Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
142


__ADS_3

Kata -kata Duta cukup menusuk dada Yumna. Sedikit, singkat, jelas tapi cukup memiliki arti yang begitu mendalam.


Yumna menyelesaiakna makan malamnya dnegan Duta karena setelah ini mereka akan pergi bertamu ke rumah Pak Candra dan Ibu Maheswari.


"Gimana di kantor hari ini, Kak?" tanya Yumna tiba -tiba. Sejak tadi Duta diam dan tak bicara. Lebih baik Yumna menanyakan bagaimana pekerjaannya di kantor hari pertamanya ini.


"Baik. Sungguh membuat senang. Teman -temannya baik dan sopan serta bersahabat. Mereka tidak sombong dan saling membantu," ucap Duta pelan.


"Om Wisnu? Teman Ayah Kakak, gimana orangnya?" tanya Yumna pada Duta.


"Ekhemm baik juga. Hari ini kita gak bertemu lama. Kakak datang menunggu beliau datang lalu perkenalan diri dan di perkenalkan di seluruh kantor lalu di ajarkan apa yang harus Kakak kerjakan dan beliau pergi entah kemana," ucap Duta bercerita tentang hari ini slema aberada di kantor.


"Ohh gitu. Mungkin Om Wisnu sibuk di luar ketemu klien. Namanya juga bos," ucap Yumna memberikan pernyataan.


"Bisa jadi," jawab Duta singkat lalu menghabiskan sisa makanan itu dan membawa piring kotor itu ke belakang.


Yumna membereskan beberapa piring yang masih ada isi makanan di rak meja makan dan ebrsiap untuk segera bertamu mumpung belum terlalu malam.

__ADS_1


"Sayang sudah siap?" panggil Duta dari arah depan yang sejak tadi menunggu Yumna.


"Sudah Kak," jawab Yumna sambil menenteng satu kantung plastik berisi kue yang akan di jadikan buah tangan untuk keluarga Candra dan Maheswari.


"Cantik sekali. Istri siapa sih?" ucap Duta menjawil dagu Yumna.


"Mulai deh," ucap Yumna mencubit lengan Duta.


"Aw .. Sakit sayang. jadi sering nyubit ya," ucap Duta langsung mencium pipi Yumna hingga gadis itu salah tingkah dan merona di pipinya.


Walaupun sudah menjadi pasanagn suamiistri. Mendapat perlakuan seperti itu tetap saja terasa deg -degan.


Duta langsung menggenggam tangan Yumna erat dan membawa gadisnya menuju rumah ak Candra. Kedua sejoli ini sudah berdiri di depan pintu teras dan menekan bel masuk yang ada di dpean pintu satu kali.


Pak Candra terlihat sedang berjalan menuju pintu depan dan emmbuka pintu ruang tamu. Lelaki paruh baya itu tersenyum penuh ketulusan dan mempersilahkan Yumna dan Duta untuk masuk ke dalam.


"Masuk silahkan. Nak ...," ucap Pak Candra sambil menggaruk kepalanya yang setengah botak mengingat nama Duta, penyewa paviliunnya.

__ADS_1


"Duta Pak. Nama sayan Duta, dan ini istri saya, Yumna," ucap Duta memperjelas status hubungannya.


"Ohhh iya. Duta. Betul seklai, Wisnu banyak cerita tentang kamu kemarin. Ada keperluan apa? Ayo silahkan masuk," titah Pak Candra padaa Duta dan Yumna.


Yumna dan Duta pun masuk ke dalam rumah besar dan mewah milik Pak Candra dan Bu Maheswari.


"Ma ... Ini ada Duta. Sini dulu," ucap Pak Candra emmanggil istrinya yang sedang berada di dalam.


"Iya sebentar," jawaban dari Bu Maheswari begitu terdengar keras.


Yumna sudah duduk di salah satu sofa tepat di samping Duta. Pandangannya berada tepat di salah satu figura yang berisi foto keluarga sepertinya.


Duta sendiri sibuk berbincang dengan Pak Cnadra. Tak lama Bu Maheswari keluar dengan satu baki besar yang kemdian di letakkan di meja tamu lalu menyajikan dua minuman hangat seeta makanan ringan untuk tamu paviliunnya.


"Repot sekali. Kami berdua hanay sebentar Bu. Ini ada sedikit oleh -oleh, Yumna beli saat pulang dari kampus tadi," ucap Yumna jujur.


"Owhhh ... Terima kasih, sayang," ucap Bu Maheswari pada Yumna.

__ADS_1


Maheswari duduk di samping suaminya dan menanggapi cerita Duta sambil sesekali tersenyum penuh arti pada Yumna. Ada hal yang sepertinya ingin Maheswari ungkapkan secara pribadi dengan Yumna.


__ADS_2