
Dokter yang biasa menangani Rara sudah datang sejak tadi dan sudah berada di dalam kamar Rara untuk memeriksa kondisi dan keadaan Rara pasca tidak sadarkan diri tadi.
Sudah setengah jam lamanya Dokter dan satu perawat perempuan masih berada di dalam kamar dan tidak kunjung keluar. Hanya ada Bunda Icha yang sejak tadi berada di dalam menemani Rara yang masih belum sadarkan diri.
Kahfi sejak tadi merasa bersalah, hanya bisa berjalan mondar-mandir di depan kamar tidur Rara dengan perasaan panik dan cemas akan kondisi Rara, pikiran Kahfi juga semakin kalut dan kacau, kala mendengar suara rintihan lirih dari bibir Rara yang berada di dalam kamar.
Entah bagaimana perasaan Kahfi saat ini, antara lega bercampur bingung, lega karena gadis polos itu sudah sadar namun masih bingung dan cemas akan kondisinya kini, mengapa bisa merintih seperti itu, terasa menahan rasa sakit yang luar biasa.
Tidak lama kemudian Dokter yang biasa menangani Rara sudah keluar dari kamar tidur Rara, hanya saja perawat perempuan yang ikut bersama dokter itu masih berada di dalam bersama Bunda Icha.
Kahfi melihat pintu kamar terbuka dan terlihat dokter itu keluar dari kamar Rara dengan wajah yang biasa saja dan tidak menampakkan binar kebahagiaan.
Kahfi menghampiri dokter itu dan mengajaknya duduk bersama dengan yang lainnya di ruang tengah untuk menjelaskan kondisi Rara saat ini.
"Bagaimana keadaan Rara saat ini dokter? Apakah sudah sadar? Kenapa tadi Rara merintih seperti itu? Apa yang terjadi?" tanya Kahfi dengan cemas secara bertubi-tubi kepada Dokter itu.
__ADS_1
Dokter itu hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan dan tersenyum kecut kepada Kahfi yang terlihat panik dan cemas.
"Apa yang sebenarnya terjadi tadi, hingga Rara bisa jatuh dan tidak sadarkan diri?" tanya dokter itu dengan tegas sambil menatap tajam satu per satu orang yang ada di ruang tengah itu.
Semua mata menatap Kahfi, karena Kahfi orang terakhir yang ada bersama Rara hingga tidak sadarkan diri.
Kahfi menunduk saat semua pasang mata menatapnya dengan sangat tajam. Mereka tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, yang mereka tahu, pasti ada sesuatu perdebatan yang membuat situasi dan kondisi Rara terpuruk hingga drop terjatuh dan pingsan.
"Maafkan Kahfi, kita sempat berdebat parah dengan satu masalah yang selalu kita hadapi sejak awal. Kahfi yang salah, Kahfi yang tidak mau mengerti kondisi Rara, Kahfi yang memang harus mengalah dan Kahfi yang harus berkorban dengan kondisi ini, biar Kahfi yang menanggung semuanya!!" teriak Kahfi dengan suara keras dan lantang hingga Bunda Icha keluar kamar tidur itu dan memeluk Kahfi yang sudah berurai air mata.
Putra bungsu kesayangannya itu adalah lelaki kuat yang tidak mudah menitikkan air mata walaupun sedang bersedih, Kahfi akan selalu menutupi kesedihannya dengan candaan dan melucu di setiap kesempatan agar kesedihannya bisa terlupakan, agar rasa sakit dan kecewanya bisa hilang dengan tersenyum dan tertawa.
Kahfi sudah berada di pelukan Bunda Icha, rasanya sangat nyaman sekali dipelu Bunda, walauoun sudah sebesar ini, Kahfi masih manja dengan Bundanya. Bagi Kahfi, Bunda adalah wanita yang harus dihormati dan dihargai perasaannya. Jadi apapun titah dan nasihat Bunda Icha akan selalu didengarkan dan dijalankan oleh Kahfi.
