
Ayumi dan Bulan masih berada di Kantin Kenangan Rumah Sakit Kasih Ibu. Sudah satu jam mereka disana berbincang dan bercerita sangat banyak dan panjang, ada saja yang dibahas diantara keduanya, mulai dari makanan kesukaan, hobby mereka, pelajaran yang disukai dan apapun itu tentang pribadi mereka berdua.
Makanan dan minuman yang Bulan pesan sudah habis sejak setengah jam lalu. Perut mereka sudah kenyang terisi nasi goreng sapi dan tempura special serta teh manis panas menambah nikmat malam dingin saat itu.
"Jadi, Kamu dan Afnan, lalu Rara dan Kahfi? begitu?" ucap Bulan pelan sambil mengangguk pelan tanda paham dengan penjelasan Ayumi.
"Iya begitu, sebenarnya Ayumi gak pusing sama jodoh, tapi makin kesini kok seperti ada yang mengganjal," ucap Ayumi pelan kepada Bulan.
"Sepertinya Kak Kahfi itu menyukaimu Ay, bukan menyukai Rara, Bulan lihat dari raut wajahnya tidak menunjukkan kebahagiaan saat acara lamaran tadi berlangsung," ucap Bulan berasumsi karena kejadian tadi.
"Apa terlihat seperti itu?" tanya Ayumi sambil tersenyum simpul.
"Iya terlihat jelas, tatapan Kak Kahfi kepadamu itu beda, Bulan pelan perhatikan sejak berada di mobil," ucap Bulan pelan dan berusaha mengingat beberapa kejadian yang tidak sengaja menangkap tatapan penuh cinta dan mendamba dari seorang Kahfi untuk Ayumi.
"Mungkin itu hanya perasaanmu Bulan, Kak Kahfi itu mencintai Rara. Makanya Kak Kahfi melamar Rara," ucap Ayumi pelan dan terasa sesak mengucapkan kata-kata itu.
Bulan menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak, itu sebuah keterpaksaan, untuk apa Kak Kahfi pergi secara tiba-tiba setelah menyematkan cincin kepada Rara, padahal acara lamaran itu belum selesai," tanya Bulan kepada Ayumi dan menatap ke arah mata Ayumi.
Ditatap tajam oleh Bulan membuat Ayumi memalingkan wajahnya ke arah luar ruangan Kantin dan menatap air hujan yang sudah mulai berhenti turun dari langit.
"Kenapa tidak dijawab? Apa tidak bisa menjawab? Benar kan Kak Kahfi itu menyukaimu Ay, dan sekarang kamu dilema diantara Kakak beradik itu?" ucap Bulan memberikan penjelasan tentang asumsinya.
"Ayumi tidak bisa menjawab bukan karena Ayumi menutupi sebuah kebenaran, tapi Ayumi tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Ayumi tidak mau berandai-andai dengan perasaan, semua yang dekat pasti mempunyai maksud dan tujuan yang baik, dan bila itu disalahgunakan, Ayumi tidak bisa berbuat apa-apa," jawab Ayumi pelan sambil mengaduk-aduk cappucino yang baru saja dipesannya.
"Bulan paham Ay, perasaan seseorang tidak dipaksakan, semua itu anugerah, yang terpenting semua pengendalian ada di diri kita sendiri," ucap Bulan pelan.
Keduanya terdiam dan fokus pada secangkir cappuccino yang masih panas serta roti bakar keju sebagai teman cemilan di malam yang semakin dingin.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, kedua wanita bersahabat itu masih berbincang seru dan sesekali tertawa terbahak-bahak dari kejauhan.
Kahfi sudah setengah jam berdiri di samping taman dekat dengan Kantin Rumah Sakit Kasih Ibu. Kahfi menatap kedua wanita bersahabat itu, yang salah satunya adalah gadis pujaannya. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak dan tersenyum bahagia tanpa ada beban sedikitpun.
__ADS_1
'Apa memang tidak ada celah sedikitpun untukku Ay? Kenapa raut wajahmu tidak ada sedikit kekesalan ataupun kekecewaan,' batin Kahfi didalam hatinya.
Kahfi berjalan menuju pintu masuk Kantin Kenangan Rumah Sakit Kasih Ibu, untuk menjemput kedua sahabat sekaligus calon Kakak iparnya.
"Kalian disini rupanya? Bikin pusing aja, cari kemana-mana?" ucap Kahfi ketus menatap tajam kepada kedua perempuan itu.
Hatinya memang kesal, tapi bukan masalah ini sebenarnya.
Ayumi dan Bulan menoleh ke arah asal suara. Ada Kahfi yang sudah berdiri di dekat meja mereka.
"Kak Fi?" ucap Ayumi pelan dan terbata-bata.
"Kamu darimana saja Ayumi?" tanya Kahfi dengan ketus.
