Bulan Di Antara Bintang

Bulan Di Antara Bintang
78


__ADS_3

Kahfi membaca pesan dari Rara hingga tuntas, cukup panjang memang curahan hati Rara bukan untuk menghakimi Kahfi karena mencintai yang lain, namun lebih menenangkan diri Rara sendiri bahwa tiba saatnya nanti Kahfi bisa mencintai dirinya juga seperti Kahfi mencintai Ayumi.


Kahfi menutup pesan Rara dan keluar dari aplikasi chat itu tanpa membalas pesan Rara. Bukan ingin mengabaikan pesan yang berasal dari Rara, namun Kahfi tidak ingin memberikan celah sedikitpun dengan suatu perhatian yang bisa membuat Rara salah paham.


Kahfi hanya berusaha menjadi orang yang baik tanpa menyakiti. Benar ucapan Rara yang mengatakan bahwa Rara hanya bisa memiliki Raga Kahfi tapi tidak dengan hati dan cinta Kahfi yang tulus.


Tubuh Kahfi disandarkan pada kursi besi yang ada di teras, kepalanya menengadah ke atas dan matanya di pejamkan. Terasa penat dan pening setelah membaca pesan singkat dari Rara yang berisikan tentang curahan hatinya. Memilih hanya untuk sebuah status bukan karena memang ingin memiliki seutuhnya karena sebuah ketulusan, tapi hanya sebuah keikhlasan demi suatu kebahagian.


'Apa caraku salah? Tanpa harus jujur, semua orang tetap tahu kepada siapa cinta dan hatiku berlabuh saat ini dan untuk selamanya. Apa yang harus Kahfi lakukan Ya Rabb. Semua ini takdir yang harus dijalani, tinggal bagaimana kita menyempurnakan takdirku dengan cara menjalaninya secara ikhlas dan pasrah,' batin Kahfi didalam hati.


Tin ...


Tin ...


Suara deru mobil dan klakson yang berbunyi sangat nyaring membuyarkan lamunan Kahfi malam itu.


Mobil berukuran besar yang bisa menampung sekitar dua puluh orang itu sudah terparkir cantik di halaman depan teras. Semua penumpang yang berisikan anak-anak yatim piatu sudah turun dari mobil dan memandang Rumah Singgah dengan perasaan bahagia.


Kahfi membuka matanya, dan melihat siapa yang datang. Suara riuh anak-anak yatim piatu yang dijemput oleh Kyai Toha sudah datang ke Rumah Singgah.


"Assalamu'alaikum, Fi, Bunda mana?" tanya Bapak yang sudah menaiki tangga teras.


Kahfi beranjak dari duduknya dan menatap Kyai Toha lalu tersenyum.


"Waalaikumsalam, ada di dalam Pak," jawab Kahfi dengan sopan dan mencium punggung tangan Kyai Toha penuh hormat.


Kyai Toha langsung masuk ke dalam mencari keberadaan istrinya. Bu Siti dan Bu Sri yang baru saja datang membeli kebutuhan pokok dan kebutuhan sehari masih merapikan semua bahan-bahan yang baru saja dibelinya ke dalam rak atau lemari yang sudah disediakan.


"Bunda, itu anak-anak sudah pada datang, tolong bantu untuk memberikan pengarahan kepada anak-anak itu," ucap Kyai Toha menitah kepada Bunda Icha, istrinya.

__ADS_1


"Ya, Mas nanti Bunda ke depan," jawab Bunda Icha pelan.


"Bu Siti, Bu Sri, yuk kita ke depan, anak-anak sudah datang," panggil Bunda Icha lalu keluar dari dapur menuju ruang tamu.


Sudah ada Kahfi, Kyai Toha dan sepuluh anak-anak yatim piatu yang akan tinggal. Rata-rata usianya masih kecil sekitar empat tahun hingga sepuluh tahun secara acak.


"Assalamu'alaikum, hallo anak-anak Bunda semua, sekarang kalian duduk dulu, Bunda buatkan minuman dan makanan baru kita berkenalan," ucap Bunda Icha penuh semangat.


"Waalaikumsalam Bunda," jawab mereka semua secara serentak dan kompak.


Bu Siti dan Bu Sri keluar dari dapur menuju ruang tamu dengan membawa masing-masing satu nampan besar membawa minuman dan makanan ringan untuk anak-anak yatim piatu yang akan tinggal di Rumah Singgah ini.


"Anak-anak ini makanan dan minumannya silahkan dimakan dan diminum, sekalian Ibu akan memperkenalkan Bunda Icha sebagai Bunda kalian disini," ucap Bu Siti yang sudah mengenal anak-anak sejak berada di Panti Asuhan Mandiri.