"Saudara Kahfi, bukankah beberapa hari yang lalu, sudah saya ungkapkan untuk tidak membuat Rara berpikir keras, atau bekerja keras melampaui batas kemampuannya, hal itu akan memicu kesehatannya yang sudah tidak baik. Buatlah Rara senyaman, dan sebahagia mungkin agar pikirannya tenang dan hatinya adem merasa bahagia. Buatlah Rara seperti dihargai, dicintai, dibutuhkan dan disayangi, hanya itu yang bisa membuat Rara bisa bertahan hidup di sisa umurnya yang tidak lama lagi. Penyakit ini adalah penyakit serius dan Rara sudah berada di level tingkat yang paling tinggi, jadi jangan heran bila tiba-tiba tubuhnya kaku dan dingin, wajahnya memucat dan bibirnya tampak kering dan memutih, itu sebuah respon negatif dari tubuhnya, dan bila itu terjadi maka langsung mencari pertolongan pertama tanpa ada kepanikan, yang penting cari bantuan," ucap dokter itu menitah dan menjelaskan secara detil.
__ADS_1
Kahfi dan Bunda Icha sejak tadi menyimak ucapan dan penjelasan dari dokter yang biasa menangani Rara dengan baik. Pelukan Bunda Icha mengendur dan membiarkan Kahfi bisa menghirup oksigen yang lebih banyak agar pikirannya lebih jernih.
"Lalu, bagaimana kondisi Rara saat ini, dokter?" tanya Kahfi pelan kepada dokter itu masih dengan raut wajah yang panik dan cemas.
Dokter itu hanya mengangguk pelan.
"Rara sudah sadar, tapi kondisinya memang sangat lemah sekali. Saat ini sedang mendapatkan perawatan intensif, dengan infusan dan obat yang disuntikkan ke dalam tubuhnya agar membantu memulihkan tenaganya kembali. Ingat pesan saya, buatlah Rara bahagia, jangan sekali-kali memberikan berita buruk atau duka termasuk sisa umurnya yang tidak akan lama lagi, karena ini akan menjadi momok pikirannya dan menggerogoti kesehatan di dalam tubuhnya," tegas dokter itu memberikan nasihat.
Kahfi menganggukkan kepalanya pelan. Dalam hatinya berjanji untuk tidak egois lagi terhadap Rara. Lebuh baik Kahfi mengalah dan menjalani ini semua dengan ikhlas, mungkin takdir Kahfi berbeda dengan keinginannya, dan saat ini yang terjadi pada diri Kahfi, inilah yang terbaik dari Allah SWT untuk Kahfi.
"Kita tunggu setengah jam lagi, untuk melepaskan alat infusnya dan melihat reaksi obat uang sudah menjalar di dalam tubuhnya. Semoga setelah ini, tidak ada lagi kejadian buruk seperti ini. Sisa umur Rara bukan isapan jempol, kalian bisa lihat kondisi Rara saat ini, bahkan kalau Allah SWT mengijinkan, Rara bisa saja pergi untuk selamanya hari ini juga," uavp dokter itu menjelaskan.
Semua orang yang ada di ruang tengah itu hanya terdiam mendengarkan penjelasan dokter itu dengan baik, menyimpan semua nasihat itu dengan baik.
Bunda Icha masih duduk di samping Kahfi dan mengusap punggung putra bungsunya itu dengan pelan dan sangat lembut. Kasih sayang seorang Ibu tentu tidak pernah ada batasnya, sama seperti kesabaran seorang Ibu yang selalu sabar tak berbatas waktu kepada anak-anaknya, walaupun anak-anaknya itu sudah banyak menyakiti hati Ibunya.
__ADS_1
Kahfi menatap Bunda Icha dengan wajah sendu, berharap Bundanya bisa memberikan solusi terbaik atas permasalahan yang sedang dihadapi oleh Kahfi.
Kedua mata Kahfi sudah memerah dan basah sejak tadi. Senyuman tampannya Dengan lesung pipi di kedua pipinya juga tidak kunjung terbit. Kahfi benar-benar kacau dan kalut.