Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
70


__ADS_3

Setelah adzan shubuh dan melaksanakan sholat shubuh secara mandiri di kamar hotel masing-masing, Ayumi bersama keluarga Kahfi pun melakukan perjalanan pulang kembali ke kota Yogyakarta.


Sepanjang perjalanan tampak sepi dan udara masih terasa sangat segar setelah semalaman hujan mengguyur seluruh kota Solo.


Bunda Icha membuka plastik yang berisi kue-kue yang dibelinya di minimarket hotel sebelum pulang.


"Ayumi mau roti rasa apa?" tanya Bunda Icha pelan kepada Ayumi.


"Cokelat saja Bunda," jawab Ayumi pelan dan menerima satu buah roti dan satu botol air mineral.


Bunda Icha membagikan roti dan air mineral itu untuk Kyai Toha, suaminya dan Kahfi, putra bungsunya.


Jalanan yang masih gelap dan lengang membuat Kahfi bisa memangkas waktu perjalanan dengan sangat cepat. Perjalanan yang seharusnya ditempuh dengan waktu tiga jam, ini hanya ditempuh dengan waktu dua jam saja.


Selama dalam perjalanan Ayumi hanya terdiam, perasaannya sejak tadi sudah tidak enak dan tak menentu. Degub jantung Ayumi juga terasa lebih cepat dari biasanya, dadanya juga sedikit sesak.


"Ayumi, cepat habiskan rotinya," ucap Bunda Icha menitah pelan.


Melihat roti isi cokelat itu hanya digigit sedikit demi sedikit seperti orang yang sedang sakit tidak mau mengunyah makanan.


Ayumi menoleh ke arah Bunda Icha yang masih menghabiskan suapan terakhir roti yang ada ditangannya.


"Iya Bunda," jawab Ayumi pelan dan menggigit roti itu dengan gigitan yang lebih besar dan banyak.


Satu jam kemudian mobil Kahfi sudah memasuki kota Yogyakarta dan melaju menuju kecamatan tempat tinggal Ayumi dan keluarga Kahfi.


Tidak sampai lima belas menit, mobil Kahfi sudah memasuki gang menuju rumah Nenek Arsy.


Tampak ramai orang-orang yang datang dan pergi dari arah rumah Nenek Arsy.


"Ada apa ya Bunda, kok ramai-ramai, perasaan Ayumi kok gak enak," ucap Ayumi lirih.

__ADS_1


Semakin mobil Kahfi mendekati rumah Nenek Arsy semakin kencang kinerja jantung Ayumi. Aliran darahnya terus mengalir ke arah kepala dan terasa pening sekali.


Bendera kuning mulai terlihat berkibar di depan pagar besi, kedua mata Ayumi menatap rumah Nenek Arsy yang sudah penuh sesak orang-orang di sekitar kampungnya.


Mobil Kahfi berhenti tepat di depan pagar besi, Ayumi langsung membuka pintu mobil dan keluar lalu menaiki tangga teras depan dan masuk ke dalam rumah.


Terlihat jelas wajah Nenek Arsy yang begitu tenang dalam tidurnya terbujur kaku di atas tikar anyaman. Wajahnya sudah memutih dan sudah tertutupi kapas di sekitar lubang-lubang yang ada di tubuh Nenek Arsy.


Kain kafan sudah disiapkan di samping jenazah Nenek Arsy.


Ayumi masuk langsung menatap segala arah seperti mencari sosok Nenek Arsy Ayumi tidak percaya jika Nenek Arsy sudah terbaring tidak bernyawa di depannya.


"Nenek!!" teriak Ayumi dengan sangat keras tanpa menghiraukan orang-orang yang ada disekitarnya.


Bunda Icha berlari dan mendekati Ayumi yang duduk bersimpuh di depan jenazah Nenek Arsy.


Salah seorang kipayah memegang erat tubuh Ayumi agar tidak mendekati atau menyentuh jenazah yang sudah dimandikan saat berurai air mata.


"Sudah Ayumi, jangan ditangisi terus, kasihan Bu Arsy pasti sedih melihat cucunya menangis," ucap Ibu Kipayah dengan pelan sambil memeluk Ayumi yang memegang tubuh Nenek Arsy dengan satu tangannya.