"Bunda ini, tiga anak yang berkebutuhan khusus, mereka tampak sama seperti yang lain tapi mereka tidak bisa menerima sesuatu dengan cepat bahkan tidak bisa sama sekali," ucap Bu Sri setengah berbisik menunjuk pada tiga anak yang harus diperhatikan secara khusus.


Semua anak-anak itu tampak bahagia terlebih mereka mendapatkan sesuatu yang berbeda dari tempat sebelumnya, baik dari segi tempat tinggal yang lebih nyaman karena hanya di huni beberapa orang saja sehingga tidak terasa penuh dan sesak. Dari segi yang lain pastinya akan lebih baik dari tempat sebelumnya juga.


"Bu Siti kami lapar, tadi belum makan malam," ucap Lulu gadis kecil yang lucu.


Bu Siti tersenyum lebar, jadwal makan malam terlupa karena terlalu asyik berkenalan dan bercerita tentang mereka pada Bunda Icha.


"Ayo, sekarang ikut Bu Sri, kita pergi ke ruang makan untuk makan malam, ada apa disana ya," ucap Bu Sri dengan semangat.


Semua anak-anak berhamburan mengikuti Bu Sri menuju ruang makan untuk makan malam bersama.


Semua sudah duduk rapi di kursi meja makan, dan berdoa bersama sebelum makanan untuk makan malam dibagikan oleh Bu Sri untuk anak-anak.


Setelah berdoa, Bu Sri dan Bu Siti membagikan nasi, sayur, lauk Pauk, buah dan segelas air putih.

__ADS_1


"Bagaimana sayur sop-nya? enak?" tanya Bu Siti di sela-sela makan bersama itu.


Bunda Icha menatap semua anak-anak yang sedang makan secara bergantian. Rasanya sangat sedih, masih sekecil itu sudah menjadi anak-anak yatim piatu, dan harus tumbuh kembang seorang diri tanpa kasih sayang dari orang tua dan keluarga.


Bunda Icha kembali menuju ruang tamu dan meneguk teh hangat yang tadi sempat dibuat dan belum diminum.


"Bunda, kenapa?" tanya Kahfi pelan yang duduk berhadapan di sofa ruang tamu.


Bunda Icha menghela napas panjang dan mengeluarkannya perlahan.


"Bunda sedih Fi, lihat anak-anak yatim piatu itu, mereka harus berjuang sendiri tanpa kedua orang tua dan sanak saudara, itu menyedihkan Fi," ucap Bunda Icha lirih.


"Sudahlah Bunda, yang penting saat ini kita akan mengurus dan merawat mereka dengan baik," ucap Kahfi pelan kepada Bunda Icha.


"Kalau kamu lihat mereka makan Fi, anak-anak itu terlihat polos apa adanya, kalau masih lapar mereka minta lagi, kalau gak suka atau gak enak mereka juga bilang secara jujur dan apa adanya," ucap Bunda Icha pelan dengan raut wajah yang sedih.


"Iya Bunda, Fi sangat paham," ucap Kahfi pelan.


Setelah acara makan malam selesai, semua anak-anak itu bermain di ruang tengah. Ruang tengah itu disulap menjadi ruang belajar dan bermain, ruang tengah itu dibiarkan kosong di bagian tengah hanya di alasi karpet berbulu untuk duduk santai.


Dipojokkan ada dua rak buku, rak pertama berisi buku-buku tentang ilmu pengetahuan, termasuk sejarah tentang Islam dan buku agama lainnya, dan rak kedua berisi tentang buku-buku fiksi, seperti majalah, buku cerita atau dongeng dan novel.


Di ujung sebelah kiri ada kotak besar yang berisi mainan yang mengasah otak, seperti catur, puzzle, congklak, dan lain sebagainya.


Fasilitas untuk belajar dan bermain sangat lengkap. Semua itu disediakan untuk memotivasi anak-anak agar mau belajar dan semangat mempelajari hal-hal baru dengan baik.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, sudah saatnya anak-anak itu untuk beristirahat malam.


Semua sudah mengganti pakaiannya dan mencuci kaki serta menggosok gigi mereka. Ada dua kamar yang digunakan, yang satu kamar untuk anak-anak yatim piatu yang perempuan dan yang satu kamar lagi untuk anak-anak yatim piatu lelaki.

__ADS_1


Semua anak-anak sudah tertidur pulas dalam waktu yang singkat. Kini giliran Bu Siti dan Bu Sri membereskan rumah agar besok pagi sudah bersih kembali saat anak-anak terbangun.


Bunda Icha, Kahfi dan Kyai Toha berpamitan untuk kembali pulang ke rumah. Mungkin sesekali waktu akan menengok anak-anak disini dan memberikan semua yang dibutuhkan oleh anak-anak.


__ADS_2