"Kak Fi, Ayumi baru saja siuman, tadi sempat terjatuh dan tidak sadarkan diri," ucap Bulan pelan menjelaskan.
Kahfi menatap Bulan lalu menatap Ayumi secara bergantian.
"Kamu kenapa? Tapi tidak apa-apa kan?" tanya Kahfi yang mulai terlihat panik.
"Apaan sih Kak, bukan muhrim," ucap Ayumi tegas dan mengelak saat disentuh oleh Kahfi.
"Kakak cuma mengecek keadaanmu dan kondisi kamu, Ay, gak perlu baper gitu," tegas kahfi kepada Ayumi.
"Beda yang udah lamaran sama tuker cincin kan, iya ka Lan?" goda Ayumi kepada Kahfi.
"Tentu saja dong, tandanya mau serius. Mana Abang Afnan, gak berani kan seektrim Kakak langsung melamar dan tunangan, kalian itu sebenarnya saling mencintai atau hanya obsesi saja," celetuk Kahfi.
Ayumi mendengar celetukan Kahfi yang terasa menyakitkan dalam hatinya. Rasanya sesak seperti ditusuk-tusuk oleh jarum.
"Karena Ayumi mau fokus dengan pendidikan dan cita-cita Ayumi," jawab Ayumi membela diri.
"Itu bukan suatu alasan yang kuat, kalau mau fokus ya fokus aja, jangan bawa-bawa hati dan perasaan, karena ujung-ujungnya yang disalahkan hati dan perasaan yang hadir selalu tidak tepat pada waktunya," ucap Kahfi menjelaskan.
__ADS_1
"Ayumi bukan tipe perempuan lebay seperti itu Kak Fi, sudah cukup jangan urusi dan campuri kehidupan pribadi Ayumi," ucap Ayumi dengan nada sedikit keras.
"Karena Kakak peduli sama kamu, sayang sama kamu, cinta sama kamu, Ay!" ucap Kahfi dengan keras hingga seluruh pengunjung kantin memandang ke arah mereka bertiga.
Ayumi yang sejak tadi duduk akhirnya beranjak berdiri untuk meninggalkan Kantin Kenangan. Beberapa memejamkan mata dan membuka mata kembali, dan menelan air liurnya beberapa kali karena terkejut dengan pengakuan Kahfi di depan umum termasuk di depan Bulan sahabatnya sekaligus saudara tiri Rara.
"Jangan ucapkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan didepan umum, Kak Fi, ini memalukan," ucap Ayumi pelan.
"Apa yang tidak pantas, Kakak tidak malu kalau ini semua sebuah kebenaran," ucal Kahfi dengan santainya.
"Ayumi benci dengan Kakak, benci sekali!" teriak Ayumi lalu berlari keluar dari Kantin Kenangan itu.
"Ayumi!!" teriak Bulan dengan keras.
Kahfi hanya berdiri mematung memandang Ayumi yang sesnag kesal dan menangis karena dirinya.
"Kak Fi tidak mengejar Ayumi, malah diam saja? Hargai perasaan wanita Kak, bukan seperti ini, kejujuran terkadang malah membuat runyam segalanya," ucap Bulan dengan tegas kepada Kahfi.
Bulan mengejar Ayumi yang berlari ke arah pintu depan Rumah Sakit Kasih Ibu. Sesekali Bulan berteriak memanggil nama Ayumi dengan sangat keras, namun Ayumi tidak merespon panggilan itu, sekedar menoleh pun juga tidak.
Kaki Ayumi terus berlari menuju halaman depan, berlari di area parkiran menembus malam yang dingin dengan sedikit rintik hujan yang masih terasa menetes di wajahnya.
"Ayumi!!" teriak Bulan semakin keras dan akhirnya bisa menarik lengan Ayumi untuk berhenti dan tidak berlari lagi.
Ayumi membalikkan tubuhnya dan memeluk Bulan dengan eratm Seketika tangisannya pecah dan berteriak histeris.
"Kenapa Ayumi yang harus merasakan sakit Bulan, kenapa?" teriak Ayumi dengan sangat keras.
Hati Ayumi benar-benar sakit mendengar ucapan Kahfi yang sangat menyakitkan itu.
"Sabar Ay, ada aku disini yang akan menemani kamu, Ay," ucap Bulan pelan.
Bulan mengusap punggung Ayumi dengan pelan saat punggung dan bahu Ayumi bergetar dengan hebat saat menangis.
__ADS_1
"Apa Ayumi cemburu? Apa Ayumi mencintai Kak Fi?, ucap Ayumi lirih kepada Bulan.
"Coba kamu sholat malam Ay, mintalah petunjuk kepada Allah SWT dari setiap masalahyang kamu hadapi saat ini, berikanlah yang terbaik. Tapi kalau masalah Kahfi, lebih baik jangan, Ayumi." ucap Bulan menjelaskan.