Bunda Icha masuk ke dalam rumah Nenek Arsy dan memeluk Ayumi dari belakang.


"Maafkan Bunda, Ay," ucap Bunda Icha dengan lirih dekat telinga Ayumi.


Tubuh Ayumi disandarkan ke bahu Bunda Icha, yang makin lama makin terasa berat, suara tangisannya pun terhenti seketika.


"Mbak Ayumi tidak sadarkan diri, itu cepat bawa ke kamarnya," ucap salah satu Ibu tetangga sebelah rumah Ayumi.


Kahfi yang sejak tadi masuk ke dalam dan berdiri di dekat pintu masuk itu pun segera berlari menghampiri Bunda Icha yang sedang menahan tubuh Ayumi yang sudah tidak sadarkan diri.


Kahfi dengan cepat mengangkat tubuh mungil Ayumi dan menggendongnya ke kamar tidur milik Ayumi.

__ADS_1


Dibaringkannya tubuh Ayumi di kasur. Bunda Icha menemani Ayumi dan memijat kaki Ayumi pelan. Minyak kayu putih di oleskan di indera penciuman Ayumi agar cepat tersadar dari tidur panjangnya.


Jenazah Nenek Arsy sudah di kafani dan sebentar lagi akan dikebumikan.


Ayumi masih terbaring lemah dengan wajah pucat dan tubuhnya masih lemas. Kedua matanya sesekali terbuka, lalu menutup lagi. Sesekali berteriak histeris menyebut nama kedua orang tuanya secara bergantian dan nama Nenek Arsy secara keras. Sesekali menangis sesegukan dan memukul-mukul kasurnya dengan kepalan tangannya.


Kahfi menatap Ayumi dengan perasaan iba, ingin rasanya memeluk gadis pujaannya ini, dan memberikan bahunya untuk bersandar.


"Bunda, Kahfi buatkan teh manis dan bubur untuk Ayumi, Bunda tunggu disini saja," ucap Kahfi pelan.


Kahfi berjalan menuju dapur rumah itu, dan mulai membuat bubur sederhana dan teh manis panas untuk Ayumi.


Kahfi sudah masuk kembali ke kamar Ayumi dan meletakkan satu nampan besar berisi dua mangkuk bubur dan dua gelas teh manis panas untuk Ayumi dan Bunda Icha.


"Bunda makan dulu buburnya, nanti Bunda sakit, Bunda kan harus menemani Ayumi sementara waktu ini," ucap Kahfi pelan kepada Bunda Icha.


Bunda Icha mengangguk pelan dan menyelimuti seluruh tubuh Ayumi dengan selimut tebal. Bunda Icha duduk di kursi meja rias dan mulai memakan bubur buatan Kahfi dan meneguk air teh panas sedikit demi sedikit.


Bunda Icha masih menatap Ayumi yang belum juga tersadar sepenuhnya.


Hari sudah semakin siang, Kyai Toha sudah menemani selama jenazah di kebumikan. Kahfi sibuk membersihkan rumah Nenek Arsy dibantu oleh beberapa pemuda dia sekitar kampungnya dan menyiapkan tempat untuk tahlil nanti malam.


Kedua mata Ayumi membuka dengan lebar, tatapannya kosong ke arah atas langit-langit kamarnya lalu berteriak histeris memanggil Nenek Arsy dengan keras.


Bunda Icha langsung menghampiri Ayumi dan memeluk gadis itu dengan erat.


"Sudah Ay, yang sabar, ini semua salah Bunda, kalau saja Bunda tidak memaksa untuk menginap tidak akan seperti ini jadinya," lirih Bunda Icha dengan sedih.


Kahfi berlari menuju kamar Ayumi setelah mendengar teriakan histeris Ayumi yang jelas terdengar sampai ke luar ruangan.


Kahfi menatap Ayumi dari kejauhan yang terlihat seperti orang kesurupan. Ayumi benar-benar terpuruk, dan sedang merasakan di titik terendah, dimana semua anggota keluarganya yang paling Ayumi sayang telah berpulang menuju di keabadian.

__ADS_1


"Ayumi kenapa Bunda?" tanya Kahfi yang terlihat sangat panik.


"Bunda tidak tahu Fi," ucap Bunda pelan dan seperti orang kebingungan.


__ADS_2