi lo ini, gue juga pingin banget, tapi lo itu lebih cocok. Gue dukung lo," ucap Rahel pelan menyemagati Lola.


"Nah itu. Kebanyakan orang kan sok bossy kalau udah di atas," ucap Rahel pelan.


Informasi lowongan itu baru saja di share di media sosialnya, langsung mendapatkan banyak respo. Ponsel Lola ikut ramai berdering baik notifikasi telepon masuk atau pesan singkat masuk.


Sore ini, Lola memilih salah satu yang di anggap Lola bisa mengurus rumahnya selama Lola pergi. Aturan aminnya, tidak memberikan tumpangan untuk menginap. Datang jam delapan pagi dan pulang jam tiga sore. Lola sudah memikirkan agar asisten rumah tangganya tidak perlu bersinggungan dengan Drajat, suaminya.


Lola hanay ingin asisten rumah tangganya datang setelah Drajat berangkat kerja dan pulang sebelum Drajat pulang ke rumah.


***

__ADS_1


Pertemuan pertama Lola dengan asisten rumah tangganya adalah sore ini di salah satu rumah makan dekat kantor Lola.


Lola sudah setengah jam menunggu asisten rumah tangganya datang yang katanya masih dalam perjalanan menuju rumah makan tersebut.


"Kamu yang akan kerja di rumah saya?" tanya Lola pada seorang wanita partuh baya yang usianya di atas Lola.


Wanita itu emngangguk dan tersenyum sangat manis sekali.


"Betul Bu. Ibu Lola kan?" tanya Martini dnegan sopan.


"Ya, Saya Lola. Silahkan duduk. Tadi siapa namanya?" tanya Lola pelan.


"Nama saya, Martini," ucap Martini denagn ramah dan duduk sesuai perintah Lola.


Sambil mengobrol satu sama lain, agar Lola menegnal betul siapa Martini, akrena selama tiga bulan Martini akan bekerja di rumahnya. Tetap ada rasa was -was dan cemas. banyak kejadian kriminal yang sering wara -wiri di televisi tentang kasus pencurian yang di lakukan oleh asisten rumah tangga. Kasus lain, adalah perselingkuhan majikan dan pembantunya. Itu yang paling di khawatirkan. Mungkin Lola akan tetap memantau Mas Drajat setiap saat dan setiap waktu. Agar tidak ada celah sama sekali.


"Jadi kamu dari Kampung? Terus di Jakarta sudah berapa lama?" tanya Lola pelan.


"Baru satu bulan Bu. Mungkin nanti saya akan cari tempat tinggal di sekitar Ibu saja, biar dekat bisa berjalan kaki. Saya kurang paham dengan kota Jakarta. Tadinya mau cari teman kecil saya. Tapi, itu sama saja, mencari jarum di atas jerami," ucap Martini pelan.


"Iya benar. Di Jakarta jangan mudah percaya sama orang. Banyak orang jahat di tengah -tengah kita. Kadang sahabat sendiri bisa jadi musuh. Oke, Muali besok kamu silahkan datang ke rumah. Saya akan mulai mengajarkan kamu memakai alat -alat kebersiha di rumah. Karena kebanyakan saya memkai alat elektronik. Saya tunggu jam enam pagi, oke?" titah Lola pada Martini.


"Baik Bu. Saya tidak akan mengecewakan Ibu. Ibu sudah baik membantu saya, dan memberikan pekerjaan untuk saya. Saya tidak akan lupa dengan jasa Ibu," ucap Martini pelan.

__ADS_1


Lola sanagt suka pada Martini. Bukan hanya baik, dan ramah saja. Martini sangat sopan dan terlihat polos.


__ADS_2